Gubernur BI Janjikan BI Rate Tak Naik

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Dermawan Wintarto Martowardojo berjanji tidak akan menaikan BI Rate melebihi 7,5%. Mantan Menteri Keuangan tersebut mengungkapkan kalau ada isu BI akan menaikkan suku bunga acuan adalah tidak benar. Hal tersebut hanya kabar angin. Agus memahami dengan baik perbaikan ekonomi dan tidak mungkin menggencet sektor rill.

"Jadi secara umum ditanya apakah Bank Indonesia akankah BI rate naik. Saya jelaskan kondisi pasar keungan saat sekarang dan moneter kurang lebih akan dipertahankan. Tidak betul akan ada peningkatan BI rate," ujar Agus usai rapat koordinasi menyambut masyarakat ekonomi ASEAN di Jakarta, Rabu (12/3).

Menurut Agus, pihaknya mencermati pergerakan inflasi dan defisit neraca perdagangan, ketika membicarakan suku bunga. "Justru kalau sekarang ini, pemahaman kita Januari-Februari 2014 inflasi agak rendah," ucapnya

Kendati berjanji tidak akan menaikan suku bunga acuan sebelumnya, Agus menegaskan pihaknya tidak segan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dari level 7,5 persen saat ini apabila keadaan mengharuskan.

"Apabila terjadi pemburukan ekonomi, untuk melakukan stabilisasi, kami tidak segan-segan menaikkan lagi suku bunga," ujarnya.

Menurut Agus Marto, dalam merumuskan kebijakan moneter saat ini, BI tidak hanya berpatokan pada pengendalian tingkat inflasi. Namun, pada saat yang sama juga bertujuan untuk menekan defisit transaksi berjalan yang saat ini masih di atas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Dimata Pengamat Ekonomi dari EC Think, Aviliani memperkirakan tingkat suku bunga acuan (BI rate) masih akan dipertahankan oleh Bank Indonesia di level 7,5 persen hingga semester pertama (Q2) 2014. "Sampai semester satu, BI rate kemungkinan masih 7,5 persen," ujarnya.

Aviliani menuturkan, laju inflasi pada 2014 diperkirakan akan kembali pada pola normalnya dan target inflasi Bank Indonesia sebesar 3,5-5,5 persen bisa saja tercapai. Pada paruh kedua 2014, ia berharap BI dapat menurunkan tingkat suku bunga seiring dengan kepastian penghentian stimulus moneter (tapering off) oleh Bank Sentral Amerika Federal Reserve (Fed).

Namun, lanjutnya, ia juga tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan BI rate pada semester kedua 2014. "BI rate masih ada kemungkinan naik," kata Aviliani. [agus]

BERITA TERKAIT

Calon Ibu Tak Boleh Kurus, Ini Alasannya

Bagi kaum hawa yang telah menikah dan berkeinginan memiliki keturunan, sebaiknya perhatikan berat badannya. Ahli kesehatan mengingatkan para calon ibu…

Perdana di Pasar, Saham PBID Naik 10 Point

Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) pada perdagangan Rabu (13/12) langsung dibuka naik…

40% Jembatan Dalam Kondisi Tak Baik

  NERACA   Semarang - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebutkan sekitar 40 persen jembatan di…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

NPF Bank Syariah Diprediksi Membaik di 2018

  NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) perbankan syariah dapat lebih baik…

BTN Buka Cabang di Pematang Siantar

      NERACA   Medan - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. berkomitmen untuk menjangkau masyarakat yang ingin memiliki…

CIMB Niaga Andalkan Rekening Ponsel - Remitansi Antar Negara

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mendukung kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam Uji…