Inflasi Bisa "Mencapai" Target

BPS dan Bank Indonesia Prediksi

Selasa, 02/08/2011

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pemerintah tampaknya lebih memilih pencapaian target inflasi sebesar 5,3% ketimbang menaikkan harga BBM bersusidi. “BBM tak naik sangat mungkin 5,65%. Inflasi 5,3% (target inflasi APBN 2011) pun sangat optimistis bisa dicapai," kata Kepala BPS Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,1/8.

Menurut Rusman, dengan pencapaian inflasi hingga 7 bulan ini sebesar 1,74%, maka target inflasi dalam APBN-P 2011 sebesar 5,65% akan sangat mudah digapai. "Kalau lihat hingga 7 bulan ini, masih ada space sekitar 3,96%, rasanya saya optimistis 5,65% akan dicapai,” tambahnya.

Bahkan Rusman tak yakin inflasi bisa menembus di atas 5,56%. Alasanya bulan-bulan yang rawan itu adalah Juli-Agustus 2011. “Tidak mungkin melebihi karena yang sensitif itu Juli-Agustus. Setelah itu, setelah biaya sekolah, puasa, lebaran, inflasi lebih rendah," terangnya.

Apalagi apabila ditambah dengan penerapan pengetatan konsumsi BBM subsidi yang akan mendorong migrasi penggunaan dari pertamax ke premium dengan tidak mengambil opsi menaikkan harga premium, Rusman optimistis inflasi justru bisa berada pada kisaran target APBN 2011, yaitu sebesar 5,3%.

Diakui Rusman, terjadinya inflasi di Juli 2011 sebesar 0,67% juga disebabkan adanya deflasi oleh beberapa barang seperti bawang putih dan cabai rawit. "Selain ada komoditas yang harganya naik, ada yang harganya turun atau mengalami deflasi seperti bawang putih, bawang merah, cabai merah, tapi komoditas itu imported inflation," paparnya.

Selama ini Indonesia masih bergantung dengan produk-produk impor pertanian khususnya bawang merah dan bawang putih. Meskipun sebagian masih dipenuhi dalam dalam negeri khususnya bawang putih. "Sementara yang mengalami deflasi adalah bawang putih 0,08% karena diduga ada impor. Kemudian cabai rawit deflasi 0,03%," imbuhnya.

Ditempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasuiton juga memprediksikan inflasi Juli 2011 ini akan sedikit naik.Tpi masih rendah dibandingkan inflasi Juli 2010. "Inflasi lebih tinggi dari rata rata bulan sebelumnya, 0,8%-0,9%.

Menurut Darmin faktor pendorong naiknya inflasi pada Juli ini masih karena tingginya harga pangan di samping banyaknya even even seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru.

"Pangan masih di atas, beberapa minggu ini harga beras sedikit bergerak. Sehingga inflasi di bawah satu lah. Untuk year on year (yoy) sedikit di bawah lima persen sekira 4,8% lah," ungkapnya.

Lebih jauh Darmin menjelaskan, rendahnya inflasi pada Juli 2011 dibandingkan Juli 2010 dikarenakan musim ekstrim sudah tidak melanda Indonesia tahun ini. Sehingga inflasinya tifak setinggi inflasi pada Juli 2010. "Karena tahun lalu banyak hal, Juli tahun lalu anak-anak sekolah masuk, musim lagi ekstrim, sehingga cabai naiknya sampai Rp50 ribu. Sekarang musim ekstrim enggak ada, inflasi Juli ini, walaupun tekanan itu sudah siklusnya di kita," terangnya.

Sementara itu, ekonom asal UGM, Tony Prasetyatono mengatakan inflasi pada Juli kemarin memang mempunyai tren kenaikan, namun dengan adanya penguatan rupiah, maka inflasi dapat tertahan. "Ini berdampak pada penurunan barang-barang impor, terutama barang modal (capital goods) yang menyebabkan penurunan biaya produksi barang-barang sekunder," ujarnya.

Dengan adanya apresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), maka inflasi Juli diperkirakan dapat di bawah 1% atau berada di kisaran 0,9%. "Inflasi di atas 1% berpotensi terjadi pada Agustus, saat Ramadan dan Lebaran," tambahnya.

Karenanya, inflasi secara year on year (y-o-y) masih akan bercokol pada kisaran 5,5% atau 5,6%. Sehingga Bank Indonesia (BI) dianggap belum perlu melakukan perubahan atas tingkat suku bunga. "Masih aman jika BI rate ditahan 6,75% pada awal Agustus nanti," kata Tony. **vanya/cahyo