Indo Premier Gaet Minat Investor Dengan Produk ETF

Manfaatkan Momentum Pemilu

Jumat, 07/03/2014

NERACA

Jakarta- PT Indo Premier Investment Management (IPIM) menargetkan dana kelolaan (asset under management/AUM) di tahun ini menjadi Rp2 triliun dengan adanya penerbitan produk reksa dana bursa (exchange trade fund/ETF) terbarunya, SMinfra18, “Ini tumbuh 42,85% dari perolehan pada tahun sebelumnya Rp1,4 triliun,” kata Direktur Utama IPIM, John D Item di Jakarta, Kamis (6/3).

Target pertumbuhan tersebut, menurut dia, juga akan didukung oleh sejumlah produk investasi lainnya yang telah dan akan dikelola Indo Premier. Seperti diketahui, sudah ada empat reksa dana ETF yang diterbitkan Indo Premier, yaitu Premier ETF IDX30, Premier ETF LQ45, Premier ETF Indonesia Consumer, dan Premier ETF Syariah JII.

ETF sendiri, kata dia, merupakan kontrak investasi kolektif. Layaknya saham, unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di bursa. “Namun, seperti halnya reksa dana konvensional, ETF juga melibatkan manajer investasi dan bank kustodian,” jelasnya.

Dengan portofolio yang terukur, pihaknya memperkirakan investor dapat memperoleh imbal hasil (return) sekitar 20% per tahun. Reksa Dana yang Unit Penyertaan (UP) diperdagangkan di Bursa ini memiliki komposisi portofolio saham-saham yang terdafta pada Indeks SMinfra18. Dalam setahun ke depan, target raupan dana kelolaan untuk produk ETF Sminfra18 ditaksir akan mencapai Rp100 miliar. "Kami berharap penambahan produk ETF baru ini semakin menyemarakkan investasi reksa dana yang ditransaksikan di bursa," ucapnya.

Kemudian memanfaatkan sentimen dari kepastian adanya pemimpin baru Republik Indonesia lewat mekanisme Pemilihan Umum (Pemilu), PT Indo Premier Investment Management berencana meluncurkan produk baru berbasis Exchange Traded Fund (ETF)

Produk Baru

Kata John D Item, produk baru ini rencananya akan diluncurkan pasca penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut. Setidaknya ada tiga produk ETF yang akan diluncurkan pasca pemilu,”Kami akan menurunkan tiga produk ETF pasca pemilu, dengan melihat kondisi perekonomian yang mulai membaik," ungkapnya.

Tiga produk ini, kata dia, akan sedikit berbeda dengan produk yang sudah diluncurkan perusahaan sebelumnya. Sehingga IPIM tidak akan menerbitkan produk ETF berbasis konsumer ataupun infrastruktur. Sayang, saat disinggung perihal sektor baru yang tengah dijajaki untuk tiga produk ETF tersebut, John lebih memilih bungkam. "Ada sektor lain, namun kami belum bisa ungkapkan lainnya," pungkas dia.

Untuk penerbitan reksa dana Premier ETF SMinfra18, IPIM menggandeng Deutsche Bank AG Cabang Jakarta sebagai bank kustodian serta PT Indo Premier Securities selaku agen penjual (diler) partisipan. Di samping reksa dana ETF, IPIM juga mengelola beberapa produk konvensional seperti dan reksa dana terproteksi.

Diketahui, Indeks SMinfra18 merupakan indeks milik PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI). Indeks ini mengukur performa harga dari 18 saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di sektor infrastruktur dan penunjangnya. Proses screening atau pemilihan konstituen indeks ini disusun oleh otoritas bursa dan PT SMI berdasarkan data pasar dan tata kelola perusahaan dari setiap emiten yang masuk kriteria. Selain itu, indeks SMinfra juga di review oleh Komite Independen yang memiliki keahlian dan pengalaman di bidang infrastruktur dan pasar modal.

Dengan produk reksadana ini maka akan membantu perkembangan emiten infrastruktur yang tengah mencari permodalan. Dan mendorong capaian Produk Domestik Bruto (PDB) indonesia pada 2025 sebesar US$4,5 triliun.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyambut baik adanya peluncuran Reksa Dana ETF (Exchange Trade Fund) berbasis saham milik PT Indo Premier Investment Management (IPIM), Reksa Dana Premier ETF SMinfra18'. “Peluncuran Premier ETF SMinfra18 dengan kode XISI pada hari ini, turut menambah jumlah ETF di Indonesia menjadi 6 ETF, dimana hal ini sudah menyamai jumlah ETF di negara tetangga kita, Malaysia,” kata Direktur Pengawasan BEI, Uriep Budhi Prasetyo. (lia)