Menneg BUMN Apresiasi Kinerja Timah

Pendapatan Turun 20,5%

Jumat, 07/03/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun pendapatan PT Timah Tbk (TINS) sepanjang tahun 2013 turun 20,5% menjadi Rp5,85 triliun dibandingkan tahun lalu sebesar Rp7,36 triliun. Namun masih mendapatkan apresiasi yang positif dari Mnteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN), Dahlan Iskan.

Menurut Dahlan Iskan, kinerja PT Timah Tbk mulai membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, “Pokoknya bagus, karena Direksi PT Timah tahan uji terhadap ancaman dan tekanan, itu luar biasa. Saya memuji sekali ketahanan jiwa dan fisik kepada Direksi PT Timah dalam tekanan di dalam maupun di luar tanpa melibatkan sistem, karena harga timah internasional yang tinggi banyak yang menyerah,"ujarnya di Jakarta, Kamis (6/3).

Dia menuturkan, PT Timah segera membuat pilot project atau proyek perencanaan. Selama ini hanya Tiongkok (China) dan negara-negara barat yang cukup besar yang menghasilkan Logam Tanah jarang (LTJ) di seluruh dunia. Oleh karena itu, PT Timah bekerjasama dengan Batan yang merupakan lembaga negara untuk membangun pabrik pengolahan logam tanah jarang (rare earth). "Bisa menggunakan untuk keperluan bahan baku barang-barang elektronik. Tahun ini kita membangun rare earth dan itu mahal dan sangat diperlukan untuk di dunia modern, karena tidak semua negara mempunyai rare earth," ucapnya.

Lebih lanjut, kata Dahlan, bisa memproduksi rare earth yaitu Rp20 miliar dari timah untuk investasi rare earth itu karena labanya besar, dan mampu dari sisi keuangan maupun teknologi untuk membangun pengolahan Logam tanah jarang (LTJ),”Empat unsur LTJ yang akan dikembangkan karena memiliki nilai tinggi, produknya yaitu unsur Lantanum (La), Cerium (Ce), Praseodimium (Pr), dan Neodimium (Nd). Empat ini yang kita produksi walaupun volumenya tidak besar, tapi sangat mahal. PT Timah skalanya ratusan ton sudah sangat mahal dibandingkan dengan emas,”katanya.

Sebagai informasi, walaupun pendapatan PT Timah Tbk turun, namun perseroan masih raup laba bersih sebesar Rp515,10 miliar atau naik 19% dari tahun sebelumnya sebesar Rp431,58 miliar. Sementara laba per saham naik 18,6% menjadi Rp102 dari akhir tahun sebelumnya Rp86 per saham. Volume penjualan menurun 19,6% dari 29.512 metric ton menjadi 23.718 metric ton logam timah. Beban pokok pendapatan menurun 27,6% dari tahun sebelumnya Rp6,08 triliun menjadi Rp4,4 triliun. Total aset perseroan naik menjadi Rp7,88 triliun dari tahun sebelumnya Rp6,13 triliun.

Selain itu, perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp4,4 triliun dari sebelumnya Rp6,09 triliun. Alhasil, laba bruto tercatat sebesar Rp1,44 triliun dari sebelumnya Rp1,27 triliun. Di sisi lain, jumlah aset perseroan tercatat mengalami kenaikan menjadi Rp7,88 triliun pada akhir tahun 2013 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,13 triliun. (bani)