Manfaat Ekonomis KB

Oleh : Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti Balitbangkes Kemenkes

Indonesia dengan 251 juta penduduk, adalah negara dengan jumlah terbesar keempat di dunia. Dengan porsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang nyaris 50%, Indonesia sebenarnya tengah menikmati bonus demografi yang berlangsung hingga tahun 2025. Bonus ini bisa optimal jika kualitas sumber daya manusia meningkat, pengangguran berkurang, investasi rumah tangga naik, dan semakin banyaknya perempuan dalam pasar kerja.

Di era 80-90an program Keluarga Berencana berada pada masa gemilang. Indonesia pun mendapat penghargaan dari Perserikatan Bangsa Bangsa. Total fertility rate turun dari 4,7 pada 1980 menjadi 3,02 di tahun 1991. Namun, hasil SDKI 2012 menunjukkan bahwa selama 10 tahun terakhir total fertility rate stagnan di angka 2,61.

Seringkali pengetahuan masyarakat yang terbatas membuat pemilihan alat KB pun belum tentu sesuai dengan kondisi pengguna itu sendiri. Memang, sudah ada standar operasional pelayanan KB. Salah satunya adalah pemberian informasi alat KB. Pertanyaannya seberapa efektif pelaksanaannya? Selain itu ganjalan dari desentralisasi, terbatasnya petugas lapangan, keterbatasan layanan membuat jalannya program ini tak selalu mulus.

Selain itu hambatan untuk menekan pertumbuhan penduduk adalah penggunaan metode KB jangka pendek yang semakin banyak dibandingkan metode KB jangka panjang. Semakin memperbesar gap antara keduanya. Padahal metode jangka pendek seperti halnya suntik, pil tingkat kegagalannya tinggi daripada metode KB jangka panjang seperti IUD, susuk, vasektomi ataupun tubektomi. Persepsi yang terbentuk dari "ketakutan" akan bahaya metode jangka panjang menjadi salah satu penghambat utama luasnya penggunaan alat KB jangka panjang.

Faktor lain keterbatasan akses masyarakat karena mahalnya metode KB jangka panjang, Berdasar hasil penelitian KB yang dilakukan oleh Badan Litbangkes, masyarakat menunggu adanya Safari KB untuk mendapat pelayanan KB gratis. Jika tidak maka biaya pelayanann tidak terjangkau apalagi untuk melakukan tubektomi dan vasektomi, harus ke rumah sakit/ klinik tertentu yang seringkali susah diakses. Selain itu, sebagian orang pengguna alat KB mayoritas adalah perempuan dibandingkan laki-laki. Perlunya peran serta aktif pria dalam program KB sangat diharapkan. Dengan demikian perempuan tidak melulu menjadi objek.

Penggalakkan program KB akan kembali dilakukan oleh pemerintah. Untuk mendukung keberhasilan KB, Kemenkes membuat Rencana Aksi Nasional Pelayanan KB yang dicanangkan 2014-2015. Elemen yang penting untuk diperhatikan antara lain kebijakan yang mendukung, komitmen tinggi dari pemimpin dan sistem manajemennya, komunikasi dan promosi yang efektif, jaminan keamanan alat kontrasepsi, client oriented, tenaga pelayanan yang terlatih, kemudahan akses ke pelayanan yang terintegrasi dengan biaya yang terjangkau.

Berbagai pembelajaran yang bisa menyukseskan program KB antara lain dilakukan program keterjangkauan (outreach) untuk meningkatkan cakupan pelayanan peserta KB baru secara bermakna, motivator atau kader lapangan memiliki peran yang besar dalam meningkatkan cakupan pelayanan KB, mobilisasi sosial atau pergerakan masyarakat juga sangat penting. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional butuh sekitar 40.000 Petugas Layanan KB (PLKB) untuk menyukseskan program KB.

Selama ini pemberian pelayanan KB jangka panjang melalui safari KB adalah tanpa biaya. Walaupun demikian pesertanya masih tidak maksimal. Kenapa tidak memberi insentif bagi mereka yang ingin ber KB jangka panjang, missal memberikan 10-20 kg beras bagi mereka yang ingin ber KB jangka panjang. Sebagai biaya subsitusi salah satu kegiatan menggalakkan KB.

Related posts