Menggugat Industrialisasi Pendidikan

Oleh Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Selasa, 11/03/2014

Kata industri kerap kita dengar yang biasanya digambarkan dan dikaitkan dengan kegiatan manufaktur atau pabrik dan rekayasa barang mentah menjadi barang jadi dan seterusnya. Kegiatan industri adalah pengejawantahan dari satu konsep ekonomi liberal yang berasal dari (negara-negara) Barat. Salah satu faktor utama dalam sistem ini adalah modal atau permodalan (Kapital) yang menjadikan sistem ekonomi Barat ini memiliki ciri khas sehingga sering disebut juga sebagai ekonomi kapitalistik. Proses industri dalam sistem ekonomi kapitalistik ini bersifat efisien, efektif produktif dan orientasi profit. Jadi, industri diarahkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Kemajuan Barat dibidang ekonomi tidak terlepas dari peran sektor industri manufaktur yang terus memproduksi barang-barang konsumsi warga dunia, tidak hanya terbatas pada masyarakat Barat saja. Fenomena keberhasilan ekonomi Barat melalui sektor manufaktur ini membuat pemangku kepentingan dan perumus kebijakan di sektor non industri seperti kesehatan dan pendidikan berupaya meniru konsep industri tersebut untuk diimplementasikan pada sektor yang secara tradisional sebenarnya bukanlah industry. Tetapi kecemerlangan kinerja industri dalam ekonomi kapitalistik ini bisa membuat pelaku sektor lain tergiur tak kecuali di bidang pendidikan.

Oleh karena itu muncul istilah industrialisasi pendidikan yang menganggap bahwa kegiatan pendidikan juga bisa disandingkan dengan kegiatan dunia industri. Kalangan yang mendukung anggapan ini bahkan menyebut pendidikan sebagai noble industry (suatu industri yang mulia). Apakah pendidikan dapat disamakan dengan proses industri? Filosofi ekonomi kapitalistik yang mengejawantahkan proses industri sebagai bagian melekat dalam pencapaian tujuan ekonomi selalau terkait dengan untung rugi dan bersandar pada azas efisiensi, efektivitas dan profit making. Kegiatan yang tidak mendasarkan pada ketiga azas ini terutama azas memperoleh keuntungan maksimal bukanlah proses industri tetapi lebih layak disebut kegiatan di lembaga sosial. Konsep industrialisasi pendidikan pada akhirnya berujung pada komersialisasi pendidikan dan apabila fenomena ini yang mencuat maka tentu tidak sejalan hakekat dan makna pendidikan yang merupakan kegiatan sosial yang mulia.

Dampak dari industrialisasi dan komersialisasi pendidikan amat parah. Biaya pendidikan akan mahal, hanya orang-orang berduit yang menikmati pendidikan dengan fasilitas mewah. Sistem pendidikan menjadi pramagtis, bersifat mekanistik dan transaksionalisme kegiatan pendidikan bisa jadi akan tumbuh sumbur. Aktivitas pendidikan seolah menyatu dengan dunia bisnis yang selalu berorientasi untung rugi, lalu orang yang terpinggirkan secara ekonomi akan jauh dari pelayanan pendidikan karena status sosial ekonomi merupakan bagian dari acuan pelaksnaan pendidikan, maka terjadilah diskriminasi di dalam dunia pendidikan. Parahnya lagi pemerintah akan menyerahkan persoalan pendidikan pada masyarakat (swasta) sebagaimana pandangan ekonomi liberal yang menyerahkan proses ekonomi pada mekanisme pasar. Jika ini yang terjadi maka pendidikan semakin runyam tidak dapat meangangkat derajat manusia pada tingkatan budi pekerti agung (akklhkul karimah) sesuai dengan yang diajarkan agama (Islam).

Proses pendidikan yang meniru proses industri hanya menjadikan anak didik seolah-olah sebagai obyek bukan subyek karena jika pendidikan mengacu pada proses industri maka pendekatan yang dilakukan adalah behavioristik terukur. Dalam proses industri pendekatan behavioristik terukur memang diperlukan karena setiap fase proses memiliki standar yang ditentukan, sehingga output yang akan diperoleh sesuai dengan kepuasan pengguna atau memenuhi spesifikasi yang ditentukan, sehingga barang produksi sebagai output adalah obyek bukan subyek. Kegiatan industri dimulai dari penyediaan bahan baku mentah (raw material) yang telah distandarisasi kemudian melalui proses yang juga distandarisasi serta verifikasi hasil terhadap spesifikasi produk yang juga telah ditentukan sebelumnya (distandarisasi) merupakan proses yang harus dilalui dalam kegiatan industri. Dalam khasanah pembejalaran yang mendidik kehadiran anak didik bukanlah sebagai obyek melainkan subyek yang memiliki beragam potensi yang tdiak mesti sama antara satu anak dengan anak yang lain. Sehingga tidak mungkin anak didik disamakan dengan raw material dalam proses industri.

Landasan filosofi serta tujuan yang ingin dicapai antara kedua sektor ini sesungguhnya berbeda. Oleh karena itu, mendidik dan membentuk karakter anak didik tidak bisa disamakan dengan industri memprosesraw material menjadi finished goods. Anak sebagai manusia merupakan mahluk unik, penuh misteri dan dinamis. Konsep industrialisasi pendidikan yang dimasyarakatkan sebagian pihak dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut bisa jadi akibat pemikiran yang terkontaminasi oleh pengaruh konsep ekonomi liberal dengan berbagai prinsip dan nilai-nilai yang melekat. Sistem ekonomi liberal yang dibawa dari Barat memiliki worldview tersendiri dan identik ibaratnya sebagai ajaran agama bagi mereka.

Worldview bisa dimaknai sebagai basic belief system, sistem atau perangkat keyakinan, kepercayaan dan norma yang mengarahkan seseorang berperilaku, berpikir, berinteraksi di dunia ini. Oleh karena mereka tidak mempercayai agama (wahyu Illahi) sebagai penuntun kehidupan manusia maka worldview mereka itu seolah sebuah ajaran agama yang merasuki pemikiran orang lain termasuk kaum Muslim, sehingga bisa mempengaruhi kiprah umat Islam diberbagai bidang kehidupan. Supaya tidak terperangakap dalam worldview Barat hal yang perlu untuk dilakukan adalah memperkuat pemahaman agama dengan mendekatkan diri pada ayat-ayat qawliyyah tidak semata-mata pada ayat kauniyyah saja. (uin-malang.ac.id)