Menperin Dukung Penuh Pengembangan Industri Dirgantara

150 Unit Pesawat N-219 Produksi PT DI Sudah Dipesan Pemda

Senin, 10/03/2014

NERACA

Bandung - Membangun Industri kedirgantaraan atau penerbangan di Indonesia, memang sangat dibutuhkan, apalagi negara ini memang terdiri dari banyak kepulauan. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mengembangkan industri penerbangan sebagai alat transportasi dan alat pertahanan negara.

Menteri Perindustrian, Mohamad S Hidayat mengatakan rencana aksi pengembangan industri kedirgantaraan mempunyai beberapa tahap. “2010-2014 adalah tahap penguasaan desain. Restrukturisasi dan revitalisasi industri pesawat terbang. Pengembangan produk berpenumpang 19 orang lalu pengembangan industri lokal menjadi industri komponen pesawat terbang. Yang terakhir adalah peningkatan kemampuan kapabilitas SDM bidang industri kedirgantaraan," jelas Hidayat saat melakukan kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama Kepala PPN/Bappenas Armida Alisjahbana di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan kemarin.

Lebih lanjut lagi Mantan Ketua Umum Kadin ini mengatakan pembuatan pesawat N-219 (berpenumpang 19 orang) yang dilakukan PT DI sudah 150 unit pesawat dipesan oleh beberapa Pemerintah Daerah. "Kementerian Perindustrian sosialisasi kepada Pemda. Mereka (PT DI) sudah MoU 150 unit dengan Pemda. Harganya sekitar US$ 5 juta dengan 19 penumpang. Ini perlu untuk keperluan antar pulau," jelasnya.

Menurut Hidayat, pesawat jenis ini sangat diperlukan, khususnya di Indonesia Timur. Pesawat ini disebut juga salah satu pendukung terealisasinya program MP3EI. "Pemda hampir semua Indonesia Timur. Untuk membeli mestinya melalui anggaran daerah untuk mendukung MP3EI," katanya.

Hidayat mendukung program PT DI dalam pengembangan pesawat ini. Prototye pesawat N-219 disebut-sebut akan selesai pekan depan. "Ini sangat diperlukan untuk kebutuhan pesawat antar daerah antar pulau dibutuhkan Pemda dalam durasi 2 jam. Indonesia timur dimungkinkan dan dibutuhkan. Sekarang ini prototype minggu depan selesai. Diminta Pemda khususnya kawasan Indonesia Timur membelinya. Program prototype ini dengan Lapan, Lapan menjadi pusat," paparnya.

Hidayat juga tidak ingin sejarah kelam PT DI kembali terulang. Dia berjanji akan mendukung komersialisasi N-219 agar laku keras. Pihaknya berencana mempromosikan penjualan pesawat jenis ini ke Afrika dan Australia.

Menurut Hidayat, pesawat kecil sangat dibutuhkan di negara dengan kondisi geografis daratan luas ataupun negara kepulauan dengan jarak terbang 2 jam. Afrika dan Australia dipandang cocok menggunakan pesawat ini. "Setelah itu (prototype dan penjualan dalam negeri) kita ekspansi. Kita ikut pasarkan ke Afrika, Australia,"kata dia.

Selain itu, Break Event Point (BEP) penjualan ini hanya 40 pesawat."Berpikir secara komersial, BEP itu kira kira dari 40-45 pesawat. Nanti di back up perbankan," papar Hidayat.

Hidayat mengaku pesawat buatan anak negeri tersebut sudah banyak menggunakan komponen dalam negeri. Menurutnya, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pesawat tersebut telah mencapai 40%. Angka ini diharapkan akan terus meningkat hingga 60% dalam kurun waktu 5 tahun. "Saya antusias karena diawali TKDN 40%, nanti akan sampai 60%," kata Hidayat.

Menurut Hidayat, dengan tingginya kandungan komponen dalam negeri pihaknya berjanji akan memproteksi pesawat N-219. Pesawat berkapasitas 19 tempat duduk ini akan dilindungi dari serbuan pesawat impor. Terutama yang juga jenis twin otter, alias baling-baling ganda.

"Kita akan proteksi mereka dengan peraturan pemerintah, (TKDN) ini karena bisa di atas 40%. Bisa dengan dengan berbagai regulai. Seperti kita tidak akan memperlancar impor pesawat sejenis, saingannya twin otter," tegasnya.

Hidayat menyebut beberapa komponen sudah dibuat dalam negeri seperti spare part, ban dan sebagainya selain mesin. "Kami bertanggung jawab pada industri komponen. Semua komponen, spare part, ban. Kalau untuk mesin belum lah," katanya.

Di tempat yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana menyambut baik rencana pengembangan pesawat N 219 oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Armida menilai proyek pembuatan pesawat ini akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang banyak.

Menurut Armida, penyerapan tenaga kerja tidak hanya terjadi di pabrik pembuatan pesawat, namun juga pada industri komponen pesawat. "Ada industri komponen di bawah itu dan ini labour intensif (penyerap tenaga kerja)," kata dia.

Direktur Utama PTDI Budi Santoso menyatakan PTDI bersedia memenuhi minat PT NBA dengan memproduksi pesawat N219. Disepakati pula bahwa kedua belah pihak membentuk tim kerja guna merundingkan seluruh aspek teknis dan aspek bisnis dalam pembelian 20 unit N219 ditambah opsi 10 unit dengan total harga sebesar US$ 120 juta.

Budi Santoso mengatakan, penandatanganan LoI oleh kedua perusahaan menunjukkan keperecayaan pihak swasta nasional terhadap produk PTDI ternyata cukup tinggi. Sedangkan Laurens Prawira Nata Mihardja mengatakan, pihaknya selama ini menggunakan sejumlah pesawat produk PTDI dan berkeinginan untuk mengoperasikan N219 yang merupakan hasil rancangbangun putra-putri Indonesia.

Pesawat N219 merupakan salah satu andalan PTDI di masa mendatang. N219 saat ini dalam tahap rancangbangun. Sebagai dasar dibuatnya pesawat N219 adalah Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008.