Pertamina Akan Genjot Produksi Migas

Senin, 17/03/2014

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengaku telah menyiapkan investasi sebesar US$ 3,75 miliar atau sekitar Rp 42,58 triliun untuk menggenjot produksi Minyak dan Gas Bumi (Migas) dan panas bumi sepanjang tahun ini. Anggaran investasi yang dialokasikan BUMN terbesar di Tanah Air ini lebih tinggi dari realisasi investasi 2013 sebesar US$ 3,02 miliar. “Anggaran ini setara dengan 48% rencana capex tahun ini sebesar US$ 7,8 miliar,” kata VP Corporate Communication PT Pertamina, Ali Mundakir dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Anggaran Investasi tersebut akan digunakan untuk membiayai lebih dari 600 proyek hulu Pertamina di tahun 2014. Tak hanya di dalam negeri, Pertamina juga akan mengembangkan proyeknya di luar negeri, onshore maupun offshore, dari migas hingga panas bumi. Ali menegaskan, anggaran investasi tersebut belum termasuk untuk akuisisi hulu guna memacu pertumbuhan cadangan dan produksi migas sesuai RJPP 2012-2016.

Pertamina tahun ini menargetkan produksi minyak sebesar 280,2 mbopd yang terdiri 220,7 mbopd dari wilayah kerja eksisting, dan 59,5 mbopd dari akuisisi. Adapun, produk gas ditargetkan sebesar 1.568 mmscfd dan panas bumi sebesar 3.036 Gwh. Beberapa proyek hulu yang akan digarap tahun ini, antara lain pengembangan sumur di Blok ONWJ (YY dan FSB) dengan perkiraan tambahan produksi 5.300 bopd dan 27 mmscfd, pengembangan 6 lapangan di Blok WMO secara serentak, dan menjadi yang pertama di dunia (KE 6/7, 12, 14, 29, 48, dan 44).

Adapun, pengembangan lapangan Paku Gajah, Pertamina EP (berdekatan dengan Pagar dewa dan telah memulai Put of Production sejak 2010 dengan produksi 24 mmscfd dan 488 bopd), dengan pengeboran 3 sumur yg diharapkan hasilkan produksi peak 45 mmscfd pada 2015.

Di tengah anggaran untuk Pertamina meningkat, Pertamina memproyeksikan produksi minyak mentah di 2014 mencapai 228 ribu barel per hari (bph). Peningkatan ini sejalan dengan aksi korporasi yang dlakukan hingga ke luar negeri. "Kita optimislah target lifting minyak sebesar 228 ribu bph di tahun ini tercapai," kata Ali.

Menurut Ali, Pertamina kini fokus untuk meningkatkan produksi minyak sebagai bagaian untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Upaya yang dilakukan perseroaan salah satunya dengan mengakuisi lapangan minyak di Aljazair.

Pertamina telah mengakuisisi Blok 405a yang terdiri dari tiga lapangan minyak utama, yaitu Menzel Lejmat North (MLN), EMK, dan Ourhoud, milik ConocoPhilips di Aljazair. Dari Blok 405a Aljazair tersebut, dalam sebulan Pertamina dapat menghasilkan lebih dari 600.000 barel Sahara Crude yang merupakan crude oil kualitas tinggi.

Meski ada kenaikan anggaran di 2014, akan tetapi pertumbuhan laba Pertamina selama tiga tahun terakhir semakin menyusut. Di 2011 mencapai 30%, di 2012 sebanyak 15% dan tahun lalu hanya 11 %. Secara nominal, sepanjang 2013 laba bersih Pertamina terus meningkat yakni sebesar US$ 3,07 miliar atau Rp 32,05 triliun. Di 2012 Rp 25,89 triliun dan di 2011 Rp 24,6 triliun. Namun secara persentase, pertumbuhan tahun ini merupakan yang terendah dalam empat tahun terakhir.

Turunnya pertumbuhan laba bersih tersebut juga tercermin dari pertumbuhan pendapatan perseroan. Pada 2013 pendapatan yang berhasil dibukukan perusahaan migas pelat merah ini mencapai US$ 71,1 miliar atau hanya naik 0,3% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan Pertamina tertinggi terjadi pada 2011 yang mencapai 40%, sedangkan pada 2012 kenaikannya hanya 5,4%.

Perseroan mengklaim pertumbuhan laba bersih yang semakin kecil akibat dari kerugian bisnis elpiji non subsidi 12 kg. Total kerugian dari sektor bisnis ini mencapai Rp 5,7 triliun atau berkontribusi 18 persen dari total laba bersih perseroan. Karena ingin menjadi perusahaan energi kelas dunia, Pertamina tak mau merugi terus. “Makanya, Pertamina secara bertahap menaikkan harga elpiji 12 kg hingga 2016,” Karen Agustiawan, Direktur Utama Pertamina.