Beberapa Masalah Bikin Tenun Gagal Diakui Dunia

Produk Kerajinan

Jumat, 07/03/2014

NERACA

Jakarta - Hasil dari kerajinan Indonesia di sektor kain, sangat beragam, mulai dari batik sampai kain tenun sudah mampu dibuat. Namun, ada hal yang cukup menyedihkan. Tidak seperti batik, nasib kain tenun Indonesia belum mendapatkan pengakuan dunia sebagai produk asli Indonesia. Ketua Umum Yayasan Karya Kreatif Nusantara Imam S Umar, kegagalan tenun memperoleh pengakuan dunia lantaran beberapa hal.

"Tenun gagal memperoleh pengakuan dari Unesco sebagai produk asli Indonesia. Ada beberapa hal yang saya rasa membuat tenun kita gagal," kata Imam saat acara Deklarasi Busana Indonesia Masa Kini dan Mendatang di Balai Kartini, di Jakarta, Kamis (6/3).

Imam menyarankan jika ingin produk tenun diakui dunia, sebaiknya dalam proposal pengajuan itu lebih mengedepankan nasionalisme. "Mungkin dengan pergantian nama, seperti batik nasional," ungkapnya.

Imam berharap pemerintah juga mau mempopulerkan tenun seperti halnya batik yang digunakan serentak di hari Jumat. "Kalau pemerintah mau mungkin melalui perpu maupun perda yang mewajibkan penggunaan pakaian tenun di hari kerja," ujarnya.

Di sisi lain, dewan Kerajinan Nasional Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mempatenkan hak cipta tenun ikat dari puluhan ribu penenun yang ada di daerah itu. Menurut Ketua Dekranasda NTT, Lusia Lebu Raya mengatakan kami akan patenkan tenun ikat khas NTT ini. Dekranasda, masih menginventarisir jumlah pengrajin tenun ikat serta beragam motif tenun ikat dari berbagai daerah dengan mencari tahu siapa pembuatnya dan sejarah tenun ikat itu.

“Kami masih inventarisir jumlah dan penenunnya. Diakui agak kesulitan, karena motif tenun ikat dari setiap kabupatehn dan kota di NTT sangat beragam dan jumlahnya cukup banyak. Misalnya, di Kabupaten Alor, terdapat 80 motif tenun ikat, sehingga harus dicari tahu siapa pembuatnya dan apa kisah dari motif itu. "Ini merupakan syarat-syarat yang harus di penuhi untuk hak paten," ujarnya.

Dikatakan, dijamin tenun ikat asal NTT tidak akan di jiplak oleh pihak lain, karena sudah ada kesepakatan (MoU) dengan kementrian hukum dan HAM. Berdasarkan inventarisir Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT, ada 52 ribu penenun yang hak cipta tenun ikatnya belum di patenkan,” katanya.

Sementara Internasional Intitute for Asian Studies Leiden Netherland, Yetti Haning mengatakan walaupun tenun ikat di NTT belum dipatenkan, namun Unesco telah mengakui tenun ikat NTT sudah menjadi budaya daerah. Tenun ikat diakui Unesco sebagai budaya masyarakat.

Sementara itu, Untuk menjaga hasil warisan budaya Indonesia yang salah satunya adalah tenun, sebuah langkah nyata harus dilakukan oleh pemerintah saat ini. Tenun merupakan warisan budaya Indonesia yang tidak ternilai harganya, maka dari itu diperlukan upaya konkret dari pemerintah untuk melestarikan dan menjaga hasil budaya Indonesia tersebut.

Salah satunya dengan mendaftarkan tenun kepada UNESCO sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Langkah Okke Rajasa melestarikan budaya Indonesia dengan mendaftarkan hasil tenun ke UNESCO perlu diapresiasi. Sebab, saya lihat masih banyak hasil budaya Indonesia yang belum dipublikasikan ke dunia. Dengan adanya kampanye tenun sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, saya berharap dunia Internasional mengakui tenun merupakan milik Indonesia yang tidak boleh diakui oleh pihak mana pun.

“Kalau kita melihat dari pengalaman sebelumnya, banyak warisan budaya kita yang diklaim bangsa lain. Maka dari itu, perlu sekali Pemerintah Indonesia menjaga dan melestarikan budaya tersebut dengan mendaftarkannya secara langsung kepada UNESCO,” jelasnya.

Begitu pula dengan para pelaku pengrajin tenun Indonesia, dia berharap sepenuhnya pada pemerintah untuk terus berupaya melakukan publikasi mengenai kain tenun ini, agar pengrajin terbantu pemasarannya. Begitu juga dengan kampanye kepada masyarakat Indonesia agar sepenuhnya cinta serta melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita.

“Saya yakin, ketika kita mencintai budaya Indonesia, pastinya rasa nasionalisme rakyat juga akan tumbuh secara otomatis. Tidak lupa, saya juga berharap pada pemerintah untuk terus mengupayakan kampanye kain tenun agar bisa diakui oleh dunia. Apalagi kita tahu bahwa motif kain tenun bukan hanya di satu daerah saja. Banyak motif-motif tersendiri yang berasal dari tiap daerah,” tegasnya.