Menakar Keuntungan Produk Derivatif Opsi Saham

Kamis, 13/03/2014

NERACA

Jakarta- Rencana diaktifkannya kembali perdagangan produk derivatif untuk kontrak opsi saham (KOS) dan kontrak berjangka indeks (KBI) yang akan dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester kedua tahun ini mendapat tanggapan dari pelaku pasar. Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani mengatakan, perdagangan produk derivatif untuk opsi saham di pasar modal terbilang menarik.

Dengan catatan, investor harus memahami manajemen risiko dari perdagangan ini. “Sebetulnya menarik, investor memiliki option atau pilihan untuk melakukan opsi beli pada harga strike price setiap saat sebelum jatuh tempo, sesuai kontrak.” ucapnya.

Diketahui, opsi saham merupakan sebuah kontrak yang memberikan hak kepada buyer, bukan kewajiban untuk membeli atau menjual saham pada harga yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk mendapatkan hak ini buyer harus membayarkan premium kepada seller. Nah, perhitungan premium opsi saham, merupakan salah satu hal penting yang perlu dimengerti sebelum berinvestasi pada opsi saham.

Pasalnya, pergerakan premium opsi saham dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya harga saham underlying dan waktu yang tersedia sampai jatuh tempo. Selain itu, adanya aksi korporasi pada umumnya mempengaruhi opsi saham dan jumlah saham yang menjadi underlying dari opsi saham yang dimiliki oleh investor. Utamanya, aksi korporasi yang memiliki dampak terhadap harga teoretis saham.

Apabila terjadi hal tersebut pada perdaganga opsi saham, maka akan dilakukan delisting atas opsi saham yang terkena dampak dari aksi korporasi tersebut dan likuidasi posisi terbuka opsi saham oleh PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI). Selanjutnya BEI akan menerbitkan seri baru yang sudah disesuaikan dengan aksi korporasi di atas.

Misalnya diketahui, opsi saham yang dibeli Tuan A akan berakhir pada tanggal 31 Oktober 2013. Kemudian, pada tanggal 15 Oktober 2013 BEI mengumumkan akan dilakukan stock split terhadap saham ASII dengan perbandingan 1:2 yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2013.

Hal ini mengisyaratkan, jika kontrak tersebut tidak ditutup oleh Tuan A sampai dengan tanggal 21 oktober 2013 maka BEI melalui KPEI akan menutup kontrak tersebut dan premium yang telah dibayarkan oleh Tuan A atas opsi saham tersebut akan menjadi tidak bernilai. Oleh karena itu, aksi korporasi ini sangat penting untuk dicermati oleh investor mengingat aksi korporasi akan berakibat pada penutupan opsi saham yang masih terbuka.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Frederica Widyasari Dwi pernah mengatakan, di tahap awal, setelah KOS dan KBI meluncur kembali, BEI akan menyasar investor yang sudah canggih (sophisticated), yaitu investor institusi.“Kami akan mengaktifkan lagi investor lama KOS dan KBI setelah dua produk itu meluncur ulang,” ucapnya.

BEI juga menyempurnakan aturan berdagang produk derivatif. Perdagangan opsi saham di Indonesia sendiri pertama kali diluncurkan oleh Bursa Efek Jakarta pada tahun 2004. Saat itu perdagangan masih dilakukan dengan sistem floor trading. Anggota bursa yang memperdagangkan produk opsi saham, harus menempatkan floor trader di Bursa untuk dapat melakukan perdagangan.

Dan seiring berjalannya waktu, fitur auto exercise (10% capped) dinilai membuat produk ini kurang dilirik sebagai salah satu instrumen investasi. "Dari kekurangan-kekurangan di masa lalu itu, kami menyempurnakannya agar produk derivatif diminati investor. Kalau kita lihat India 80% dari produk derivatif. Ya, kita tidak perlu seperti itu, tapi setidaknya kita mengembangkan produk derivatif ini," jelasnya. (lia)