(Ikan) Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Kamis, 13/03/2014

Oleh : Abdul Halim

Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara)

Mata dunia kembali melihat pentingnya ikan sebagai sumber pangan masyarakat global. Hal ini kembali ditegaskan di dalam perundingan PBB yang dilaksanakan oleh Komite Perikanan FAO Sub-Komisi tentang Perdagangan Ikan sejak tanggal 24-28 Februari 2014 di Bergen, Norwegia.

Dengan populasi dunia yang terus bertambah, permintaan atas ikan dan produk olahannya diperkirakan meningkat bersamaan dengan meningkatnya volume konsumsi ikan per kapita warganya hingga sebesar 19,2 kilogram per tahun sejak 2001-2010. Sebelumnya hanya rata-rata 17,3 kg dan 18,9 kg(FAO, 2014).

Selaras dengan fakta di atas, jumlah pekerja di sektor perikanan (tangkap dan budidaya) juga berkembang drastis. Sedikitnya 56 juta orang secara langsung terlibat di dalam aktivitas perikanan, di mana di dalamnya termasuk perempuan nelayan yang memainkan peranan penting dalam pengolahan dan pemasaran hasil tangkapan ikan. Jika dihitung, sebanyak 660 sampai dengan 880 juta orang atau 12% dari jumlah populasi dunia bergelut dan atau bergantung di sektor ini.

Ikan adalah salah satu produk utama dunia yang diperdagangkan dengan total 40% di pasaran internasional. Setiap tahunnya, diperoleh nilai ekspor sebesar lebih dari US$135 miliar. Dalam pada itu, perdagangan ikan dan produk olahannya menjadi sumber pendapatan penting bagi beberapa negara, khususnya negara-negara berkembang, dengan nilai kontribusi senilai lebih dari 50% dari segi nilai dan 60% dilihat dari kuantitas ikan dan produk olahan yang diekspor.

Dalam hal konsumsi, ikan menjadi menu yang banyak dipilih oleh populasi dunia hingga 17% dan bahkan di beberapa negara mencapai lebih dari 50%. Di negara-negara Afrika Barat, misalnya, ikan menjadi menu utama, seperti Senegal sebesar 43%, 72% di Sierra Leone, dan 55% di Gambia dan Ghana. Bagaimana di Asia? Tak jauh berbeda, tingkat konsumsi protein dari ikan juga tergolong tinggi. Contohnya, 70% di Maladewa, 60% di Kamboja, 57% di Bangladesh, 55 persen di Sri Lanka, dan Indonesia sebesar 54%.

Tingginya tingkat konsumsi ikan diperkuat oleh pernyataan para ahli bahwa mengonsumsi ikan, khususnya minyak ikan, sangat berarti bagi optimalisasi pertumbuhan otak dan sistem motorik anak sebagaimana diperoleh dari Omega 3. Bahkan dalam pertemuan konsultasi FAO da WHO, disimpulkan bahwa anak yang dilahirkan oleh perempuan pengonsumsi ikan dan sebaliknya memiliki tingkat pertumbuhan kecerdasan yang berbeda. Tak hanya bagi anak-anak, ikan juga memberikan keuntungan kesehatan bagi orang dewasa, misalnya mengurangi risiko terserang penyakit jantung.

Mendapati signifikansi ikan dalam kehidupan masyarakat dunia, khususnya menyangkut pangan, mengandaikan pelbagai ancaman yang berisiko terjadi dan menutup akses terhadap sumber daya ikan, seperti praktek pencurian ikan dan pembangunan yang bias daratan, merupakan musuh bersama (common enemies) yang mutlak diperangi. Terlebih bagi Republik Indonesia.