Kimia Farma Bangun Pabrik Garam - Investasikan Dana Rp 25 Miliar

NERACA

Jakarta – Dalam rangka memaksimalkan ketersedian bahan baku dari bahan herbal, salah satunya garam. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus menekan biaya produksi akibat melemahnya rupiah terhadap dolar. Hal ini dilakukan karena 85% bahan baku perseroan masih impor.

Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma Tbk, M Wahyuli Syafari mengatakan, untuk memenuhi ketersedian garam sebagai bahan baku farmasi, perseroan berencana membangun pabrik garam dengan menggandeng badan usaha milik negara (BUMN) lain, yaitu Perusahaan Nasional Garam sebagai pemasok sumber bahan bakunya.

Selain itu, perseroan juga akan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bertindak sebagai konsultan. Rencananya pada tahun ini juga pabrik produksi garam farmasi tersebut akan dikembangkan di Mojokerto, Surabaya, Jawa Timur,”Selama ini, kami memperoleh NaCl diimpor dari China, padahal PN Garam mempunyai pabrik kualitas sejenis di Surabaya. Jika kapasitas produksi nasional telah terpenuhi, maka tidak menutup kemungkinan kami akan mengimpornya ke negara lain, namun sebelumnya bahan baku tersebut harus diaudit oleh Current Quality Good Manufacturing atau cara pembuat bahan baku yang baik,”ujarnya di Jakarta, Selasa (12/3).

Untuk tahap awal, kata dia, pabrik eksisting tersebut diharapkan dapat memproduksi obat-obatan berbahan dasar garam sekitar 1.000-1.500 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan nasional untuk jenis obatan tersebut dapat mencapai 3.000 ton per tahun. Dengan modal disetor sebesar Rp25 miliar, perseroan berharap pabrik ini bisa mulai menghasilkan pada awal Januari 2015,”Sebagai BUMN, kita mendapat amanah harus bisa mandiri dan memperoleh bahan baku yang sumbernya berasal dari Indonesia, sebagai negara lautan Indonesia banyak menghasilkan garam. NaCl ini diperlukan untuk membantu mengatasi cairan tubuh dalam masa perawatan dan dehidreasi,” tutur dia.

Kata M Wahyuli, dengan memaksimalkan produk dari dalam negeri, perseroan tidak akan terpengaruh terhadap kenaikan harga dolar Amerika dan sebaliknya, dengan menggunakan bahan baku dari dalam negeri bisa menambah devisa negara.

Disebutkan, selain garam produk dalam negeri, perseroan juga akan menggunakan produk herbal yang siap dimanfaatkan perseroan, yaitu produk teh yang terbuat dari tumbuhan kumis kucing. Menurut dia, potensi pasarnya cukup besar, bahkan bisa diekspor hingga Jerman.

Selain itu, perseroan juga akan memaksimalkan obat-obatan dari jenis jamu-jamuan,”Kami memiliki aset dengan bentuk lahan perkebunan herbal seluas 1.060 hektar (ha) di wilayah Bandung, ini yang akan kita manfaatkan. Tapi kami juga masih membutuhkan kerja sama dengan investor luar untuk teknik kimia dasar dalam pemanfaatn obat-obatan herbal,” jelas Wahyuli.

Untuk diketahui, perseroan tahun ini menargetkan penjualan sebesar Rp5,56 triliun atau meningkat 20 persen dibandingkan target penjualan sepanjang tahun lalu. Target pendapatan tersebut didorong sejumlah sektor, terutama di bidang manufaktur, ritel maupun trading. Selain itu, untuk menggenjot penjualan pada tahun ini, Kimia Farma juga siap memperbesar pasar ekspor ke sejumlah wilayah.

Sepanjang tahun lalu, perseroan mencatatkan peningkatan penjualan Rp4,35 triliun atau naik 16,44 persen dibanding penjualan di tahun 2012 sebesar Rp3,73 triliun. Kinerja yang positif ini mampu mendorong laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh menjadi Rp214,55 miliar di tahun 2013 dari perolehan serupa di tahun 2012 senilai Rp205,76 miliar. (bani)

BERITA TERKAIT

Pemprov Banten Bangun Jalan Maja-Koleang

Pemprov Banten Bangun Jalan Maja-Koleang  NERACA Lebak - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pada tahun 2018 membangun jalan Maja-Koleang sepanjang 6,3…

Surya Citra Incar Dana Segar Rp 3,57 Triliun - Gelar Private Placement

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) bakal menggelar penerbitan saham baru…

Sky Energy Bidik Pendapatan Rp 539 Miliar - Lepas 203 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Sky Energy Indonesia Tbk menargetkan pendapatan sebesar Rp539 miliar dan Rp627 miliar pada tahun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Semen Baturaja Terbitkan MTN Rp 400 Miliar

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk atau (SMBR) menerbitkan surat hutang (MTN) senilai Rp400 miliar dengan jangka waktu selama tiga tahun…

Pelanggan Diminta Registrasi Nomor Prabayar

Telkomsel mengimbau pelanggan untuk segera melakukan registrasi nomor prabayar yang divalidasi sesuai dengan data kependudukan yang berlaku. Batas akhir masa…

BEI Resmikan Galeri Investasi di Untan

Direktur Pengembangan Bisnis PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan meresmikan galeri investasi BEI di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan)…