Impian PT Pos Indonesia Masih Terhambat

Semangat Go Public

Senin, 10/03/2014

NERACA

Jakarta – Semangat PT Pos Indonesia untuk segera mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sudah tidak terbendung lagi. Namun hasrat tersebut, terpaksa harus disimpan dalam-dalam lantaran pemerintah sebagai pemegang saham belum merestui PT Pos Indonesia untuk go public.

Sejatinya PT Pos Indonesia bakal melaksanakan IPO pada semester kedua tahun 2013. Namun hingga saat ini di tahun 2014, rencana tersebut belum juga mendapatkan izin dari pemerintah, “Karena tidak dapat izin pemegang saham, sehingga nggak bisa IPO," ujar pengamat pasar modal Hendri Fakhrudin, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, PT Pos Indonesia sebenarnya sudah melalui uji risiko ketika hendak melantai ke bursa. Namun tidak hanya itu saja, PT Pos Indonesia juga sudah melalui proses Good Corporate Governance (GCG),”Persiapan IPO PT Pos Indonesia dari aspek risk management dan GCG telah berlangsung," jelasnya.

Oleh karena, PT Pos Indonesia tidak bisa melantai ke bursa, jalan lain mendapatkan permodalan persero plat merah akhirnya mengambil obligasi. "Karena nggak dapat izin, akhirnya ya (menerbitkan) obligasi," paparnya.

Sebelumnya, PT Pos Indonesia menunda IPO padahal tujuan IPO untuk menambah permodalan. Disebutkan, PT Pos Indonesia menargetkan dana yang dihimpun dari IPO sebesar Rp1,5 triliun untuk mendanai ekspansi. Persiapan PT Pos Indonesia untuk IPO sudah di mulai sejak tahun 2010.

Asal tahu saja, permintaan jasa pos saat ini melemah karena maraknya internet dan mobile phone. Perusahaan pos milik negara ini pun berupaya berekspansi ke bisnis keuangan dan jasa logistik. Namun upaya IPO ini masih harus menemui jalan panjang yakni persetujuan dari pemerintah dan DPR.

Sebagai informasi, PT Pos Indonesia berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 triliun di tahun 2015 untuk mendanai akuisisi PT Pos Logistik terhadap perusahaan di bisnis yang sama. Direktur Utama PT Pos Indonesia, Budi Setiawan pernah bilang, penerbitan obligasi untuk mendanai PT Pos Logikstik Indonesia terhadap akuisisi perusahaan bisnis yang sama senilai Rp 75 miliar, “Nantinya dana hasil penerbitan obligasi tidak hanya untuk mendanai akuisisi, tetapi juga perkuat jaringan, belanja modal dan termasuk suntikan dana anak usaha di properti”, ujarnya.

Menurutnya, alasan dipilihnya penerbitan obligasi karena hal ini pendanaan jangka panjang dan juga dinilai lebih aman. Selain mendanai akuisisi anak usahanya, PT Pos Indonesia juga berencana menyutik modal atau penyertaan modal awal kepada anak usahanya di bidang properti sebesar Rp 100 miliar untuk pembangunan dua hotel di Bandung, “Pekan ini izin usaha di bidang properti bakal keluar, karena itu perseroan akan menyertakan modal awal sebesar Rp 100 miliar”,ungkap Budi. (bani)