Jumlah Penumpang Diduga 77,6 Juta Orang - Bisnis Penerbangan di 2015

NERACA

Jakarta---Pemerintah memperkirakan, jumlah penumpang udara domestik pada 2015 mencapai 77,6 juta orang. Hal ini karena pertumbuhan pesat sektor ini rata-rata minimal 10% per tahun sejak 2000. “Karenanya hal ini mendorong berkembangnya bisnis jasa perawatan pesawat di Indonesia dan pada 2020 diperkirakan pasarnya mencapai 65,3 juta dolar AS," kata Kepala Badan Litbang, Kemenhub, Denny L Siahaan di Jakarta,1/8

Menurut Denny, bagi perusahaan penerbangan, biaya perawatan sangatlah penting mengingat mahalnya komponen/suku cadang pesawat, sehingga tidak bisa dihindari bisnis perawatan pesawat dalam beberapa tahun akan berkembang.

Lebih jauh kata Denny, saat ini terdapat 74 "Approved Maintenance Organization" (AMO) dan hanya dapat memenuhi 30% dari seluruh permintaan jasa perawatan pesawat udara dalam negeri, sedangkan 70% sisanya dilakukan di luar negeri.

Dikatakan Denny, hal disebabkan karena industri jasa perawatan pesawat dalam negeri masih kalah bersaing dengan industri jasa perawatan luar negeri. "Perusahaan asing memiliki nilai investasi yang relatif besar untuk mengikuti perkembangan teknologi, seperti penyediaan fasilitas dan pengadaan peralatan, kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum memadai," katanya.

Yang jelas, kata Denny, untuk menyehatkan industri perawatan pesawat dalam negeri, perlu kebijakan pemerintah untuk memberdayakan industri jasa perawatan pesawat dalam negeri, sehingga dapat memenuhi permintaan jasa perawatan pesawat udara serta mampu menghadapi tingkat persaingan regional yang semakin meningkat. Selain itu, perlu diberikan kemudahan dan pemanfaatan fasilitas subsidi pembebasan pajak impor suku cadang pesawat udara yang diberikan oleh pemerintah.

"Tentu harus melalui prosedur administratif yang lebih sederhana dan singkat, sehingga industri jasa perawatan pesawat udara (Maintenance Repair and Overhaul/MRO) dalam negeri tumbuh berkembang dan dapat bersaing dengan industri jasa perawatan pesawat udara luar negeri," kata Denny.

Sementara itu, Bambang Sutarmadji, dari Ditjen Perhubungan Udara, mengatakan dalam hal AMO, pemerintah tetap memberikan peluang kepada semua pihak yang mempunyai jiwa wirausaha untuk membuka lapangan kerja di bidang MRO, menyiapkan dan menegakkan peraturan-peraturan yang setara dengan standar-standar regional dan internasional.

Sedangkan Richard Budihadianto dari Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero/Asia mengemukakan, perusahaan jasa angkutan udara memprediksikan bahwa biaya perawatan pesawat udara merupakan suatu hal yang penting dan dalam upaya mengantisipasinya dibutuhkan cara pengelolaan yang lebih baik. **cahyo

BERITA TERKAIT

Akhir 2019, PNM Targetkan Nasabah Mekaar Capai 6 Juta Orang

Akhir 2019, PNM Targetkan Nasabah Mekaar Capai 6 Juta Orang NERACA Jakarta - PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM…

Jumlah Desa Mandiri di Jabar Hanya 0,67 Persen

Jumlah Desa Mandiri di Jabar Hanya 0,67 Persen NERACA Bandung - Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Barat…

Genjot Pertumbuhan Bisnis - BLTZ Bakal Bentangkan 15 Layar Bioskop

NERACA Jakarta – Perluas penetrasi pasar guna menggenjot pertumbuhan bisnis, PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) berencana menambah  lebih dari…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kementerian PUPR Sertifikasi Prajurit Zeni TNI AD - Dukung Percepatan Pembangunan

        NERACA   Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan kompetensi Sumber Daya…

AXI Raih Penghargaan Printpack Indonesia Awards

    NERACA   Jakarta - PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI), anak perusahaan PT Astra Graphia Tbk yang memfokuskan diri…

Penentuan Lokasi Ibukota Ditetapkan Presiden Tahun Ini

    NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, calon lokasi ibukota negara yang baru…