Menguat, Sektor Perkebunan Sumringah 6,53%

Topang IHSG Sepekan 65,67 Poin

Senin, 10/03/2014

NERACA

Jakarta- Minat beli selektif yang dilakukan investor mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin mengalami kenaikan sebanyak 65,67 poin, atau sebesar 1,42%. Dari beberapa sektor yang bertahan di zona hijau, indeks perkebunan mampu mengalami kenaikan 6,53% diikuti indeks properti sebesar 5,48%, dan pertambangan yang mengalami kenaikan tipis sebesar 0,67%.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, sepanjang pekan kemarin, asing masih tercatat nett buy sebesar Rp 294,83 miliar sehingga sejak awal tahun (year to date) posisi asing tercatat nett buy Rp10,52 triliun melanjutkan nett buy sebelumnya senilai 10,23 triliun. Namun, adanya utang gap tipis 4575-4579 di awal pekan memicu terjadinya profit taking dan rilis neraca perdagangan yang kembali mencatatkan defisit juga turut membuat laju IHSG mengalami downreversal. “Semua sektor mengalami koreksi, kecuali sektor perkebunan yang masih bertahan di zona hijau.” kata Reza di Jakarta, kemarin.

Tercatat, kenaikan IHSG sebesar 1,42% dalam sepekan kemarin lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yang terkoreksi sebanyak 25,95 poin, atau sebesar 0,56%. Penguatan IHSG dipimpin indeks MBX sebesar 1,48%, dan diikuti indeks IDX30 yang menguat sebesar 1,18%. Sementara indeks sektoral mayoritas bergerak variatif, di mana pergerakan positif dialami indeks perkebunan yang naik 6,53% diikuti indeks properti 5,48%, dan pertambangan 0,67%. Sementara itu, pelemahan tercatat hanya dialami indeks konsumer sebesar 0,67% dan indeks infrasturktur yang minus 0,53%.

Reza memperkirakan, IHSG pada pekan depan akan berada pada rentang support 4554-4572 dan resistance 4715-4728. IHSG membentuk pola menyerupai bearish engulfing dekati upper bollinger bands. MACD uptrend terbatas dengan histogram positif yang naik tipis. RSI, William's %R, dan Stochastic uptrend terbatas. “Laju IHSG mempertahankan posisinya di kisaran target support (4515-4585) dan bahkan melewati resisten (4644-4687). Secara posisi memberikan adanya potensi pelemahan karena beberapa indikator mulai menunjukkan adanya penguatan terbatas sehingga rawan dimanfaatkan untuk profit taking.” jelasnya.

Oleh karena itu, sambung dia, sentimen yang ada diharapkan tidak membuat arah IHSG menjadi downtrend jangka panjang. Memang, jika melihat sepekan kemarin, meski sempat terkoreksi di awal pekan, IHSG mampu bangkit dalam 3 hari perdagangan berikutnya sebelum akhirnya berada di zona merah pada akhir pekan. Tidak terlalu besar respon negatif pelaku pasar terhadap rilis kembali defisitnya neraca perdagangan memberikan amunisi bagi IHSG untuk melaju ke zona hijau.

Di hari selanjutnya, IHSG sempat terjadi koreksi setelah pelaku pasar merespon pelemahan laju bursa saham Amerika Serikat (AS), terutama setelah AS masuk dalam pusaran peningkatan tensi politik di Ukraina dan dimanfaatkan untuk melakukan profit taking. Kembali menghijaunya HSI dan Nikkei, terutama dengan kembali turunnya nilai tukar ¥ sempat memberikan angin segar. Kondisi ini pun dimanfaatkan untuk kembali memburu saham-saham yang telah melemah sebelumnya meski asing tercatat nett sell dan rupiah yang kembali melemah saat itu.

Hal tersebut terjadi setelah pelaku pasar merespon negatif ketegangan yang terjadi di Ukraina sehingga membuat pelaku pasar beralih pada mata uang save heaven, US$. Di sisi lain, kondisi dalam negeri yang dinilai mulai membaik turut memberikan imbas positif bagi laju pergerakan nilai tukar rupiah sehingga dapat kembali melanjutkan penguatannya. Diketahui, level Rp 11668-11360 menjadi kurs tengah BI. “Rupiah berhasil sempat lewati resisten Rp11757-11598, namun juga sempat mendekati level support tersebut.” ujarnya.

Untuk perdagangan pekan ini, menurut Reza, pelaku pasar dapat memperhatikan beberapa saham, antara lain PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Astra Internasional Tbk (ASII), dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). (lia)