Korea Selatan Diminta Investasi di Sektor Industri

Perjanjian Kerjasama Ekonomi

Selasa, 11/03/2014

NERACA

Jakarta - Pemerintah menginginkan investasi dari Korea Selatan untuk pembangunan industri komponen dan mesin alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Indonesia, dan hal tersebut diharapkan dapat masuk di perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antar kedua negara (Indonesia-Korea Commprehensive Economic Partnership Agreement/IK-CEPA).

Menteri Perindustrian MS Hidayat selaku wakil pemimpin tim negosiator IK-CEPA mengatakan selain investasi di sektor elektronik, petrokimia, baja, dan mineral dari Korsel, pemerintah juga bersepakat mengusulkan investasi dari negara produsen pesawat tempur itu di sektor komponen alutsista.

Usulan beberapa sektor sasaran investasi itu juga menjadi sikap terakhir pemerintah menjelang negosiasi ke-8 antara Indonesia dan Korsel, yang dilaksanakan sebelum Mei 2014. "(Komponen alusista) itu investasi yang kita harapkan dari Korsel," ujar Hidayat di Jakarta, Senin (10/3).

Selama ini, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang alusista, di antaranya, berupa kerja sama mengenai pembuatan pesawat tempur yang diberi nama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX).

Indonesia memang masih mengimpor sejumlah alusista. Maka itu, dengan mengucurnya investasi untuk komponen alusista, diharapkan Indonesia dapat mengembangkan produksi alusista dalam negeri.

Namun, investasi Korsel ke Indonesia, masih terkonsentrasi di sektor industri karet, plastik, kimia, tekstil, gas, air dan baja. Menurut KBRI Seoul, pada 2013 realisasi investasi Korsel ke Indonesia adalah sebesar US$ 2,2 miliar meningkat 15,7 % dari tahun 2012, sebesar US$ 1,95 miliar. "Maka dari itu, komponennya adalah bagian dari industri yang kita harapkan masuk," ujar Hidayat.

Mengenai target dan besaran investasi, baik Menperin dan Mendag Luthi mengaku belum dapat membeberkannya sebelum disepakati oleh kedua negara. Kemenperin, dalam beberapa kesempatan, menyatakan pengembangan industri alusista, maupun komponennya memang membutuhkan modal besar dengan dukungan teknologi yang tinggi.

Di sektor lain, Korsel juga masih mengkaji untuk mengucurkan investasi seperti di bidang besi baja dan otomotif. Misalnya, untuk investasi perusahaan baja Korsel, POSCO, kedua perwakilan negara masih dalam proses perundingan.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan pemerintah terus berusaha menyelesaikan perudingan perdagangan bebas Indonesia-Korea. IK-CEPA diharapkan mampu menarik investasi dari Korea ke Indonesia dan menciptakan perdagangan yang adil kedua negar "Jadi kita duduk sama-sama untuk mereview kembali rencana perjanjian IK CEPA. Saya tentunya menganggap yang penting diinginkan Indonesia. Kita ingin mendapatkan perdagangan yang adil yang mesti bermanfaat bukan saja untuk Indonesia tetapi untuk Korea," ungkap Lutfi.

Lutfi menambahkan, pihaknya optimistis perundingan IK-CEPA masih berada pada jalur yang sesuai karena pada prinsipnya perundingan tersebut merupakan perundingan lanjutan antara ASEAN dengan Korea.

"Saya mengatakan perjanjian ini bermanfaat kepada kedua negara. Itemnya ada di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Indonesia itu open to business. Ada opsi-opsinya dan saya minta dubes (Indonesia untuk Korea) untuk menyelesaikan secara diplomasi," imbuhnya.

Untuk produk yang masuk ke dalam daftar perjanjian kerja sama IK CEPA, pihak Korea telah menawarkan Indonesia seperti sektor otomotif, baja, elektronik, petrokimia, dan otopart.

Sedangkan Indonesia menawarkan Korea sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan produk makanan olahan yang memliki potensi cukup besar dan diminati di Korea, dan Indonesia juga mengincar sektor industri komponen dan suku cadang.

"Kita punya opsinya seperti otomotif, besi baja, perikanan, pertanian dan kehutanan, juga elektronik. Di antara itu ada yang sudah selesai (sudah disepakati dan masuk ke dalam daftar)," jelasnya.

Perundingan pertama IK-CEPA telah dilaksanakan masing-masing pada 12 Juli 2012 dan 10-11 Desember 2012 di Jakarta, dan pada kedua pertemuan tersebut, kedua negara menyepakati Terms of Reference (TOR) IK-CEPA yang didasarkan pada prinsip 'common understanding'.

Sementara perundingan ketiga diselenggarakan pada 29-31 Mei 2013 dengan fokus untuk menyelesaikan perundingan secara menyeluruh pada perundingan kedelapan yang akan berlangsung bulan Mei 2014.

Total Perdagangan Indonesia-Korea Selatan pada tahun 2012 mencapai US$ 27 miliar dengan nilai ekspor sebesar US$ 15 miliar dan impor sebesar US$ 11,9 miliar atau turun 8,06% jika dibandingkan dengan 2011.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Korea sejak tahun 2007 hingga 2011 menunjukkan Indonesia mengalami surplus perdagangan, dan pada tahun 2012 Indonesia mendapat surplus sebesar US$ 3 miliar.

Tapi, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Januari 2014 tercatat defisit sebesar US$0,43 miliar. Kinerja neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang menurun dan defisit neraca perdagangan migas yang meningkat. Surplus neraca perdagangan nonmigas menurun dari US$2,32 miliar pada Desember 2013 menjadi US$0,63 miliar.