Menyerap Banyak Tenaga Kerja, APLI Keluhkan Kenaikan UMP

Kamis, 13/03/2014

NERACA

Jakarta - Asosiasi Profesi Laundry Indonesia (APLI) mengeluh kenaikan upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta sebesar Rp2,4 juta pada tahun ini. Pasalnya, biaya produksi mereka semakin bertambah lantaran sebagian besar belanja modal (capital expenditure) untuk gaji karyawan dan pasokan energi.

“Jujur saja kami keberatan (UMP naik). Untuk gaji karyawan saja sudah 30% terserap. Sementara 30% lainnya untuk pemenuhan pasokan energi, serta sisanya yang 40% dipakai untuk biaya transportasi dan kebutuhan pendukung lainnya,” ungkap Wasono Raharjo, Ketua Umum APLI, di Jakarta, Rabu (12/3).

Terang saja APLI harus memutar otak mencari solusi efisien dalam menekan biaya produksi. Karena industri ini masih bergantung pada sumberdaya manusia (SDM). Untuk pasokan energi, dirinya menuturkan bahwa yang dimaksud adalah pasokan yang digunakan sebagai bahan pemanas untuk mengeringkan dan menyetrika pakaian setelah dicuci.

Menurut Wasono, dalam industri jasa cuci pakaian atau laundry, tidak mengenal pakaian dijemur setelah dicuci lantaran berpacu dengan waktu dan layanan yang cepat. Sementara beberapa sumber energi yang dipakai dalam industri laundry yakni batu bara, kayu bakar, listrik dan solar.

“Dari sekian banyak pilihan, solar merupakan energi paling bagus dipakai untuk pemanas karena berbentuk uap, sehingga ramah lingkungan,” tambahnya. Meski keberatan, Wasono menegaskan pihaknya tetap menerapkan aturan yang telah disepakati antara pengusaha dan Pemprov DKI Jakarta. Dia pun menjamin tidak akan mempengaruhi tingkat kebersihan pakaian serta layanan.

Wasono menyebut industri laundry terbagi atas empat jenis, hotel laundry, hospital laundry, commercial laundry dan garment laundry. Dari keempat jenis industri tersebut, commercial laundry paling terkena dampak dari kenaikan UMP. “Kita harus memutar otak, how to saving a cost. Ini lebih ke kemampuan perusahaan untuk me-maintain usahanya. Karena bisnis ini sifatnya massal,” jelas dia.

Terkait modal, Wasono mengatakan dengan modal awal minimal Rp50 juta, maka bisa mendirikan usaha laundry. Sementara itu, keuntungan bersih yang bisa diperoleh dari usaha ini sekitar 20% dari total omzet per bulan.

“Kita bicara laundry kiloan kalau dananya minim (Rp50 juta). Seandainya omzet Rp80 juta per bulan, maka net profit yang didapat sebesar Rp16 juta. Dengan syarat, kelola manajemen dan usahanya berjalan baik. Karena di sini kunci suksesnya,” ulasnya.

Adapun tenaga kerja yang terserap di commercial laundry, Wasono menuturkan, hingga akhir 2013 jumlahnya mencapai 24.180 tenaga kerja dengan 407 commercial laundry yang tersebar di wilayah Jabodetabek.

Tak hanya itu saja. Wasono juga mengatakan pertumbuhan industri laundry yang semakin tinggi membuat kebutuhan akan tenaga kerja semakin meningkat pula. Namun, hal ini tidak diiringi dengan kemampuan karyawan yang baik karena minimnya edukasi yang mendukung sektor industri tersebut.

Oleh sebab itu, APLI selalu melakukan pertemuan untuk mengadakan pelatihan dan sosialisasi. "Kami sering mengadakan training (pelatihan) dan seminar untuk meningkatkan skill (kemampuan) para karyawan. Kami juga ingin mendorong Pemerintah memasukkan pengetahuan tentang bidang jasa pencucian ini ke kurikulum sekolah," tandas Wasono. [ardi]