Cermati Flattening Yield Curve

Oleh : Tumpal Sihombing

Dirut Bond Research Institute (BondRI)

Yield curve (YC) adalah kurva imbal hasil dalam ranah obligasi. YC adalah garis yang menggambarkan hubungan kuantitatif antara variabel suatu tenor (jangka waktu investasi) dengan imbal hasilnya. Secara umum, semakin panjang tenornya, semakin tinggi imbal hasilnya. Kondisi ini digambarkan dalam bentuk positive YC, sebagai perwujudan suatu frasa dalam invesetasi :“the higher the risk, the higher the return". Suatu negara yang bermasalah dengan pasar obligasi dalam negerinya, memiliki formasi yield curve yang negatif, artinya yield jangka panjang lebih rendah daripada yield jangka pendek. Dalam konteks praktis, jangan pernah berinvestasi di negara yang pasar obligasinya memiliki YC negatif.

Apa yang terjadi dengan bentuk YC Indonesia? Saat ini YC obligasi seri pemerintah kita masih berbentuk positif. Yang perlu dicermati adalah kecenderungan formasinya yang mulai mendatar, atau sering disebut sebagai Flattening YC. Dalam valuasi BondRI untuk YC obligasi pemerintah (GSYC) berdenominasi IDR, perbedaan yield bertenor 5 hingga 30 tahun adalah 0.9733% (valuasi 7 Mar 2014), turun sangat drastis jika dibandingkan figur valuasi per 7 Feb 2014, yang selisihnya hingga 1.6372%. Untuk GSYC berdenominasi US$, kondisinya kontradiktif dalam valuasi BondRI, dimana per valuasi 7 Feb 2014 selisih yield antara tenor 5 hingga 30 tahun adalah 2.0327%, sementara selisih per valuasi 7 Mar 2014 adalah 2.2776%. Artinya, GSYC Rp sedang flattening, sementara GSYC US$ sedang steepening.

GSYC IDR yang mengalami flattening ini sering disebut narrowing yield gap, yang menggambarkan yield yang bertenor panjang turun lebih cepat daripada yield obligasi pemerintah yang bertenor pendek, atau sebaliknya yield bertenor pendek naik lebih cepat daripada yield obligasi pemerintah bertenor panjang. Untuk kondisi pasar Indonesia (IDR denomination), kondisi yang terjadi adalah imbal hasil bertenor panjang turun lebih cepat daripada imbal hasil obligasi pemerintah bertenor pendek.

Secara umum, flattening YC mengindikasikan turunnya ekspektasi investor terhadap laju inflasi di masa depan. Kondisi ini secara umum juga dapat menggambarkan suatu bentuk antisipasi partisipan ekonomi terhadap perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi.

Secara khusus, kondisi ini dapat dihubungkan dengan profil bondholder domestik yang didominasi oleh investor institusi serta mengolekasi lebih banyak obligasi yang bertenor panjang. Jika dikaitkan dengan kondisi flattening YC dimana harga obligasi bertenor panjang naik lebih cepat daripada yang bertenor pendek, maka investor institusi pasar obligasi cenderung lebih menggantungkan nasib valuasi portofolio aset kelolaannya pada efek yang bertenor menengah ke panjang daripada yang bertenor pendek. Jika para investor menilai seperti ini, maka ada peluang bahwa laju inflasi akan mengalami penurunan dalam kondisi perekonomian yang normal, baik domestik maupun global.

Dalam laporan Tresuri rilis BondRI per 7 Maret 2014, kondisi perekonomian domestik sedang mengalami penurunan minor berdasarkan figur BondRI Domestic Economic Score. Kondisi ini disumbang oleh ranah mikroekonomi dan fiskal yang kurang kondusif saat ini. Ini layak untuk dicermati dan diwaspadai.

Flattening YC tidak selalu berkonotasi negatif. Namun jika formasi kurvatur YC ini konsisten mengalami flattening selama 2(dua) kuartal berturut-turut ke depan, maka para perumus kebijakan ekonomi nusantara sudah seharusnya merasa waswas dan bersikap preventif terhadap potensi formasi negatif YC.

Related posts