Rusia Siap Bantu Bangun Rel Kalimantan

Janji Kucuri US$ 2,5 Miliar

Selasa, 02/08/2011

Janji Kucuri US$ 2,5 Miliar

Rusia Siap Bantu Bangun Rel Kalimantan

Jakarta - Rusia berkomitmen membiayai pembangunan rel kereta di Kalimantan. Dana yang dijanjikan mencapai US$ 2,5 miliar. “Ada perusahan Rusia yang tertarik membangun rel kereta api dari Kalimantan Tengah ke Kalimantan Timur," kata Deputi Bidang Koordiasi Kerjasama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Affandi Lukman kepada wartawan di Jakarta,1/8.

Rizal menambahkan sebuah perusahaan asal Rusia tertarik untuk membangun rel kereta api yang menghubungkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Alasanya transportasi ini akan digunakan untuk mengangkut batu bara. “Utamanya untuk mengangkut batu ara yang ada di sana,” tegasnya.

Lebih jauh Rizal meyebutkan, investasi yang akan dikeluarkan Rusia untuk membangun rel sepanjang 135 Km ini ditaksir mencapai US$ 2,5 miliar. ."Nilainya US$ 2,5 miliar. Ini dapat disepakati pemerintah Rusia, pemerintah Indonesia, dan Pemda di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang akan dilewati oleh rel tersebut," jelasnya.

Rencananya, lanjut Rizal, penandatangan nota kesepahaman (MoU) akan dilaksanakan sekitar bulan November 2011 di Bali ketika Presiden Rusia datang berkunjung ke Indonesia. "MoU-nya akan ditandatangani pada saat kunjungan Presiden Rusia berkunjung ke Bali bulan November, itu Asia Summit," tuturnya.

Dikatakan Rizal, rel kereta api tersebut direncanakan dapat dirampungkan dalam jangka waktu 3-5 tahun setelah penandatangan. Rencana selanjutnya, rel kereta api itu tidak hanya dikhususkan untuk batubara, tetapi juga dapat digunakan untuk transportasi masyarakat. "Targetnya tentu kalau bisa dalam 3-5 tahun setelah penandatangan, kan tidak bisa tanda tangan langsung bangun. Mudah-mudahan bisa dipakai juga untuk angkut orang, saat ini khusus untuk batubara saja," imbuhnya.

Menurut Rizal, saat ini total perdagangan dengan Rusia terbilang sangat rendah ketimbang dengan negara lainnya, yakni sebesar USD1,7 miliar pada 2010. Namun menjelang lima bulan pertama, telah terjadi kenaikan yang cukup singnifikan. "Tahun ini dalam lima bulan pertama itu meningkat lebih dari 50 persennya dibandingkan dengan tahun sebelumnya," jelasnya.

Selain infrastruktur, Affandi juga mengatakan pemerintah Indonesia juga berharap akan adanya impor tepung terigu dari Rusia. "Saat ini memang sudah ada dan mudah-mudahan dapat dilakukan secara continue. Ini untuk menambah alternatif bagi Indonesia , tidak hanya mengimpor dari Australia dan Turki," urainya.

Dijelaskan Rizal, dengan adanya suplai dalam jumlah besar secara terus-menerus maka akan menguntungkan untuk pasar Indonesia , pasalnya dengan banyaknya importir yang mensuplai tepung terigu artinya harga akan lebih kompetitif. "Ini tujuannya dari pak Menko untuk tetap mengharapkan suplai import dari Rusia untuk terus berlangsung," tandasnya.

Yang jelas, kata Rizal lagi, hal yang sama juga ditemui dalam bidang investasi. Sampai dengan 2009, Rusia hanya mencapai US$ 360 ribu yang dibagi dalam bidang transportasi, pergudangan, komunikasi, dan sektor jasa lainnya. "Sedikit sekali kan perusahaan Rusia yang ada di sini," ujarnya.

Rizal mengugkapkan banyak produk-produk industri Indonesia yang memang sangat potensial untuk diperdagangkan di Rusia, mengingat produk-produk asal Rusia sangat berbeda dengan Indonesia (komplementer). "Produk-produk light industri seperti tekstil garmen, sepatu, elektronik kita sangat potensial di sana," tuturnya. **cahyo