Mengelola Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 17/03/2014

Oleh : Prof. Firmanzah, PhD

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Saat ini muncul tantangan baru tidak hanya bagi negara berkembang dan emerging, tetapi juga bagi negara maju. Tantangan tersebut adalah menjaga keseimbangan antara target pertumbuhan ekonomi dengan indikator makro lainnya. Di satu sisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi semakin memperbesar penyerapan tenaga kerja, mendorong industrialisasi dan investasi, serta meningkatkan daya beli masyarakat secara agregat.

Namun di sisi yang lain, mendorong pertumbuhan ekonomi sangat tinggi juga berisiko meningkatkan defisit anggaran, proporsi utang karena kebutuhan investasi yang tinggi serta melebarnya defisit neraca perdagangan dan pembayaran.

Bagi Indonesia saat ini upaya menjaga keseimbangan antara menjaga level pertumbuhan ekonomi tanpa membahayakan fundamental ekonomi merupakan prioritas utama. Hal ini semakin penting ketika ketidakpastian ekonomi dunia juga masih sangat tinggi. Perlambatan ekonomi dialami tidak hanya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tetapi juga kekuatan ekonomi Asia seperti China, Jepang dan India juga mengalami hal yang sama. Kondisi ini perlu kita antisipasi melalui penguatan fundamental ekonomi nasional.

Risiko pembalikan modal (capital-outflow) sepanjang tahun 2014 masih sangat tinggi. Risiko ini akan semakin besar ketika fundamental ekonomi suatu negara dianggap rentan oleh investor. Sehingga mengejar target pertumbuhan ekonomi juga harus memperhatikan indikator lainnya seperti defisit fiskal, pengelolaan utang yang sehat, inflasi yang terkendali, penguatan cadangan devisa, dan menjaga neraca perdagangan dan pembayaran secara positif. Sehingga kita akan mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dengan tidak membahayakan fundamental ekonomi.

Sepanjang tahun 2013, Indonesia dilihat sebagai satu dari sedikit negara di dunia yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa membahayakan fundamental ekonomi. Realisasi pertumbuhan mencapai 5,78% dan sejumlah indikator lainnya juga terjaga. Defisit perdagangan selama tiga bulan terakhir 2013 dapat dikembalikan menjadi surplus dari semula defisit. Sementara investasi baik di sektor riil maupun sektor keuangan terus masuk ke pasar domestik. Sementara itu, cadangan devisa juga terus meningkat. Proporsi utang baik terhadap PBD maupun nilai ekspor juga terjaga dalam rentan yang aman.

Di tahun ini upaya stabilisasi seraya menjaga ruang ekspansi ekonomi nasional masih tetap akan dilakukan. Kesehatan fiskal dan moneter akan terus dijaga dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Terkadang penurunan target pertumbuhan ekonomi perlu dilakukan agar tidak terjadi overheating-economy sehingga kesehatan fiskal, moneter dan kesejahteraan riil masyarakat tetap terjaga. Bauran kebijakan moneter dan fiskal akan terus dilakukan melalui koordinasi kebijakan yang telah terbukti mampu membawa ekonomi Indonesia melewati krisis ekonomi dunia pada tahun 2008 dan 2012-2013.