Investasi Indocement Bengkak Rp 7 Triliun

Terhambat Soal Amdal

Selasa, 11/03/2014

NERACA

Jakarta – Seiring dengan rencana penambahan kapasitas produksi semen menjadi 1,9 juta ton, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) makin agresif membangun pabrik baru dan teranyar, perseroan tengah membangun pabrik semen di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Alhasil, dengan pembangunan pabrik baru tersebut, nilai investasi perseroan tahun ini membengkak hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Perseroan diperkirakan harus merogoh kocek hingga Rp7 triliun agar pabrik semen tersebut bisa beroperasi. Pembengkakan nilai investasi ini seiring lambatnya proses pembuatan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pabrik semen yang akan didirikan di Kecamatan Kayen dan Tambakromo Kabupaten Pati.

Melalu anak perusahaannya yakni PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS) sudah mulai menggarap Amdal sejak 2011. Namun hingga tiga tahun dokumen tersebut tidak kunjung rampung. Ada banyak penyebab terkait lambatnya proses ini. Mulai dari hal-hal teknis yang memang harus diakomodir dalam dokumen Amdal hingga masih adanya penolakan dari sekelompok elemen masyarakat,”Dulu taksiran kita investasi hanya sekitar Rp4 triliun. Tapi kalau sekarang angkanya bisa tembus Rp7 triliun," kata Direktur PT SMS, Alexander Frans di Pati, kemarin.

Saat ini, kata Alex proses penyusunan dokumen Amdal sudah memasuki tahap finishing. Pihaknya hanya tinggal melengkapi hasil kajian terkait lalu lintas kendaraan jika pabrik semen tersebut sudah beroperasi.

Pihaknya berencana akan melebarkan akses jalan sejauh 18 kilometer dari Jembatan Tanjang yang mengarah ke lokasi tapak pabrik dan lokasi pengambilan bahan baku di Kecamatan Kayen dan Tambakromo. Badan jalan yang semula 4,5 meter akan dilebarkan hingga 8 meter. "Kalau diprosentase sekarang sudah di atas 90 persen," ujarnya.

Alex memperkirakan dokumen Amdal tersebut benar-benar rampung akhir Maret ini. Setelah itu, dokumen tersebut siap diuji publik dalam sidang komisi Amdal yang dihadiri berbagai pihak terkait, termasuk perwakilan warga yang mendukung maupun menolak pendirian pabrik semen di Pati,”Nanti silakan dikritisi dokumen itu. Yang pasti berbagai masukan, saran hingga kritik dari masyarakat sudah kita akomodir. Kami siap menerima apapun hasil dari sidang Amdal itu," pungkasnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan bisnis menjadi 6% dibandingkan tahun lalu 5,5%. Sementara belanja modal dianggarkan sekitar Rp4 hingga Rp5 triliun. Direktur Keuangan perseroan Tju Lie Sukanto pernah bilang, belanja modal ini akan digunakan untuk menggenjot kapasitas produksi dengan pembangunan pabrik integrated semen di Citeureup, Jawa Barat.

Nantinya, pabrik baru tersebut memiliki kapasitas 4,4juta ton semen per tahun di Citeruep. Selain untuk pabrik, capex perseroan juga akan digunakan untuk proyek-proyek lain meskipun yang utamanya adalah pembangunan pabrik. Dana capex perseroan menggunakan dana internal karena perseroan mempunyai cadangan yang cukup. (bani)