Rezim Bunga Tinggi Tidak Bermanfaat - SUKU BUNGA BI RATE SEHARUSNYA DITURUNKAN

Jakarta – Sejatinya di saat nilai tukar (kurs) rupiah terhadap US$ menguat tajam belakangan ini dan masih terjaganya inflasi yang cukup rendah, Bank Indonesia dapat memanfaatkan momentum untuk penurunan suku bunga acuan (BI Rate) ke tingkat yang lebih rendah lagi, bukan terus mempertahankan 7,5% dalam 5 bulan berturut-turut. Jika bunga BI Rate menurun, penyaluran kredit di sektor UKM bisa lebih lancar mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, dan mampu menekan tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan-NPL) perbankan menjadi lebih rendah.

NERACA

Menurut pengamat ekonomi yang juga Rektor Kwik Kian Gie School of Business Prof Dr Anthony Budiawan, BI Rate seharusnya bisa diturunkan lebih rendah lagi dan bukan sebaliknya hanya dipertahankan dalam lima bulan berturut-turut “Dengan melihat kecenderungan BI Rate dalam waktu lima bulan yang masih bertahan ini, maka terdapat kecenderungan mengutamakan kebijakan suku bunga tinggi atau bisa disebut rezim suku bunga tinggi,” ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (13/3).

Dia menjelaskan, apabila melihat kondisi makro ekonomi Indonesia yang mulai membaik seharusnya BI Rate bisa diturunkan dalam waktu dekat ini. Namun sebaliknya, BI tidak mau menurunkan BI Rate dikarenakan adanya kekhawatiran tingkat bunga di Amerika Serikat (AS) dapat meningkat lagi.

Dia juga menjelaskan, penguatan rupiah belakangan ini tidak mampu untuk menurunkan BI Rate dikarenakan belum didukung oleh penguatan fundamental ekonomi. Namun, paling tidak dengan penguatan nilai tukar rupiah dan stabilnya inflasi maka bisa menjadikan BI Rate diturunkan. “Nampaknya dalam melakukan kebijakan penetapan BI Rate ini, BI tidak banyak mempersoalkan adanya penguatan ekonomi semisalnya penguatan rupiah dan stabilnya inflasi,” ungkap Anthony.

Menurut dia, penurunan BI Rate ini akan bisa menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) dan bisa mnguntungkan pihak perbankan dengan adanya penurunan suku bunga kredit. Kenaikan BI Rate ini tidak dapat menahan laju inflasi pada waktu lalu, dimana inflasi yang terjadi merupakan inflasi non-moneter atau inflasi yang disebabkan bukan karena permasalahan moneter.“Oleh karenanya, beberapa waktu lalu kebijakan kenaikan BI Rate yang dilakukan oleh BI merupakan kebijakan salah kaprah, dimana inflasi tersebut tidak dapat diselesaikan dengan kebijakan moneter,”tandasnya.

Dia pun menambahkan kenaikan BI Rate ini berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dimana tingkat suku bunga pinjaman menjadi naik. Bahkan, kenaikan suku bunga deposito dan suku bunga pinjaman akibat kenaikan suku bunga acuan dapat menghambat konsumsi masyarakat dan investasi, di mana keduanya saat ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.“Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kenaikan BI Rate ini maka diperlukan kebijakan yang bijak oleh BI sehingga tidak akan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dan memberatkan dunia perbankan,” ujarnya.

Menjaga Kredibilitas

Sementara pengamat ekonomi makro, Iman Sugema mengatakan, bertahannya BI Rate di 7,5% selama lima bulan berturut-turut lebih kepada masalah kredibilitas Bank Indonesia sebagai bank sentral. “Kemarin BI terlalu tergesa-gesa untuk menaikkan suku bunga itu didesak para analis dan beberapa kalangan yang memiliki kepentingan agar suku bunga naik.” ujarnya.

