UGM-Universitas Leiden Rintis Program

Sabtu, 08/03/2014

NERACA

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Leiden menandatangani MoU untuk memperpanjang peluang bagi pertukaran mahasiswa dan bekerja sama dalam pembentukan programdouble degree untuk studi ilmu humaniora, kedokteran, dan kehutanan lebih lanjut akan segera dieksplorasi.

"Selama ini yang sudah berjalan adalah program penelitian dan supervisi bersama. Ke depan yang akan dikembangkan ke arah mobilitas mahasiswa kedua universitas," kata Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Pratikno di Yogyakarta belum lama ini.

Usai penandatanganan nota kesepahaman antara UGM dengan Universitas Leiden, Pratikno mengatakan, dengan kerja sama itu diharapkan UGM bisa mewarnai pendidikan Universitas Leiden khususnya untuk studi tentang Indonesia.

Sebab, lanjut dia, Universitas Leiden sangat kuat dalam bidang studi Indonesia yang didukung keberadaaan perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde (KTLV). Salah satu koleksinya adalah buku flora-fauna Indonesia yang ditulis pada abad 19.

"Studi Indonesia di Leiden menjadi tempat belajar mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Kami ingin UGM mewarnai pendidikan di sana dengan memasukkan perspektif UGM dalam pembelajaran di Belanda," ujar Pratikno.

Dengan demikian, tambah Pratikno, jika hal itu terealisasi maka pendidikan tentang studi Indonesia di Leiden bukan lagi berdasarkan perspektif pandangan orang Belanda tentang Indonesia. Tapi juga bisa melihat pandangan orang Indonesia tentang negaranya

Ternyata Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang selama ini dipegang teguh oleh UGM Yogyakarta mampu menarik perhatian Universitas Leiden Belanda

"Rektor Universitas Leiden Carel Stolker tertarik untuk memasukkan KKN PPM sebagai salah satu komponen dalam mata kuliah di kampus tersebut," kata dia.

Menurut dia, program KKN PPM merupakan mata kuliah wajib yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa UGM. Selama dua bulan, mahasiswa mengabdikan diri di tengah masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkannya dari kampus.

"Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu mengasah rasa kemanusiaan, kepekaan sosial, dan menggali pengetahuan dari masyarakat lokal," ujar dia.

Terkait hubungan sejarah dan budaya, hubungan antar universitas dari kedua negara juga dekat. Pusat Pendidikan Belanda (Nuffic Neso Indonesia) memfasilitasi kerjasama ini dari kantor di Jakarta.

Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker, pihaknya senang melihat sebuah universitas Belanda terkemuka seperti Leiden berusaha untuk memperkuat hubungan dengan mitra akademik dan non-akademik di Indonesia. Hal itu sangat berperan penting, mengingat perguruan tinggi di Indonesia saat ini sedang fokus pada internasionalisasi pendidikan tinggi.

"Kehadiran Leiden adalah contoh lain dari meningkatnya minat universitas Belanda dalam memperluas kerjasama di Indonesia," ujar Mervin.