Mengapa Beralih ke BBG?

Sabtu, 08/03/2014

Mengapa Beralih ke BBG?

Jalanan di Jakarta dan sekitarnya yang acapkali macet, jelas menimbulkan dampak negatif, yaitu menghasilkan polutan atau polusi udara, serta mengakibatkan kerugian yang luar biasa, baik dari segi material maupun non-material.

Kerugian besar , karena kemacetan itu menyebabkan kerugian karena pemborosan bahan bakar, banyaknya waktu produktif yang terbuang, menurunnya daya tahan tubuh hingga memaksa kita mengeluarkan anggaran khusus untuk menjamin ksehatan masyarakat.

“Dengan BBG, tingkat polusi itu akan berkurang drastis,” kata Corporate Communication PT PGN Ridha Ababil. Dia memberi contoh, satu kendaraan bajaj mengeluarkan ongkos Rp 60 ribu per hari untuk BBM. Sedangkan, kalau mereka menggunakan BBG, akan menghemat karena hanya menghabiskan ongkos sebesar Rp 20 ribu. Penghematan itu karena pembelian BBG 1 liter setara premium hanya Rp 3.100.

“Jika dikalikan jutaan kendaraan bermotor, akan ada penghematan luar biasa kan?, bisa mencapai triliunan rupiah,” kata dia. Ridhapun menyesalkan, mengapa masyarakat belum menggunakan BBG yang harganya murah. Sebaliknya, kata dia, justru BBG-nya dimanfaatkan oleh kalangan industri negara lain,” ujarnya.

Dari rilis laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor gas pada Januari 2014 mencapai 2,1 juta ton senilai US$ 1,7 miliar atau setara Rp 19,5 triliun. Sebelumnya, pada Oktober 2013, nilai ekspor gas mencapai 2,1 juta ton senilai US$ 1,5 miliar. Berturut-turut pada November 2013 ekspor gas bertambah sedikit menjadi 2,3 juta ton dengan nilai jual US$ 1,7 miliar, pada Desember nilai ekspor meningkat lagi menjadi 2,7 juta ton senilai US$ 2,04 miliar.

BPS mencatat, saat ini tujuan ekspor gas terbesar ke Singapura, yaitu sebanyak 643.747 ton dengan nilai transaksi US$ 650,8 juta. Berikutnya, ekspor ke Jepang dengan volume 529.261 ton atau senilai US$ 478,1 juta.

Grafik/TABEL

NEGARA-NEGARA TUJUAN EKSPOR GAS

No. Negara Volume (ton) Transaksi (US$)

--------------------------------------------------------------------------------

1. Singapura 643.767 650,8 juta

2. Jepang 529.261 478,1 juta

3. Korea Selatan 389.105 297,8 juta

4. China 250.075 43,6 juta

5. Taiwan 185.312 173,2 juta

6. Malaysia 146.345 61,4 juta

7. Meksiko 108 131 ribu

------------------------------------------------------------------------------

Sumber: BPS

Masih dari data BPS, Sepanjang 2013 produksi gas bumi Indonesia mencapai 6.981 British Thermal unit per hari (BBTUD) atau setara dengan 1,204 juta barel per hari. Sedangkan data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan, pendapatan kotor dari produksi gas bumi dengan harga jual gas US$ 10,26 per mmbtu pada tahun lalu mencapai US$ 23,88 juta.

Berdasarkan sistem kontrak bagi hasil, tidak seluruhnya pendapatan kotor tersebut masuk ke dalam kantong pemerintah. Dari pendapatan kotor tersebut, yaitu US$ 23,888 juta, diberikan kepada perusahaan hulu gas atau kontraktor kontrak karya kerja sama (KKKS) yang memproduksi gas bumi di Indonesia totalnya sebesar US$ 6,121 juta. Pendapatan itu dipotong lagi pengembalian investasi (cost recovey) sebesar US$6,40 juta. Jadi penerimaan negara hanya sebesar US$12,35.

Kebutuhan Transjakarta

Pada 2012, terdapat setidaknya 454 bus Transjakarta yang menggunakan BBG. Dengan konsumsi gas rata-rata per hari sebesar 81 ribu LSP (Liter Setara Premium). Dengan demikian, bus Transjakarta menghemat konsumsi BBM sebesar hampir 81 ribu liter solar per hari untuk seluruh 454 bus. Artinya, ini seperti diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Muhamad Akbar, dalam setahun dapat menghemat 29,6 juta liter solar.

Jika dihitung, kata Akbar, seandainya subsidi BBM adalah Rp 3.000 per liter, maka dalam hitungan kasar ada sekitar Rp 88,7 miliar subsidi yang dihemat Transjakarta per tahun. Penghematan makin bertambah lagi dari penumpang yang berasal dari kendaraan pribadi. Seandainya 22% dari penumpang busway yang pindah dari pengguna kendaraan pribadi diperhitungkan, potensi penghematan subsidi melebihi seratusan miliar dalam setahunnya.

Keberadaan bus Transjakarta setiap hari mampu mengangkut lebih dari 350 ribu orang, jelas memberikan kontribusi positif selama berlalu lintas di jalan raya, yaitu mengurangi kepadatan lalu lintas, menghemat BBM, dan menangkal terjadinya polusi udara.

Program konversi BBM ke BBG sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Pada kesempatan itu, pemerintah membagikan converter kit gratis. Namun program itu tak berumur panjang. Kendati demikian, Transjakarta tetap konsisten menggunakan BBG. Sebab, sejak awal pengadaan bus, selalu disyaratkan hanya mengonsumsi BBG. Yang kekurangan adalah jumlah SPBG yang terbatas, hingga memicu antrean panjang.

“Jika diadakan kembali program pemberian converter kit, kami usulkan sementara diberikan kepada administrasi angkutan umum yang mempunyai trayek tetap,” kata Akbar. Tujuannya, kata Akbar, semata-mata untuk menjamin ketersediaan BBG.

Namun, dia mengingatkan agar pemerintah menetapkan standarisasi jenis tangki yang cocok untuk kondisi Indonesia, serta adanya instansi yang secara ketat menilai kelayakan suatu tangki CNG. “Standar keamanan tangki CNG ini penting, mengingat dampak ledakan tangki CNG yang lebih dahsyat,” kata Akbar. (saksono)