Pemerintah Diminta Terapkan Hilirisasi Timah

Sektor Pertambangan

Rabu, 12/03/2014

NERACA

Jakarta – Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara menilai upaya pemerintah dalam melakukan hilirisasi komoditas timah di dalam negeri belum terlihat. Pasalnya kebijkan yang ada saat ini hanya mendorong komoditas timah untuk diekspor. “Dengan potensi bahan baku timah yang dimiliki Indonesia, khususnya yang ada di Bangka Belitung, sepantasnya Indonesia merajai pangsa pasar produk timah di pasar global,” katanya kepada Neraca, kemarin.

Kebijakan pemerintah terkait mineral dan batubara, menurut Marwan, selama ini hanya fokus pada pertumbuhan ekspor, bukan pada sistem pengelolaan dan pengendalian cadangan minerba yang dimiliki Indonesia. “Khusus untuk timah, pada 2006 cadangan yang kita miliki sebesar 900.000 ton. Kalau setiap tahunnya diekspor sebesar 60.000 hingga 90.000 ton, maka cadangan yang kita miliki saat ini hanya tersisa untuk 10 hingga 12 tahun ke depan,” paparnya.

Jika tidak dikelola dengan benar, lanjut Marwan, potensi timah yang ada di Indonesia akan terus dinikmati oleh negara-negara lain. Pemerintah juga tidak tegas dalam menentukan lokasi pembangunan pabrik pengolahan timah yang saat ini justru dibangun bukan di Provinsi Bangka Belitung sebagai daerah penghasil bahan baku. “Saya tidak habis pikir mengapa pabrik tin chemical yang nilai tambah produknya 20 kali lipat dari produk hulu justru dibangun di Banten, padahal seharusnya pabrik tersebut dibangun daerah penghasil agar royaltinya juga dinikmati oleh masyarakatnya,” tandasnya.

Lebih jauh lagi, Marwan mengatakan ekspor timah pada 2013 juga mengalami keterpurukan. PT Timah hanya mengekspor 21%, sedangkan swasta mencapai 79%. Pada tahun sebelumnya, ekspor PT Timah hanya 28.364 MT atau 29%. Sedangkan ekspor dari perusahaan swasta mencapai 70.453 atau 71%. “Padahal luas WK Pertambangan, PT Timah (BUMN) 89,6% (516.097 ha), Koba Tin (Asing) 7,2% (41.680 ha), dan swasta hanya 3,2% (18.439 ha),” jelas Marwan.

Menurut Marwan, ini menjadi bukti perusahaan swasta memperoleh pasokan bijih timah dengan cara ilegal dari wilayah Indonesia. Marwan memaparkan, Industrial Technology Research Institute (ITRI) pada Desember 2013 merilis bahwa dari 27.800 ton impor timah ke Jepang, dalam 3 tahun terakhir, 50,4% diperoleh dari Indonesia. Sedangkan 29,8 persen melalui Malaysia dan Thailand. “Padahal Malaysia tidak memiliki tambang. Sedangkan Thailand hanya memproduksi tambang timah sangat kecil,” kata Marwan.

Marwan menuding, kondisi tersebut jga membuktikan bahwa Malaysia dan Thailand memperoleh timah dari tambang ilegal yang telah berlangsung bertahun-tahun.

PT Timah sebagai BUMN pun diminta untuk bangun satu pabrik hilirisasi untuk memanfaatkan sisa pengolahan berupa tanah-jarang (rare earth). “Jumat pagi saya akan berada di Bangka untuk minta kepada PT Timah mulai membangun pilot projek pengolahan tanah-jarang yang sangat strategis bagi bangsa Indonesia," ujar dia.

Dahlan menambahkan selama puluhan tahun belakangan PT Timah selalu hanya mengambil timah dan membiarkan sisa hasil olahan tersebut untuk dibeli pihak lain dan kemudian diekspor. Padahal, menurut dia, sisa hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan lebik baik dan memberikan nilai jual yang lebih tinggi sehingga akan menambah daya saing dan pendapatan perusahaan. “Rare earth itu sekarang menjadi barang yang penting di dunia, misalnya untuk bahan pembuatan layar TV, laptop, handphone, dan lain-lain,” tegas dia.

Perintah pembangunan pabrik ini, diungkapkan Dahlan karena PT Timah dinilai mampu dan memiliki catatan kinerja yang cukup bagus pada 2013. Dalam pembuatan pilot project ini orang nomor satu di Kementerian BUMN ini hanya memberikan waktu kurang dari satu tahun.

80% Diekspor

Sementara itu, produksi timah Indonesia di 2013 mencapai 44.000 ton. Dari jumlah itu, 80% diekspor ke luar negeri, dan negara importir memanfaatkan untuk membuat senjata, pesawat terbang, hingga ponsel pintar (smartphone). “Jadi 80% produksi timah kita di ekspor ke luar negeri, negara yang banyak minta adalah negara-negara industri seperti Jepang, China, dan Korea Selatan,” ujar Sekretaris Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan Junaedi.

Junaedi mengungkapkan, oleh negara-negara importir timah dari Indonesia, timah digunakan untuk membuat senjata api, komponen pesawat, televisi, sampai smartphone. “Intinya untuk barang-barang elektronik, ada juga buat peluru, senjata api dan banyak lagi. Di Indonesia sudah mulai banyak industri yang menggunakan timah, tapi jumlahnya masih kecil,” katanya.