Indonesia Bagian Dari Lumbung Gas Bumi

Sabtu, 08/03/2014

Indonesia Bagian Dari Lumbung Gas Bumi

Cadangan minyak bumi dunia semakin menipis sementara keperluan energi dunia meningkat dua kali lipat pada pertengahan abad ini. "Karena itu kami berpikir bahwa gas bumi adalah alternatif energi masa depan dunia yang paling cepat bisa disediakan, murah, dan akrab lingkungan," kata Vice President Communication Shell Andy Norman, di Manila, belum lama ini.

"Lingkar Asia-Pasifik menjadi penyedia utama gas di dunia sejalan peningkatan penyediaan infrastruktur di bidang gas ini; salah satunya dari Indonesia,” kta Norman. Jadi, kata dia, beralasan jika gas menjadi alternatif yang perlu didorong, tinggal mewujudkan kebijakan pemerintahan yang kontinu dan jelas tentang ini.

Menurut Norman, keperluan energi dunia akan banyak disumbang negara ekonomi baru, di mana penduduknya memerlukan tambahan mobil, sistem pendingin udara di rumah, dan lain sebagainya.

"Pada pertengahan abad ini, keperluan energi dunia akan berlipat dua kali dari saat ini, juga pada keperluan air dan pangan," kata dia. Dunia telah sepakat, tiga hal ini bisa menjadi sumber konflik berkepanjangan pada masa mendatang.

"Shell melihat hal ini sebagai masalah sangat besar dan mendasar, bukan cuma masalahnya pemerintahan negara namun semua pihak secara bersama-sama. jika tidak segera dicarikan pemecahannya menjadi potensi sangat besar di dunia," kata dia.

Dia menyatakan, semua bentuk energi baru diperlukan secara bersamaan pada masa mendatang, baik itu dari gas, hidroelektrik, tenaga surya, angin, mineral dan batu bara, gas bumi, dan juga nuklir.

Menyinggung kehadiran sumber energi terbarukan, kata dia, itu sangat menarik untuk lebih dimasyarakatkan.

Namun, menurut dia, sejarah menunjukkan diperlukan waktu sekitar 30 tahun untuk menempatkan sumber energi baru untuk mengganti 1% sumber energi yang dipakai pada saat itu. "Ini juga yang bisa terjadi pada gas bumi, angin, dan lain sebagainya," kata dia.

Habis Dikeruk

Sementara itu, Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradnyana mengatakan, sumber daya migas di Indonesia relatif kecil karena sebagian besar sudah habis dikeruk. Karena itu, harus segera dikendalikan sementara peningkatan konsumsi tidak cukup diatasi dengan produksi.

"Sebagian besar migas kita sudah habis dikeruk, cadangannya pun sudah sedikit. Selama ini kita Ge-eR punya sumber daya migas banyak," kata Gde dalam sebuah diskusi tentang ‘kedaulatan migas di Indonesia di sebuah kampus di Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut Gde, sebenarnya sistem kita sudah sangat nasionalisme, jauh dari sistem liberal. Tapi kondisinya memang negara yang menganut sistem tersebut semuanya berada dalam kondisi ranking terbawah dari urutan negara eksportir migas.

Oleh karena itu, lanjut Gde, eksplorasi migas sangat penting bagi penambahan cadangan karena cadangan minyak di Indonesia tersisa 3,6 miliar barel. Maka, untuk menambah cadangan harus dilakukan pengeboran sumur.

"Dari sisi volume kita terbentur cadangan, maka kita kampanye dimana-mana supaya kegiatan eksplorasi ini harus gencar. Tujuannya menambah cadangan," jelas Gde.

Namun, kegiatan eksplorasi saat ini banyak mengalami kendala. Ia mengungkapkan tiga kendala kegiatan eksplorasi yakni perpajakan, perizinan, dan kepastian hukum. "Perpajakan belum beres, peralatan yang masuk masih dikenakan pajak. Kalau perizinan, soal birokrasi. Ada 281 jenis izin yang harus dilalui investor," ujarnya.(saksono)