Masyarakat Sehat, Kocek pun Sehat

PELUANG USAHA APOTEK

Sabtu, 15/03/2014

Malam itu, seorang ibu nampak terburu-buru memasuki sebuah apotek kecil yang berlokasi di Jalan Asshirot Jakarta Selatan. “Mba, saya mau beli obat penurun panas untuk anak, apakah ada?” tanya dia. “Ada bu,” jawab sang penjaga apotek sambil mengeluarkan beragam obat obatan yang diperlukan si ibu.

Begitulah setidaknya apa yang kami tangkap kondisi sebuah apotek di bilangan Asshirot Jakarta Selatan. Di apotek berukuran 2 kali 9 meter terdapat beragam obat yang diperlukan masyarakat. Tak hanya produk obat, produk non obat pun tersedia di sana. Seperti minyak telon, minyak kayu putih dan slain sebagainya.

Bisnis apotek boleh dibilang merupakan bisnis tanpa matinya, bahkan bisnis ini tahan krisis. Artinya, sehebat apapun krisis melanda bisnis ini tetaplaris manis. Karena keberadaannnya sangat vital, tak perduli betapa sulit hidup, untuk sehat apapun dilakukan. Setidaknya itu yang dikatakan Ana, sang penjaga apotek, wanita yang baru lulus menimba ilmu di jurusan Farmasi UI itu langsung bekerja setelah lulus.

“Waktu itu, setelah lulus saya langusng dapat tawaran bekerja di sini. Kalau menurut saya, prospek bisnis apotek makin cerah ke depannya. Saya juga punya rencana untuk membuka sendiri suatu saat kalau modal sudah cukup,” ujar dia.

Ya, keberadaan apotek memang begitu sangat saat ini, apalagi saat diresmikannya BPJS. Dimana Setiap tahun kebutuhan obat akan terus bertambah terutama di kota-kota besar dan daerah pusat pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak 2011-2013 terdapat investasi senilai Rp1,5 triliun di sektor itu. Ini terlihat dari mulai menjamurnya apotek-apotek kecil di Jakarta. Sebut saja di daerah ini (Kebon Jeruk- Kebayoran Lama) terdapat 5 apotek kecil beroperasi. Kebanyakan adalah dengan sistem waralaba. Karena kebanyakan apotek memiliki nama sama yakni Apotek Generik.

Toko Obat Bermunculan

Tak hanya apotek yang tumbuh, beberapa toko obat pun mulai banyak berdiri. Maklum, untuk membuka toko obat lebih mudah ketimbang mendirikan apotek. Di toko obat tidak membutuhkan apoteker atau asisten apoteker, dimana itu merupakan syarat mutlak sebuah apotek agar dapat beroperasi.

Tetapi, yang di jual pun biasanya merupakan obat-obat yang tanpa resep atau obat bebas. Meski demikian itu tidaklah mengurangi keuntungan yang di dapat. Karena, biasanya yang dibutuhkan adalah obat-obat untuk menghilangkan sakit-sakit ringan. Sementara untuk penyakit berat biasanya masyarakat lebih memilih rumah sakit dimana di sana sudah tersedia obat-obaan.

Investasi di sebuah apotek atau toko obat, setidaknya membutuhkan dana sebesar Rp80-Rp100 juta, angka ini belum termasuk untuk menyewa tempat usaha. Atau jika tidak ingin repot Anda bisa memilih waralaba apotek. Keduannya sama-sama menguntungkan.

Tapi hati-hati, saat ini banyak sekali tawaran kemitraan apotek yang ada. Dimina itu mengharuskan Anda harus betul-betul cermat saat memilih mitra usaha. Jangan sampai usaha yang Anda rintis malah gagal dan gulung tikar.

Jika Anda ingin membuka apotek atau toko obat saat ini sangat mudah karena untuk pasokan obat begitu banyak. Ya, urusan pasokan obat, biasanya didapat dari pasar-pasar penjual obat eceran seperti dari kawasan Pasar Pramuka, Jakarta atau Mayestik. Atau dari distributor, intinya untuk mendapatkan obat bukan lah soal sulitdi Jakarta.

“Saya biasa membeli obat di Pasar Pramuka, tetapi belakangan ini distributor-distributor obat muali banyak yang mendatangi toko obat saya, tetapi harus teliti juga jangan sembarangan membeli obat,” ujar Syamsudiin salah satu pemilik toko obat di Jalan Panjang.