Kemenperin: RI Harus Bangun 15 Pabrik Gula Baru

Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Rabu, 12/03/2014

NERACA

Jakarta - Untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, paling tidak Indonesia harus memiliki 15 pabrik pengolahan gula. Ini ditujukan agar Indonesia tidak selalu bergantung pada impor gula untuk memenuhi dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan kalau kebutuhan Indonesia 3 juta ton, berarti harus ada 15 pabrik dengan kapasitas 200 ribu ton yang harus dibangun.

Dia menjelaskan, selama ini pabrik-pabrik pengolahan gulan dalam negeri kualahan memenuhi permintaan gula yang setiap tahun terus meningkat. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah harus melakukan impor.

"Sekarang kita bekerja supaya kebutuhan gula bisa dipenuhi dari dalam negeri, itu yang paling penting, termasuk dari sisi industrinya. Karena industrinya ini kualahan, kebutuhan meningkat terus, paling tidak antara 7%-10% kebutuhan setiap tahun," kata Panggah di Jakarta, Selasa (11/3).

Menurut Panggah, pabrik pengolahan gula saat ini masih tidak maksimal. Hal ini membuat kapasitas produksi gula pun tidak mengalami peningkatan sehingga tidak bisa mengimbangi peningkatan kebutuhan gula.

"Ini bagaimana kita membuat pabrik-pabrik yang efisien untuk mengolah baik rawsugar maupun rafinasi. Sekarang ini pabrik-pabrik kita tidak efisien, sehingga randemennya rendah, kapasitas tidak nambah-nambah," jelasnya.

Oleh sebab itu, saat ini yang tengah digencarkan oleh pemerintah yaitu bagaiman pihak BUMN maupun swasta mau membangun pabrik-pabrik gula baru yang lebih efisien sehingga kapasitas produksi gulanya menjadi maksimal. "Jadi (Kementerian) Perindustrian ingin mendorong pembangunan pabrik-pabrik baru untuk mengolah baik itu rawsugar maupun untuk white sugarnya," Kata Panggah.

Dia menyatakan, sepanjang 2013 lalu, telah ada sekitar 3-4 pabrik gula baru yang dibangun. Hal ini diharapkan bisa kembali terjadi pada tahun ini sehingga kebutuhan 15 pabrik gula ini bisa segera terealisasikan. "Selama 2013 yang sudah mulai bangun 3-4 pabrik, itu terus kita dorong, itu ada di Lamongan, Dompu, Blora. Yang penting bangun pabrik, tdk bisa dibiarkan seperti ini terus. Kalau kita membangun pabrik gula kapasitas 200 ribu ton, itu investasinya butuh paling tidak US$ 200 juta sampai US$ 300 juta," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan,Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan kebutuhan gula nasional baik untuk konsumsi langsung rumah tangga maupun industri akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Pada tahun 2014 kebutuhan gula nasional mencapai 5,700 juta ton.

"Untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut diupayakan meialui Program Swasembada Gula Nasional. Secara kuantitatif sasaran yang ingin kita raih adalah tercapainya Swasembada Gula Nasional pada tahun 2014 dengan target produksi hablur sebesar 3,571 juta ton dari existing dan 2,129 juta ton dari perluasan dan pembangunan PG baru,” ujarnya.

Menurut Gamal sasaran tersebut diusahakan secara bertahap dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 dengan langkah-langkah intensifikasi untuk peningkatkan produktivitas tebu diatas 87 ton per ha dan peningkatan mutu atau rendemen sebesar 8,5% yang dilaksanakan melalui upaya Rehabilitasi tanaman tebu dengan bongkar ratoon dan rawat ratoon secara intensif penataan varietas dan penyediaan benih unggul bermutu melalui kultur jaringan penerapan budidaya sesuai baku teknis melalui percontohan atau demplot peningkatan kapabilitas petani melalui pemberdayaan petani, pengawalan dan pendampingan. Selain itu diusahakan dengan langkah-langkah ekstensifikasi dengan perluasan areal atau mempertahankan luasan yang ada dan pembangunan PG baru.

“Peningkatan tersebut kiranya akan dapat dicapai bila adanya sinergitas diantara seluruh aspek baik ditingkat on-farm maupun off-farm, meliputi sistem manajemen industri gula, rehabilitasi tanaman, penyediaan bibit bermutu, ketersediaan dana, ketersediaan pupuk, efisiensi manajemen tebang angkut dan rehabilitasi pabrik serta dukungan teknologi,” kata Gamal.

Hasil evaluasi akhir tahun 2009 dan sementara tahun 2010 menunjukan bahwa pencapaian sasaran produksi secara nasional memang beium sepenuhnya tercapai yaitu produksi pada tahun 2009 sebesar 2,6 juta ton masih 96 % dari target sebesar 2,8 juta ton sedangkan produksi tahun 2010 sesuai retaksasi September 2010 sebesar 2,29 juta ton atau 76,59 % dari target sebesar 2,99 juta ton.