Gaya Kepemimpinan Pejabat

Kamis, 13/03/2014

Ketika melihat Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama (Ahok) lagi-lagi tak puas dengan kinerja para birokrat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, usai menerima sumbangan 30 bus dari pengusaha swasta, ini menunjukkan masih ada perbedaan budaya kepemimpinan di tingkat pejabat di internal Pemprov DKI Jakarta.

Basuki beranggapan, bus yang sudah disumbangkan dari beberapa perusahaan tak perlu lagi dimintai pajak iklan. Apalagi, perusahaan tersebut telah memberikan hibah 30 bus yang diperlukan untuk menambah armada angkutan umum di Jakarta.

"Aku udah benci caranya begini. Orang mau nyumbang bus masih disuruh bayar pajak. Kita ini kan dikasih orang," ujarnya, Selasa (11/3). Sementara Kepala Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta Iwan Setiawandi membantah tudingan mantan bupati Bangka Belitung itu. Menurut Iwan, hanya salah paham saja, sebab nilai pajak yang dibayarkan hanya dipotong sesuai harga bus.

Perbedaan tafsir hibah atau bantuan bus itulah yang menjadi indikasi belum adanya kultur kepemimpinan yang seragam di antara pejabat daerah tersebut. Wagub Basuki tampaknya sudah menggunakan pola kepemimpinan yang bersifat transformasional, sedangkan masih banyak bawahannya yang masih menganut pola kepemimpinan transaksional.

Kepemimpinan transformasional terdiri dari dua kata yaitu kepemimpinan (leadership) dan transformasional (transformational). Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Adapun kepemimpinan transaksional menurut Bass, memiliki karakteristik yaitu contingent reward (kontrak pertukaran penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk kinerja yang baik, mengakui pencapaian), active management by exception (melihat dan mencari penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan perbaikan), pasive management by exception (intervensi hanya jika standar tidak tercapai), laissez-faire (melepaskan tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan).

Berbeda dengan gaya kepemimpinan transformasional. Sang pemimpin memiliki karakteristik yaitu Charisma (memberikan visi dan misi yang masuk akal, menimbulkan kebanggaan, menimbulkan rasa hormat dan percaya), Inspiration (mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menggunakan simbol untuk memfokuskan upaya, mengekspresikan tujuan penting dengan cara yang sederhana), Intellectual stimulation (meningkatkan intelegensi, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara teliti), Individualized consideration (memberikan perhatian pribadi, melakukan pelatihan dan konsultasi kepada setiap bawahan secara individual).

Ciri-ciri kepemimpinan transaksional seringkali menggunakan sistem tawar menawar di antara berbagai kepentingan individual sebagai imbalan atas kerjasama mereka dalam agenda kepala dinas. Jadi, ke depan perlu ada penyeragaman kultur kepemimpinan di internal pejabat Pemprov DKI Jakarta agar tercipta hubungan kerja yang dinamis.