Rupiah Menguat, Nilai Impor BBM Diprediksi Turun

Perdagangan Minyak

Selasa, 11/03/2014

NERACA

Jakarta – Menguatnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar diprediksi membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia khususnya masalah importasi Bahan Bakar Minyak (BBM). Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi meyakini nilai impor BBM bakal berkurang seiring dengan menguatnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar.

Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami perbaikan. Sempat menyentuh angka Rp12.000 per dolar, kini rupiah bertengger di kisaran angka Rp11.400 per dolar. Mendag menyatakan bahwa hal tersebut menjadikan adanya perbaikan. “Dengan penguatan Rupiah artinya impor kita terutama di bidang migas (minyak dan gas bumi) akan terjadi perbaikan,” kata Mendag di Jakarta, Senin (10/3).

Penguatan nilai rupiah tersebut juga akan berdampak pada melemahnya nilai ekspor. Lutfi memprediksi nilai ekspor juga akan mengelami penurunan. “Ekspor kita juga akan mengalami harga yang lebih tajam, lebih sulit. Ini yang kita sedang lihat,” imbuhnya. Namun demikian, Mantan duta besar Indonesia untuk Jepang ini mengklaim, struktur ekonomi Indonesia saat ini semakin membaik. Begitu pula dengan kondisi perekonomian dunia.

Namun begitu, Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Juniman menilai pergerakan harga minyak dunia saat ini masih terbilang tinggi. Bahkan trend harga cenderung mengalami kenaikan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terus bergerak ke atas harga US$ 100 dolar per barel. Jika trend kenaikan harga tetap terjadi, diprediksikan nilai impor Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun 2014 akan membengkak.

Juniman bilang, harga minyak berperan cukup besar dalam menentukan nilai impor BBM. Meskipun pembelian minyak yang dilakukan oleh Indonesia melalui mekanisme forward trading, tetapi jangka waktunya tidak terlalu lama. Faktor lain yang mempengaruhi impor minyak adalah tingkat konsumsi dalam negeri. Ia meramal, konsumsi minyak dalam negeri diperkirakan masih tetap tinggi. "Faktor harga dan konsumsi jika meningkat akan mendorong impor minyak kita," ujar Juniman.

Kurangi Impor

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengimbau Indonesia tak bisa berharap terlalu tinggi terhadap perbaikan nilai tukar rupiah selama impor minyak masih tinggi. Impor Bahan Bakar Minyak (BBM) selama ini telah memicu defisit neraca pembayaran Indonesia yang tak kunjung menunjukkan angka surplus. Defisit neraca pembayaran yang masih cukup lebar inilah yang pada akhirnya mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. “Jangan harapkan nilai tukar membaik kalau impor minyak masih sebesar itu,” ungkap Agus.

Agus mengimbau pemerintah untuk lebih selektif dalam mengeluarkan kebijakan terkait impor. Bank sentral menilai masih banyak impor yang dilakukan dengan tujuan kurang efektif dalam menjaga pertumbuhan ekonomi negara. “Kalau impor dikarenakan impor barang untuk investasi itu sesuatu yang baik, tapi yakinkan bahwa itu untuk betul-betul memberikan manfaat sehigga nanti tidak menjadi sesuatu yang melemahkan Indonesia,” tegas Agus.

Tidak hanya minyak, BI juga mengungkapkan penyebab pelemahan rupiah imbas defisit neraca pembayaran terjadi karena masih tingginya adalah impor bahan pangan. Komodita sini mampu memberikan peluang defisit neraca transaksi perdagangan Indonesia yang kembali membesar. “Jangan harapkan juga satu nilai tukar yang membaik kalau potensi terjadinya defisit neraca transaksi perdagangan yang bgitu besar. Ini harus dilihat,” cetus mantan Menteri Keuangan itu.

Melihat persoalan yang muncul, Agus mengajak agar pemangku kepentingan untuk meningkatkan kemandirian bangsa Indonesia melalui reformasi struktural. “Ayo kita perbaiki neraca kita, karena impor minyak masih besar, kita perbaiki neraca pangan, kita perbaiki infrastruktur, kita tingkatkan kemandirian ekonomi nasional, kita juga bangkitkan kesempurnaan sistem pembiayaan ekonomi nasional, itu kalau kita rangkum menjadi satu reformasi struktural,” tukasnya.

Berdasarkan data laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Total impor minyak pada Januari 2,4 juta ton atau US$ 2,3 miliar atau Rp 25 triliun. Sementara untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dilaporkan mencapai 1,2 juta ton atau US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.

Dari total tersebut, impor BBM terbesar berasal dari Singapura dengan catatan 886 ribu ton atau senilai US$ 918,6 juta. Tahun 2013 silam, impor dari negara tetangga ini mencapai 9,6 juta ton atau US$ 9,7 miliar. Selain Singapura, BBM juga diimpor dari negara lain yaitu, Malaysia dengan jumlah 300 ribu ton atau US$ 306,7 juta, Korea Selatan dengan jumlah 53 ribu ton atau US$ 57,04 juta, Saudi Arabia dengan jumlah 23 ribu ton atau US$ 31,7 juta.