Pendapatan Angkasa Pura II Turun Tipis 1,45%

Dampak Pengalihan Layanan ATC

Jumat, 07/03/2014

NERACA

Jakarta - Kendatipun baru memasuki tahun 2014, namum PT Angkasa Pura II sudah memperkirakan bila perolehan laba bersih hanya sebesar Rp1,047 trilun, turun tipis 1,45% dibanding realisasi tahun 2013 sebesar Rp1,032 trilun,”Tahun ini laba bersih AP II masih akan turun, terutama dipicu hilangnya pendapatan dari bisnis navigasi yang sudah dialihkan ke AirNav," kata Deputi Direktur Anggaran dan Akutansi, AP II, Sudarto di Jakarta, Kamis (6/3).

Menurutnya, pengalihan layanan Air Traffic Control (ATC) kepada Airnav sejak Januari 2013 tersebut memicu penurunan pemasukan perseroan tercermin dari penurunan laba pada 2013 menjadi Rp1,032 triliun, dari sebelumnya (2012) Rp1,219 triliun.

Untuk itu, menurut Sudarto, pada tahun 2014, AP II harus mencari terbosan-terobosan baru dengan mengembangkan layanan non-aeronautika untuk mengimbangi penurunan layanan aeronautika.

"Dengan berbagai terobosan dan efisiensi, kami tetap berani menargetkan pendapatan pada 2014 sebesar Rp4,867 triliun, tumbuh 12,05 persen dibanding tahun 2013 sebesar Rp4,183 triliun," ujarnya.

Sementara itu Direktur Utama AP II, Tri Sunoko mengatakan, penurunan laba tahun 2014 karena adanya sejumlah proyek sehingga pendapatan perusahaan dialokasikan untuk keperluan investasi. Proyek yang mulai dikerjakan pada tahun 2014, antara lain pengembangan terminal baru (terminal 3), pembangunan stasiun kereta bandara, dan termasuk pembangunan hotel terpadu yang berlokasi di Bandara Soekarno-Hatta.

Pengembangan terminal 3 dengan investasi sekitar Rp4,3 triliun tersebut seluruhnya akan rampung pada akhir 2015. Bersamaan dengan itu pada akhir 2015, juga akan diselesaikan pembangunan stasiun kereta api bandara dengan investasi sekitar Rp139 milar, dan penyelesaian pembangunan Hotel Bandara dengan nilai proyek sebesar Rp1,5 triliun,”Proyek tersebut seluruhnya dalam rangka peningkatan pendapatan dari jasa non-aeronautika," ujarnya.

Selama tahun 2014, pendapatan aeronautika ditargetkan mencapai Rp3,105 triliun naik dari sebelumnya Rp2,776 triliun, pendapatan non-areronautika Rp1,655 triliun turun dari Rp1,311 triliun. Sedangan pendapatan dari jasa kargo mencapai Rp106,25 miliar, naik dari sebelumnya Rp95,31 miliar. (bani)