Menjaga Rupiah & Inflasi Stabil

Senin, 10/03/2014

Oleh : Prof. Firmanzah, PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Lebih dari enam bulan terakhir, banyak negara berkembang dan emerging mengalami dua tekanan dalam ekonomi domestik mereka yaitu menjaga nilai tukar dan inflasi. Sebelumnya, Bank Dunia di awal 2013 juga telah memperingatkan bahwa tekanan capital-outflow dan naiknya harga komoditas dunia menciptakan destabilitas di banyak negara.

Capital-outflow, disebabkan oleh membaiknya ekonomi negara maju dan tanda-tanda berkurangnya stimulus moneter, menekan nilai tukar mata uang negara berkembang. Sementara meningkatnya harga pangan dunia ditengarai mengganggu target inflasi.

Sepanjang tahun 2013, inflasi Indonesia berada pada posisi 8,38% dan jauh di bawah perkiraan banyak pihak yang memperkirakan dapat menyentuh dua digit. Faktor kenaikan harga BBM bersubsidi dan lonjakan harga pangan dunia dapat diredam melalui serangkaian kebijakan dan koordinasi bersama dengan Bank Indonesia. Sementara itu, nilai tukar rupiah akhir-akhir ini juga menunjukkan penguatan yang sangat signifikan. Bahkan mata uang Rupiah bersama dengan Rupee India mengalami apresiasi terhadap dolarAS diantara matauang Asia lainnya.

Pada posisi Jumat (07/03), rupiah terus menguat dan menyentuh Rp 11.433 per US$. Penguatan rupiah yang terjadi selama 5 minggu sejak 28 Februari terdorong oleh positifnya sejumlah indicator makroekonomi seperti penguatan cadangan devisa, terkendalinya inflasi dan terjaganya daya beli masyarakat, membaiknya neraca perdagangan pada 3 bulan terakhir 2013. Posisi Bank Indonesia yang tetap mempertahankan BI Rate sebesar 7,5% juga menjadi sinyal positif kepada investor akan terus membaiknya perekonomian Indonesia. Sehingga faktor-faktor ini semakin meningkatkan capital-inflow masuk baik ke pasar keuangan maupun ke sektor riil.

Sementara itu, kewaspadaan akan tekanan inflasi masih akan terus ditingkatkan. Sejumlah bencana alam seperti erupsi gunung berapi dan banjir di awal 2014 berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan di Indonesia. Inflasi pada Januari yang sempat menyentuh pada posisi 1,07% dan dikendalikan pada bulan berikutnya dimana inflasi pada Februari hanya sebesar 0,26%. Mengingat ekonomi Indonesia dikontribusikan lebih dari 55% konsumsi domestic maka inflasi menjadi salah satu indicator penting mengingat pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat (purchasing power) bersifat langsung dan immediate.

Oleh karenanya, selain menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi merupakan salah satu prioritas meningkatkan kinerja perekonomian nasional. Koordinasi antara Pemerintah dan BI serta peran optimal Tim Pengendalian Inflasi di Daerah (TPID) akan terus ditingkatkan.

Pendeteksian dini potensi lonjakan inflasi serta langkah-langkah penanggulangannya akan menjadi faktor kunci terus terkelolanya inflasi di Indonesia sepanjang tahun 2014. Tentunya kita dapat optimistis dengan melihat pengalaman masa lalu serta tren terkini bahwa nilai tukar rupiah dan inflasi sepanjang tahun ini akan terkelola secara baik.