Tahun Pemilu, Pertumbuhan Bank Syariah Diproyeksikan Melambat

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan kinerja perbankan syariah di tahun pemilu ini diprediksi semakin berat dan kian melambat. Ini dikarenakan ketidakpastian dari ekonomi global yang masih menjadi faktor utama dan terus membayangi. Kondisi ini jelas bakal berpengaruh besar terhadap kinerja perbankan syariah di dalam negeri.

Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan, Edy Setiadi, mengatakan tahun lalu saja target pesimis pertumbuhan aset perbankan syariah Rp 250 triliun tidak tercapai, hanya bisa menembus angka Rp 244 triliun, apalagi ditahun pemilu sekarang akan terasa sulit untuk mengejar target tahunan. "Skenario 2013 tidak tercapai, target aset sekitar Rp 250 triliun hanya mencapai Rp 244 triliun padahal target pesimis, tahun ini juga masih terasa sulit untuk dapat mencapai target " katanya saat acara Dialog Ekonomi Syariah 2014 'Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global', di Jakarta, Kamis (6/3).

Dia menilai saat ini kemungkinan pencapaian target masih mengacu pada kondisi perekonomian global, dimana pertumbuhan aset perbankan syariah tahun ini masih bakal melambat yang ditargetkan di angka pesimis Rp 257 triliun. "Pertumbuhan ekonomi melambat tahun ini sehingga pertumbuhan syariah menurun. Target pesimis tahun ini Rp 257 triliun," jelasnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, selain kondisi perekonomian yang memang belum stabil, tidak tercapainya target pertumbuhan aset tahun lalu disebabkan adanya perlombaan antar bank untuk meningkatkan permodalan melalui kategori Buku 1 hingga 4. "Target tahun lalu nggak tercapai karena pertumbuhan ekonomi yang melambat dan perlombaan antar bank termasuk kategorisasi buku 1-4 dan aturan baru yang mempercepat untuk akselerasi bidang permodalan," terang dia.

Oleh karenanya ke depan, perbankan syariah perlu didorong untuk meningkatkan jumlah jaringan tidak hanya kantor cabang tapi juga melalui jaringan yang ada di induknya. "Ini ke depan harus berbeda pendekatannya jadi induk harus suntik modal ke anak usahanya atau ke syariah selain itu perlu tambah jaringan," tandasnya.

Sebelumnya Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Muliaman D Hadad sudah memprediksikan bahwa berlarutnya krisis keuangan global menurunkan proyeksi bisnis lembaga keuangan berlabel syariah akan mengalamai perlambatan. perbankan syariah diproyeksi tumbuh 34,7 persen di 2014. Namun, melihat rekam jejak selama 20 tahun terakhir yang menunjukkan daya tahan terhadap krisis, perbankan syariah bisa tumbuh dalam skenario optimis hingga 50,7 persen. "Pada skenario ini perbankan syariah diprediksi akan mengalami pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 47,46 persen, dan pertumbuhan pembiayaan sebesar 55,61 persen," katanya.

Muliaman menambahkan rasio pembiayaan terhadap pendanaan (financing to debt ratio) diprediksi berada di kisaran 100-105 persen. Hal ini mengingat pada 2013 (yoy) tingkat FDR perbankan syariah hampir 105 persen.

Selain itu, pangsa pasar perbankan syariah terhadap perbankan nasional diprediksi paling rendah 5 - 5,5 persen. Hal itu mengingat hingga pertengahan 2013 pangsa pasar perbankan syariah sudah menyentuh 4,67 persen. "Sementara rata-rata pertumbuhan aset Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) dari Januari 2008-Juni 2013 mencapai 30,49 persen," ujarnya.

Sementara itu, ekonom Aviliani menilai pada 2014 semua sektor ekonomi tumbuh di atas 5 persen, kecuali pertanian dan pertambangan. Ia juga mengatakan pangsa pasar syariah yang terbesar adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). "Dari data BPS 70 persen sektor usaha adalah UMKM. Ini pangsa pasar yang besar potensinya," kata sekretaris Komite Ekonomi Nasional ini. Perbankan syariah bisa tumbuh jika meningkatkan pembiayaan kredit di sektor ini. [ardi/agus]

Related posts