Waspada Penguatan Rupiah

Rabu, 12/03/2014

Oleh: Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Indef

Angin segar sedikit berhembus dikala rupiah dikabarkan terus menguat hingga awal pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukkan penguatan selama beberapa hari belakangan ini. Tidak hanya itu, rupiah juga menguat relatif terhadap mata uang negera-negara di dunia, bahkan penguatan rupiah sempat memimpin penguatan nilai mata uang lainnya di Asia.

Sentimen positif pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian nasional diduga mampu menjadi penyebab menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi domestik, relatif sedang lebih baik dibanding beberapa negara seperti Thailand, Malaysia dan Jepang. Ini memungkinkan keluarnya dana asing dari sejumlah negara tersebut dan masuk ke Indonesia. Penguatan rupiah tersebut juga disebabkan oleh aliran modal masuk ke Indonesia meskipun mayoritas berupa portfolio.

Namun demikian, pemerintah perlu mewaspadai peningkatan rupiah yang relatif cepat. Hal itu karena melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih rapuh. Ekspor Indonesia mengalami penurunan menjadi US$ 14,48 miliar sedangkan impor mencapai US$ 14,92 miliar pada Januari 2014. Sedangkan dana asing yang masuk pada awal 2014 pun lebih besar ke portofolio dibandingkan secara langsung. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total dana asing terus masuk ke Indonesia mencapai Rp 11,25 triliun di pasar modal Indonesia. Dana asing ini pun kemungkinan masuk lebih besar lagi. Dengan catatan data ekonomi Indonesia masih tetap membaik dan pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) berjalan lancar.

Dana asing masuk perlu diwaspadai karena kebanyakan investasi portofolio bukan FDI. Ini menjadi kekhawatiran apakah data ekonomi Indonesia membaik itu suistanable. Apalagi ekspor Indonesia belum membaik, kalau sentimen data ekonomi kurang baik bisa saja dana asing itu kembali keluar. Penguatan rupiah lebih dipicu dana asing yang keluar dari sejumlah negara seperti Thailand dan Jepang yang masuk ke Indonesia.

Penguatan rupiah terhadap dollar AS memang selalu kita harapkan, namun dalam tingkat dan batas yang wajar. Oleh sebab itu trend menguatnya rupiah yang terlalu cepat dan signifikan perlu diwaspadai, karena apabila hal ini terus terjadi akan dapat mengancam neraca pedagangan dan transaksi berjalan Indonesia. Impor non migas diprediksi akan semakin kencang meski tekanan pada impor migas mengecil. Hal ini disebabkan barang-barang impor (non migas) menjadi lebih murah sehingga akan menambah daya tarik tersenddiri bagi konsumen domestik. Sementara daya saing ekspor akan terganggu karena relatif mahalnya produk Indonesia di pasar internasional (akibat perubahan kurs yang terlalu cepat).

Pemerintah harus terus melakukan reformasi struktural untuk memperkuat fundamental perekonomian meskipun nilai tukar rupiah sedang mengalami penguatan terhadap dolar AS. Masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Kondisi saat ini mengarah positif tapi tetap harus waspada, karena (kondisi membaik) bukan berarti reformasinya harus berhenti.

Reformasi struktural yang sedang berjalan saat ini dapat dikatakan ada hasilnya, karena defisit neraca transaksi berjalan mulai mengecil dan menyebabkan kondisi makro perekonomian relatif kuat dari tekanan eksternal.