Menghitung Untung Prospek IPO WIKA Beton

Tantangan Hadapi Pemilu

Selasa, 11/03/2014

NERACA

Jakarta- Pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) menjadi alternatif pembiayaan bagi perusahaan untuk menopang pengembangan usahanya. Di bulan Maret ini, anak usaha dari perusahaan pelat merah, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), yaitu Wika Beton dikabarkan akan segera merealisasikan rencana pelepasan sahamnya ke publik. Harga saham perdana yang ditawarkan berkisar sebesar Rp470-Rp630 per saham.

Melalui hajatan ini, manajemen perseroan pun optimis dapat mengantongi dana segar sekitar Rp1,2 triliun-Rp1,3 triliun dari jumlah saham yang akan dilepas sebanyak-banyaknya 2,045 miliar saham atau sekitar 23,47% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Memang, dari harga yang ditawarkan perseroan memang terbilang cukup menarik sehingga tidak heran kalau Wika Beton menjadi salah satu calon emiten baru yang menuai komentar dan ditunggu pasar.

Apalagi Wika Beton tercatat sebagai anak usaha BUMN. “Harga yang ditawarkan oleh WIKA Beton cukup murah. Apalagi prospek kinerja WIKA Beton juga baik setelah Pemilu Presiden nanti,” kata Analis Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio.

Tercatat, hingga Desember 2013, Wika Beton mencatatkan total aset sebesar Rp 2,9 triliun. Pendapatan usaha sepanjang 2013 dilaporkan mencapai Rp 2,6 triliun dengan laba usaha Rp 336 miliar. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Wika Beton mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 30%.

Selain Bertoni Rio, Managing Partner PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe juga menanggapi rencana IPO Wika Beton ini. Dia menilai, harga saham yang ditawarkan perseroan termasuk dalam kategori standar. Sebagai sebagai anak usaha BUMN, saham Wika Beton diprediksi akan diminati investor. Namun dia sempat curiga dengan pertumbuhan perusahaan yang cukup tinggi. “Sebetulnya agak curiga dengan growth-nya saja, takutnya di tahun ke depan tidak seperti yang diharapkan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Keuangan WIKA Entus Asnawi mengatakan, dana tersebut akan disalurkan untuk membangun pabrik baru di Lampung dan Bogor, termasuk untuk mengakuisisi pabrik beton di Kepri, Batam. Dengan pembangunan pabrik baru tersebut, total kapasitas produksi Wika Beton ditaksir bisa mencapai 2,25 juta ton per tahun dari kapasitas produksi saat ini sekitar 2 juta ton per tahun.

Entus mengatakan saat ini WIKA Beton menjadi penguasa pasar beton pracetak dengan ceruk pasar 43%. Dengan penambahan kapasitas produksi sebagai hasil belanja dana IPO, pangsa pasar WIKA Beton akan naik hingga 47%. Pada 2014, penguasaan pasar WIKA Beton kemungkinan akan lebih besar jika rencana mengakuisisi perusahaan pembuat beton pracetak lain selesai dilakukan.

Bahkan pihaknya berani memasang target laba bersih Wika Beton tahun 2014 sebesar Rp 280 miliar, meningkat dari perkiraan laba bersih 2013 sekitar Rp 240 miliar atau tumbuh 16,67%. Dalam prospektus yang dirilis perseroan, masa penawaran awal (bookbuilding) IPO Wika Beton digelar pada 4 Maret-17 Maret 2014. Sementara itu, pencatatan (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditargetkan dapat dilaksanakan 3 April 2014. Dalam aksi korporasi itu, Wika Beton menunjuk empat penjamin emisi efek (underwriter), yakni PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Sucorinvest Central Gani. (lia)