Karena dengan kenaikan 0,5% saja, sambung dia, mereka dapat memperoleh untung yang sangat besar dari dana asing yang dikelolanya. Padahal sebenarnya, dalam teori ekonominya, BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuannya. Sehingga, menurut dia, sekarang ini BI juga belum perlu tergesa-gesa menurunkan suku bunga. “Karena ini masalah kredibilitas institusi. Dengan tergesa-gesa menurunkan suku bunga, akan menunjukkan bahwa BI tidak memiliki kemampuan untuk men-driving market. “ jelasnya.

Selain itu, kata dia, penguatan rupiah yang terjadi sekarang ini juga perlu dilihat kembali. Pasalnya, penguatan rupiah tersebut tidak sepenuhnya didukung sepenuhnya fundamental perekonomian. “Penguatan rupiah sekarang ini juga belum tahu pasti apakah akan sustain? Kita belum tahu apakah sampai enam bulan atau satu tahun.” ucapnya.

Menurut dia, penguatan rupiah saat ini lebih kepada meningkatnya hot money yang masuk sehingga sangat mudah untuk keluar. “Jaga kredibilitas jauh lebih penting, 7,5% masih ok. Suku bunga turun, uang panas bisa keluar. Saya rasa, data-datanya juga sudah ada semua.” pungkasnya.

Diketahui, secara umum pergerakan rupiah pada tahun ini terus mengalami penguatan, dari level 12 ribu rupiah per dollar AS pada akhir tahun lalu, nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp11.397 per dollar AS (13/3). Hal tersebut dipercaya dipercaya sebagian kalangan karena meredanya sentimen negatif terkait dengan inflasi, cadangan devisa dan neraca berjalan.

Menurut Chief Analyst Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong, perbaikan fundamental ekonomi memang menjadi pendorong rupiah untuk menguat. Namun, bukan menjadi faktor utama yang mendukung terjadinya penguatan rupiah tersebut. Apabila hal ini dibiarkan juga bukanlah hal yang baik dan Bank Indonesia (BI) nantinya akan mengintervensi dengan menurunkan suku bunga atau membeli dolar di pasar. “11.500 rupiah merupakan titik resistansi dan condong menguat meski sulit untuk menembus dibawah 11.000 rupiah dalam waktu dekat ini," jelasnya.

Sebaliknya, ekonom FEUI Lana Soelistianingsih sepakat BI Rate dipertahankan dan tepat berada di kisaran 7,5% saat ini. Kendatipun nilau tukar rupiah menguat dan inflasi juga turun.

Dia menuturkan, kebijakan BI Rate yang tetap di pertahankan di level 7,5% dikarenakan BI ingin melindungi transaksi berjalan Indonesia yang masih defisit.“Saya rasa ini akan bertahan hingga kuartal III tahun ini, karena pastinya BI ingin melindungi transaksi berjalan,”ujarnya.

Memang dengan kondisi BI Rate yang seperti saat ini akan meyulitkan orang untuk mendapatkan pinjaman kredit. Tetapi, memang tujuannya seperti itu. Ini untuk menekan laju pinjaman agar ekonomi Indonesia melambat. Nah dengan BI Rate yang masih tinggi ini dengan demikian tingginya impor baru bisa ditahan, walaupun demikian Lana percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5,5%. Dan itu masih tergolong cukup baik.

Asal tahu saja, Bank Indonesia memiliki alasan mengapa suku bunga di patok di level 7,5% sejak November 2013. Diantaranya, mengendalikan defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang lebih sehat. Perkembangan sejauh ini menunjukkan inflasi yang terkendali dan defisit transaksi berjalan yang menurun. Ke depan, Bank Indonesia tetap mencermati berbagai risiko, baik dari global maupun domestik, dan menempuh langkah-langkah antisipatif guna memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga dan mendorong perekonomian bergerak ke arah yang lebih seimbang sehingga dapat mendukung perbaikan kinerja transaksi berjalan. lia/mohar/ahmad/bani

Related posts