Menjelang Pemilu, Pertumbuhan Harga Properti Melambat

Momentum Baik Belanja Properti

Sabtu, 15/03/2014

NERACA

Dari beragam jenis properti, rumah dan ruko merupakan instrumen investasi paling menguntungkan. Dibanding bangunan bertingkat banyak (high rise building) seperti apartemen, kondotel, gedung perkantoran, dan propertI komersial lainnya, kenaikan harga rumah dan ruko lebih tinggi.

Jones Lang LaSalle (JLL), salah satu perusahaan konsultan properti yang banyak menangani properti komersial mencatat, 2-3 tahun terkahir rata-rata kenaikan hargalanded propertymencapai 20%-30% per tahun. Tahun ini karena melemahnya perekonomian nasional dan adanya hajatan politik pemilihan umum (Pemilu) kenaikan harganya diprediksi turun hingga 50%.

“Kami perkirakan kenaikan harganya berkisar 10 – 15% per tahun,” kata Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL), Anton Sitorus.

Sementara itu, Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia, Todd Lauchlan mengatakan, lazim dalam setiap perhelatan pemilu, dinamika bisnis properti akan sedikit mereda. Sektor properti cenderung pertumbuhannya melambat pada setahun sebelum pemilu seperti yang dialami pada tahun 2013.

"Secara umum permintaan dan pertumbuhan harga properti diperkirakan menurun dibanding tahun 2013," ujar dia di Jakarta belum lama ini.

Ya, melemahnya pertumbuhan sektor properti sudah berlangsung sejak tahun lalu. Hanya di lokasi-lokasi strategis dan kawasan pertumbuhan yang propertinya terus berkembang. Ini terjadi bukan hanya di Jabodetabek tapi kota-kota besar lain seperti Surabaya, Malang, dan Makassar. Masalahnya, lokasi-lokasi seperti itu kian sulit sehingga konsumen harus jeli mengamati perkembangan wilayah.

Meski perlambatan ini berlangsung dalam beberapa triwulan mendatang, Todd yakin bahwa industri properti akan pulih dan kembali tumbuh pasca penyelenggaraan pemilu dan menghasilkan para pemimpin baru, dengan catatan pesta demokrasi ini berlangsung damai dan menghasilkan pemimpin yang pro ekonomi dan diterima masyarakat Indonesia atau internasional.

Anton menambahkan, meski mengalami penurunan sektor properti masih layak dilirik menjadi pilihan investasi. Pasalnya, akan ada pertumbuhan signifikan di pasar properti. Pengembang yang tadinya melakukan konsolidasi mulai melakukan ekspansi proyek. Investor yang tadinya menunggu, nantinya mengeksekusi, para pembeli juga sesegara mungkin bertransaksi, yang di awal tahun menahan rencana pembelian.

“Dalam kondisi paling jelek pun kenaikan harga properti tidak pernah di bawah laju inflasi. Sekarang adalah momentum bagi para pemilik kapital untuk berbelanja properti. Harganya sedang bagus, 2-3 tahun mendatang sektor ini akan kembali bergairah dan harganya sudah pasti akan naik,” terang Anton.