Menjelang Pemilu, Pertumbuhan Harga Properti Melambat - Momentum Baik Belanja Properti

NERACA

Dari beragam jenis properti, rumah dan ruko merupakan instrumen investasi paling menguntungkan. Dibanding bangunan bertingkat banyak (high rise building) seperti apartemen, kondotel, gedung perkantoran, dan propertI komersial lainnya, kenaikan harga rumah dan ruko lebih tinggi.

Jones Lang LaSalle (JLL), salah satu perusahaan konsultan properti yang banyak menangani properti komersial mencatat, 2-3 tahun terkahir rata-rata kenaikan hargalanded propertymencapai 20%-30% per tahun. Tahun ini karena melemahnya perekonomian nasional dan adanya hajatan politik pemilihan umum (Pemilu) kenaikan harganya diprediksi turun hingga 50%.

“Kami perkirakan kenaikan harganya berkisar 10 – 15% per tahun,” kata Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL), Anton Sitorus.

Sementara itu, Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia, Todd Lauchlan mengatakan, lazim dalam setiap perhelatan pemilu, dinamika bisnis properti akan sedikit mereda. Sektor properti cenderung pertumbuhannya melambat pada setahun sebelum pemilu seperti yang dialami pada tahun 2013.

"Secara umum permintaan dan pertumbuhan harga properti diperkirakan menurun dibanding tahun 2013," ujar dia di Jakarta belum lama ini.

Ya, melemahnya pertumbuhan sektor properti sudah berlangsung sejak tahun lalu. Hanya di lokasi-lokasi strategis dan kawasan pertumbuhan yang propertinya terus berkembang. Ini terjadi bukan hanya di Jabodetabek tapi kota-kota besar lain seperti Surabaya, Malang, dan Makassar. Masalahnya, lokasi-lokasi seperti itu kian sulit sehingga konsumen harus jeli mengamati perkembangan wilayah.

Meski perlambatan ini berlangsung dalam beberapa triwulan mendatang, Todd yakin bahwa industri properti akan pulih dan kembali tumbuh pasca penyelenggaraan pemilu dan menghasilkan para pemimpin baru, dengan catatan pesta demokrasi ini berlangsung damai dan menghasilkan pemimpin yang pro ekonomi dan diterima masyarakat Indonesia atau internasional.

Anton menambahkan, meski mengalami penurunan sektor properti masih layak dilirik menjadi pilihan investasi. Pasalnya, akan ada pertumbuhan signifikan di pasar properti. Pengembang yang tadinya melakukan konsolidasi mulai melakukan ekspansi proyek. Investor yang tadinya menunggu, nantinya mengeksekusi, para pembeli juga sesegara mungkin bertransaksi, yang di awal tahun menahan rencana pembelian.

“Dalam kondisi paling jelek pun kenaikan harga properti tidak pernah di bawah laju inflasi. Sekarang adalah momentum bagi para pemilik kapital untuk berbelanja properti. Harganya sedang bagus, 2-3 tahun mendatang sektor ini akan kembali bergairah dan harganya sudah pasti akan naik,” terang Anton.

BERITA TERKAIT

MAMI Prediksi Kinerja IHSG Tumbuh Signifikan - Momentum Tahun Politik

NERACA Jakarta – Pilkada serentak yang bakal di lakukan tahun depan, membuat kekhawatiran tersendiri bagi pelaku pasar modal. Meskipun keyakinan…

Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008 - PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

Pengawasan Perbankan dan Harga Minyak

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis   Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, naiknya…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…