Industri Furniture Indonesia Kalah Dari Malaysia dan Vietnam

Hanya Peringkat Ke-13 dari Eksportir Mebel Dunia

Rabu, 12/03/2014

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan industri furniture atau mebel Indonesia saat ini masih kalah dengan Malaysia dan Vietnam. Hal ini sangat menyedihkan mengingat Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) mereka jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia.

Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Soenoto mengatakan, fakta di lapangan, dari total ekspor mebel dunia pada 2013 yang mencapai US$ 124 miliar, porsi ekspor mebel Indonesia hanya US$ 1,7 miliar atau 1,5 % berkontribusi pada ekspor dunia. "Kita hanya peringkat ke-13 sebagai negara pengekspor industri mebel," kata Soenoto di Jakarta, Selasa (11/3).

Posisi Indonesia ini jauh di bawah kemampuan ekspor mebel Vietnam yang mampu mencapai sekitar US$ 4,2 miliar dan sekaligus menduduki eksportir ke-4 terbesar dunia. Kemudian Malaysia, yang SDM dan SDA jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia, mampu mengekspor mebel sebesar US$ 2,4 miliar. "Padahal 10 tahun lalu industri mebel mereka belum diperhitungkan. Sekarang Malaysia pengekspor mebel peringkat ke-8 dunia," katanya.

Dengan melihat kondisi ini, AMKRI berjanji akan memajukan industri mebel dan kerajinan nasional agar tampil di pentas regional dengan target menjadi yang terdepan dan terbesar. "Kita target Indonesia menjadi negara pengekspor mebel dan kerajinan menjadi 5 besar dunia," tegasnya.

AMKRI menilai, industri mebel ini mempunyai peranan penting bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam memberikan kontribusi pada penciptaan kesempatan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Multiplier effect yang dihasilkan industri ini besar, mulai dari pengrajin yang menyuplai barang setengah jadi ke pengusaha eksportir, pedagang kayu dan rotan dan banyak yang lainnya," tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, target ini sangat mungkin dicapai dalam kurun waktu 5 tahun mengingat Indonesia memiliki sumber bahan baku produk mebel yang sangat melimpah. Bahkan beberapa diantaranya tidak dimiliki oleh negara lain.

"Ini karena banyak sekali bahan baku yang hanya dimiliki oleh indonesia secara spesifik seperti mahoni, kayu jati, rotan. Itu hanya ada dihutan Indonesia itu adalah sale point. Jangan sampai negara lain menggunakan kelebihan ini untuk berjualan lebih banyak lagi," ujarnya.

Hidayat juga mengaku resah dengan posisi Indonesia yang hanya menempati posisi ke-13 sebagai negara pengekspor mebel. Padahal negara sesama anggota lain seperti Vietnam dan Malaysia yang notebenenya tidak memiliki bahan baku mebel sebanyak Indonesia. "Saya juga resah melihat perbandingan ekspor yang kalah dengan Vietnam dan Malaysia. Marilah mulai saat ini memperkuat industri furniture indonesia," katanya.

Oleh sebab itu, Hidayat meminta kepada para pelaku usaha untuk bersungguh-sungguh meningkatkan produksi dan kreatifitas produk mebel dalam negeri sehingga target tersebut bisa tercapai.

"Saya minta anda-anda ini untuk bekerja keras selama 5 tahun supaya target US$ 5 miliar dalam 5 tahun ini bisa tercapai, meskipun pemerintah berganti, produksi anda harus tetap meningkat," tandasnya.

Menurut Hidayat pengembangan industri furniture dan kerajinan merupakan salah satu industri prioritas yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi serta berdaya saing. "Daya saing industri furniture dan kerajinan Indonesia di pasar global terletak pada sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan serta didukung oleh keragaman corak,desain maupun sumber daya manusia yang cukup kompeten," kata dia.

Tantangan industri furniture dan kerajinan, menurut Hidayat, adalah penerapan Asean Economic Community (AEC) 2015. AEC diharapkan dapat menjadi komunitas antar negara-negara Asean.

"Menghadapi AEC 2015 di sektor industri antara lain kenaikan upah minimum regional (UMR) dibeberapa daerah yang cukup signifikan, masih kurangnya pasokan gas untuk industri, belum terjaminnya pasokan bahan baku, masih minimnya insentif bagi industri padat karya dan kondisi infrastruktur yang belum membaik sehingga menyebabkan tingginya biaya logistik," paparnya.

Tren furniture dunia, lanjut Hidayat, terus berubah dan berkembang menuntut perhatian tersendiri dari para pelaku industri. Diperlukan usaha ekstra keras untuk terus memperbaharui desain produk furniture sesuai trend terkini berciri khas Indonesia. "Dalam mengatasi terbatasnya jumlah desainer yang menaruh minat pada industri furniture, kamu ikut membantu dan memfasilitasi pembangunan pusat desain furniture," ujarnya.

Sedangkan Menteri Perdagangan, M. Lutfi menambahkan, industri furniture harus mendekatkan pada bahan baku maupun konsumen. Saat ini, permintaan furniture dari dalam negeri di pasar ekspor terus bertambah. "Indonesia memiliki bahan baku furniture yang sangat mumpuni. Hal ini menjadi keunggulan produk dari dalam negeri di pasar ekspor," tandasnya.