Strategi Indonesia Hadapi MEA

Selasa, 11/03/2014

Pengalaman ketika kerja sama pasar bebas ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) diberlakukan sejak 1 Januari 2010, Indonesia ternyata banyak menampung produk-produk dari negara ASEAN lain maupun China, mengingat Indonesia merupakan negara terluas di kawasan regional ini dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa. Faktanya sekarang, pasar Indonesia hingga ke pelosok sudah dipenuhi dengan produk asal China yang semakin murah harganya ketimbang produk dalam negeri.

Sebelumnya banyak pihak melihat ACFTA sebagai momok mengingat China adalah negara raksasa yang memproduksi barang yang relatif berkompetisi dengan produk yang dihasilkan oleh sejumlah negara di ASEAN, mulai dari produk pangan, hortikultura, produk ektroniklow-tech,mesin-mesin pertanian, karoseri kendaraan seperti yang diimpor oleh BLU TransJakarta, tekstil termasuk batik China, seluruh kebutuhanperempuan dari kosmetik, obat-obatan, herbal, jamu hingga kebutuhan sandang seperti sandal, sepatu,lingeriesyang notabene juga diproduksi oleh usaha kecil dan menengah (UKM) dalam negeri.

Tidak hanya itu. Sejumlah pihak menilai kebijakan pemerintah Indonesia tergesa-gesa bergabung dalam ACFTA, bahkan hasil penelitian Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkapkan, bahwa industri tekstil dalam negeri bisa tumbang dan pengusahanya beralih menjadi importir tekstil dikarenakan harga tekstil impor dengan kualitas yang sama jauh lebih murah ketimbang hasil produksi lokal.

Namun Indonesia sebenarnya memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri, karena gagasan pembentukan ACFTA sudah sejak 12 tahun lalu, tepatnya 6 November 2001 di Bandar Sri Begawan, Brunei,saat pertemuan kepala negara ASEAN dengan China.

Jadi, ACFTA sebenarnya bukan sesuatu yang lahir dengan tiba-tiba apalagi dipaksakan oleh pihak tertentu. Kalaupun kita merasa tidak siap, boleh jadi disebabkan oleh lemahnya koordinasi diantarastakeholdersdi dalam negeri termasuk pihak internal pemerintah dan swasta di negeri ini.

Nah, menghadapi kerja sama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, Indonesia seharusnya tidak lagi terperosok ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya setelah ACFTA. Kendati neraca perdagangan Indonesia hingga akhir 2013 masih defisit US$4,06 miliar, para stakeholders hendaknya mampu memberikan optimisme perekonomian Indonesia bisa kembali bangkit apalagi bila Pemilu 2014 akan ini menghasilkan anggota legislatif yang lebih bersih dan berkomitmen serta presiden baru yang mendapat respon positif dari pasar global.

Keyakinan mengenai kebangkitan ekonomi Indonesia di masa depan dapat dimantapkan oleh segenap pihak. Dengan demikian MEA bukan lagi isu besar yang seharusnya merisaukan Indonesia karena kapasitas negeri ini lebih besar dari negara ASEAN lainnya.

Namun yang perlu disadari dan diyakini oleh seluruh komponen bangsa ini, adalah pasar bebas adalah suatu keniscayaan, sesuatu yang tidak bisa kita hindari, pasti akan bertemu lambat atau cepat.

Untuk itu, strategi kunci untuk menjadi pemenang di dalam sistem pasar bebas adalah dengan mengidentifikasi dan memperkuat keunggulan kompetitif produk barang dan jasa Indonesia. Kekuatan produk barang dan jasa dalam negeri harus terus ditingkatkan untuk dapat bersaing baik di pasar domestik maupun di pasar global.