Investor Masih Khawatirkan Pemilu

NERACA

Jakarta- Masih adanya kekhawatiran atas pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) di tahun ini dinilai sempat mengganjal minat investor. Diproyeksikan, pasar baru akan menunjukkan pertumbuhan yang stabil, dan bahkan mengalami peningkatan sampai enam bulan setelah pemilu. "Di 2014, investor Indonesia merasa lebih percaya diri terhadap ekuitas domestik," kata CEO Schroders Indonesia, Michael Tjoajadi di Jakarta, pekan kemarin.

Oleh karena itu, pihaknya optimis jumlah investor pada 2014 akan cenderung meningkat, dan berpotensi semakin kuat. Salah satunya, jika nominasi kandidat presiden dinilai dapat mendukung pasar dan mampu melanjutkan agenda reformasi yang bisa dijadikan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi.“Berdasarkan pengalaman di tahun 2009, 2004 dan 1999, pasar akan menunjukkan pertumbuhan yang stabil beberapa bulan sebelum pemilihan presiden, dan meningkat sampai 6 bulan setelah pemilihan.” jelasnya.

Diakui pihak otoritas, dari 240 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 0,2% yang telah menjadi investor pasar modal. Kurangnya persentase penduduk Indonesia yang masuk ke pasar modal tersebut lantaran masih terbatasnya pemahaman masyarakat akan pasar modal. Selain investor usia muda, partisipasi wanita yang aktif di pasar modal diharapkan akan dapat mendukung perkembangan pasar modal ke depan."Wanita itu bisa aktif di pasar modal, melakukan investasi di saham ataupun reksa dana. Investasi itu kan bisa dipakai guna melengkapi kebutuhan keluarga,” kata Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Friderica Widyasari Dewi.

Jika dilihat dari peran wanita sebagai pengatur tata kelola keuangan, wanita memiliki peran sentral bagi keluarga. Hal ini yang membuat wanita memiliki kebutuhan lebih untuk berinvestasi dan berperan dalam mengembangkan ekonomi keluarga. Namun diakui Frederica, meski sudah mulai banyak ibu rumah tangga yang melakukan investasi di pasar modal, namun masih belum signifikan jumlahnya. "Dan memang tanda-tanda investasi itu masih sedikit di kalangan masyarakat," katanya.

Dari data Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) saja, pertumbuhan dana kelolaan (Asset Under Management) di industri reksa dana dari tahun ke tahun, faktanya tidak diikuti dengan pertumbuhan jumlah investor. Saat ini, dari total dana kelola sebesar Rp200 triliun, hanya ada sekitar 180 ribu investor yang berinvestasi di reksa dana. “Tahun lalu kita konsen pada pertumbuhan AUM. Di asosiasi akan mencoba bagaimana investor ritel bisa tumbuh lagi.” kata Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Denny Taher.

APRDI menargetkan jumlah dana kelolaan reksa dana pada 2017 dapat mencapai Rp1.000 triliun dengan peningkatan jumlah investor sebanyak 5 juta investor. Selain menyusun roadmap pengelolaan investasi di reksa dana, untuk meningkatkan investor ritel APRDI akan mengajukan berbagai inisiatif kepada pihak regulator untuk dapat mengubah berbagai aturan yang dapat mempermudah transaksi di reksa dana. “Salah satunya permudah transaksi melalui elektronik, seperti untuk elektronik reporting karena tidak mungkin lagi dengan hard copy, ataupun printing.” jelasnya. (lia)

Related posts