Saham Bali Tower Sentuh Auto Rejection

Jumat, 14/03/2014

NERACA

Jakarta- Baru satu hari perdagangan, saham PT Bali Towerindo Tbk (BALI) tercatat cukup atraktif. Saham emiten yang bergerak di bidang jasa transmisi merangkak naik 50% menjadi Rp600 dari harga penawaran perdananya di kisaran Rp400 per lembar saham.

Analis Anugerah Securindo, Indah Bertoni Rio mengatakan, meski jumlah saham yang beredar hanya 88 juta saham, saham BALI yang diperdagangkan kemarin cukup menarik. Tingginya aktivitas komunikasi dan dorongan permintaan dari penyedia jasa di kawasan Pulau Bali yang sebagian besar mencakup kawasan berbukit atau tidak datar tentunya akan mendorong pertumbuhan bisnis tower.

Dia memperkirakan, prospek saham BALI masih bagus seiring teknologi wifi yang pastinya akan membutuhkan tower untuk melanjutkan sinyal telekomunikasi. “Saham BALI berpotensi melaju ke level Rp760 per saham.” ucapnya di Jakarta, kemarin.

Kinerja penyedia jasa tower, menurut dia, tertolong sejak regulator memisahkan bisnis jasa telekomunikasi antara penyedia jasa tower maupun jasa transmisi. “Daerah di Indonesia berbukit-bukit atau tanah tidak merata mendorong perusahaan jasa transmisi seperti TLKM, EXCL, ISAT, dan perusahaan lainnya untuk menyewa tower tersebut," jelasnya.

PT Bali Towerindo Sentra Tbk resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis, 13 Maret 2014. Saham yang dilepas Manajemen BALI tergolong sedikit atau dari total penawaran saham sebanyak 597.800.000, pihaknya hanya melepas sejumlah 88 juta saham perdananya melalui mekanisme initial public offering (IPO). Jumlah saham yang dilepas ke publik itu setara dengan 14,72 persen dari total saham yang dimilikinya.

Saat dicatat dipapan pengembangan, saham perseroan tercatat naik 50% ke Rp600 dari harga penawaran sebesar Rp400 per lembar saham. Saham emiten ke-6 tahun ini diperdagangkan sebanyak 5 kali dengan volume sebanyak 101 lot senilai Rp6 miliar.

Seperti diketahui, dalam paparan publik yang digelar sebelunya, saham ini ditawarkan dengan harga Rp400. Dengan demikian, nilai dari IPO ini adalah sebesar Rp35,2 miliar. “Saham perseroan ini dicatatkan dengan nama BALI yang mencerminkan identitas perseroan. Emiten ke 6 ini diharapkan menjadi katalis bagi perusahaan lainnya untuk berani mencatatkan sahamnya di tengah tahun politik seperti saat ini,” ujar Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito.

Bersamaan dengan IPO ini, perseroan juga mencatatkan sebanyak 176 juta waran seri I, yang mewakili 34,52% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor sebelum IPO ini resmi. Waran ini akan diberikan kepada pemegang saham baru perseroan, yaitu tiap satu saham baru yang namanya tercatat dalam DPS penjatahan berhak atas dua waran. Waran ini dapat dikonversi dengan harga pelaksanaan Rp400 per saham. Dengan demikian, nilai waran ini mencapai Rp70,4 miliar. Konversi ini sendiri bisa dilakukan mulai enam bulan sejak dicatatkan di BEI. Hadir sebagai penjamin pelaksana efek adalah PT RHB OSK Securities Indonesia yang ditunjuk langsung oleh perseroan. (lia)