Inpres Hemat Energi Tak Mampu Tahan Subsidi

Saatnya harga BBM Dinaikan

Selasa, 02/08/2011

NERACA

Jakarta-----Inpres penghematan energi dan air takkan bisa menahan laju subsidi BBM. Sehingga diperkirakan subsidi tetap akan jebol. Karena itu inpres tersebut takkan berjalan efektif. “Menurut saya, ini adalah bukti pemerintah takut menaikkan harga BBM subsidi. Kalau pemerintah hanya melakukan cara ini. Saya yakin subsidi bisa jebol lagi,” kata Pengamat ekonomi Aviliani kepada wartawan di Jakarta,1/8.

Salah satu alasanya, kata Avi-panggilan akrabnya, masalah pengawasan di lapangan yang jadi kendala. “Karena pengawasan penggunaan BBM subsidi enggak ada, padahal di daerah-daerah ini bisa banyak penyelewengan kayak di Kalimantan, Sulawesi itu banyak SPBU nakal yang menyelewengkan," ungkapnya.

Oleh karena itu, kata Avi lagi, saat inilah waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM subsidi karena tingkat inflasi sedang rendah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat. "Saat ini saya pikir ini waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM subsidi, karena tingkat inflasi sedang rendah dan rupiah terus menguat terhadap dolar," jelasnya.

Namun Aviliani mengkritik sikap pemerintah yang selama ini dirasakan takut menaikkan BBM subsidi karena menimbulkan inflasi. Padahal, hal ini tidak selalu terjadi. "Kalau dari sekarang kita naikkan harga BBM subsidi, akan lebih tercipta banyak lapangan kerja, dan sebagainya daripada kita terus menambah beban subsidi. Pemerintah hanya takut inflasi, padahal itu tidak pasti terjadi," paparnya.

Ditempat terpisah, Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo mengatakan nomor oktan (Octane number) bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mencapai 88. Tercatat berdasarkan spesifikasi bensin Euro I-IV, nomor oktan harus mencapai 91 hingga 95. "Premium kita yang disubsidi, octane number-nya hanya 88. Artinya, Euro I pun nggak sampai," jelasnya.

Nomor Oktan pada bahan bakar adalah suatu bilangan yang menunjukkan tingkat ketangguhan bahan bakar terhadap detonasi atau knocking. Semakin tinggi nilai oktan pada bahan bakar berarti semakin baik kualitasnya. Evita mencontohkan sepeda motor yang diproduksi 1990 ke atas, mensyaratkan bahan bakar dengan nilai oktan 90 ke atas. Jika kendaraan menggunakan BBM dengan oktan 88, maka lambat laun akan mengalami kerusakan.

Evita mengajak agar masyarakat menggunakan BBM sesuai spesifikasinya. "Sayang mobil atau motor yang dibeli dengan harga mahal, tapi bahan bakar yang dipakai tidak memenuhi spesifikasi," katanya.

Lebih jauh Evita meminta agar Gaikindo dapat melarang ATPM yang memodifikasi mesin dengan tujuan agar dapat menggunakan BBM subsidi. "Permintaan saya kepada Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), tolong mesinnya jangan dimodifikasi. Karena Sekarang ini banyak ATPM yang memodifikasi mesin (agar bisa menggunakan premium). Mari kita kompak dan menggunakan bahan bakar yang benar," ungkapnya

Indonesia termasuk negara yang belakangan menerapkan spesifikasi Euro II yaitu di 2005. Singapura dan Thailand telah melakukannya pada 2001, bahkan China, dan Hongkong pada 1996.

Meski demikian, Evita tetap optimistis dan berharap agar penerapan Euro III di Indonesia, terutama Premium, dapat dilakukan pada akhir 2011 yaitu di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi mengakui pihaknya sudah menerima edaran terkait kenaikan harga Pertamax. PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM non subsidinya yaitu pertamax cs berkisar Rp 100-200 per liter. Untuk pertamax, di Jakarta harganya naik Rp 200 menjadi Rp 8.300 per liter. Perubahan harga BBM non subsidi ini berlaku mulai 1 Agustus 2011 jam 00.00. **cahyo