Ekspansi Bisnis, Elnusa Akuisisi Pengelolaan Biodiesel

Siapkan Dana US$ 15 Juta

Selasa, 11/03/2014

NERACA

Jakarta – Menyadari bakal berprospeknya bisnis biodiesel kedepan, seiring dengan instruksi pemerintah untuk menggunakan tenaga alternatif. Anak usaha Pertamina, PT Elnusa Tbk (ELSA) akan ekspansi bisnis ke biodiesel dengan rencana mengakuisisi perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan biodiesel.

Vice President New Venture PT Elnusa Tbk, Sri Nirbito mengatakan, perseroan telah menyiapkan dana sekitar US$ 15 juta untuk mengakuisisi perusahaan pengolahan biodiesel. Dimana dana akuisisi termasuk dalam penyediaan belanja modal perusahaan pada tahun ini sebesar Rp1,2 triliun,”Saat ini kami sedang melakukan studi kelayakan,”ujarnya di Jakarta, Senin (10/3).

Menurut Nirbito, langkah akuisisi ini diambil karena rencana perseroan untuk membangun sendiri pabrik pengolahan (refinery) biodiesel membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beroperasi secara optimal. Oleh karena itu, upaya yang paling minimal adalah dengan akuisisi.

Dirinya enggan menjelaskan secara detail mengenai perseroan untuk mengambil langkah akuisisi. Alasannya, saat ini belum ada hasil dari uji kelayakan yang sedang dilakukan perseroan. Selain itu, perseroan juga sedang mengkaji lima lokasi yang akan dimanfaatkan untuk pengolahan biodiesel,”Kita perlu lihat di mana tempat yang maksimum hasilnya,"ujarnya.

Sementara Vice President of Corporate Finance Elnusa, Nurkholis menjelaskan, belanja modal tahun ini sebesar Rp 1, 2 triliun akan digunakan untuk pengembangan bisnis dan eskpansi perseroan. Disebutkan, dana capex kurang lebih Rp550 miliar untuk mengembangkan fokus bisnis utamanya yakni Drilling & Oilfield Services (DOS).

Asal tahu saja, untuk aksi korporasi perseroan akan didanai dari kas internal sebesar 30% dan sisanya pinjaman perbankan. Saat ini, posisi Dept Equity Ratio (DER) perseroan, kata Nurkholis masih dibawah 1%. Oleh karena itu, dirinya menyakini untuk melakuan pinjaman perbankan masih aman.

Target Pendapatan

Maka dengan berbagai macam rencana pada tahun ini, ELSA pada tahun ini menargetkan pertumbuhan pendapatan perusahaan mencapai Rp5 triliun. Komposisinya bisnis upstream 63%, downstream 32%. Sisanya bisnis. Disamping itu, perseroan juga melakukan divestasi aset yang tidak produktif,”Kita sedang evaluasi, ini membuat bagaimana margin yang lebih baik untuk area bisnis kita,"tandasnya.

Sepanjang tahun 2013, Elnusa membukukan laba bersih sebesar Rp238 miliar atau naik 86% dibandingkan 2012 senilai Rp127,9 miliar. Naiknya laba bersih seiring dengan peningkatan laba usaha sebesar 16% menjadi Rp293 miliar dari Rp252 miliar. Akan tetapi, pendapatan usaha perseroan mengalami penurunan 14% dari Rp4,7 triliun menjadi Rp4,1 triliun.

Kata Nurkholis, penurunan itu disebabkan beberapa kendala pada bisnis seismik serta dikuranginya porsi pendapatan dari bisnis-bisnis downstream yang memiliki marjin rendah. Namun dengan implementasi proyek manajemen yang efektif, perseroan mampu menurunkan persentase cost of revenue perusahaan terhadap pendapatan dari 88% menjadi 84%,”Penurunan revenue tahun lalu juga dikarenakan ada beberapa project yang delay, dan penurunan revenue dari anak usaha,”tuturnya.

Meskipun mengalami penurunan pada tahun lalu, perseroan optimis target pendapatan dan laba bersih perseroan di tahun ini dapat tercapai. Emiten perusahaan jasa energi ini menargetkan laba bersih Rp185 miliar.Untuk mencapai target tersebut, salah satu langkah yang dilakukan perusahaan adalah secara bertahap perseroan akan mengurangi porsi bisnis downstream karena memberi marjin rendah.

Tahun ini, PT Elnusa Tbk menargetkan kontrak sebesar US$ 300 juta. Sampai dengan periode Februari 2014, perseroan telah memperoleh kontrak sekitar US$ 170 juta,”Tahun ini target kontrak kami sekitar US$ 300 juta, carry over tahun tahun sebelumnya ada US$ 200 juta. Namun, sampai dengan Februari kemarin, kami sudah mendapat kontrak baru dan lama sekitar US$ 170 juta,” kata Investor Relation Elnusa Rifqi Budi Prasetyo.

Dengan capaian itu, dia mengatakan, perseroan masih mengincar sekitar US$ 130 juta lagi hingga penghujung tahun ini. Sementara pada 2013, Elnusa berhasil mengantongi kontrak sebesar US$ 551 juta. Kontrak tersebut diperoleh dari core bisnis perseroan, yakni jasa hulu minyak dan gas (migas). Perseroan menyatakan, kontrak itu merupakan gabungan dari hasil sisa carry over tahun sebelumnya dan kontrak baru di 2013,”Sebesar US$ 178 juta sisa carry over tahun 2012 dan tahun-tahun sebelumnya, sedangkan US$ 373 untuk kontrak baru,”ungkapnya. (bani)