Kemahalan, Investor Waspadai Koreksi IHSG

SALIP BURSA SINGAPURA DAN HONGKONG

Kamis, 06/03/2014

Jakarta – Selama sepekan kemarin, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) terus berada di zona hijau seiring derasnya aksi beli. Bahkan, hingga akhir perdagangan Rabu kemarin, indeks BEI di tutup menguat 57,89 poin (1,26%) ke level 4659,17 seiring dengan meningkatnya sejumlah harga saham. Kondisi ini memberikan dampak positif terhadap investasi reksa dana saham serta unitlink yang ikut terkerek naik.

NERACA

Tercatat, beberapa produk berbasiskan saham seperti reksa dana dan unitlink jika dihitung kenaikan selama dua bulan ini, mengalami kenaikan harga unitlink saham antara 10% sampai 28%. “Saat IHSG mengalami kenaikan signifikan, maka unitlink maupun reksa dana juga akan mengalami kenaikan.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada kepada Neraca di Jakarta, Rabu (5/3).

Namun, untuk seberapa besar kenaikan produk-produk tersebut akan sangat bergantung pada pengelolaan portofolio efek yang dilakukan Manajer Investasi (MI). Memang, dibandingkan dengan regional sendiri, seperti Singapura dan Hongkong (Hangseng), kondisi price earnings ratio (PER) IHSG juga tercatat yang paling tinggi, sekitar 21,34 kali. Oleh karena itu, kata Reza, pelaku pasar perlu mencermati potensi koreksi yang untuk beberapa saham yang tercatat sudah mahal atau berada di area overbought. Apalagi sentimen makro ekonomi global belum terlalu mendukung.

Salah satunya, masalah yang terjadi di Ukraina. “Kalau diperhatikan, memang tidak ada hubungannya dengan kondisi perekonomian Indonesia. Tapi karena pelaku pasar kena imbas panik dan mengkhawatirkan aksi jual akan dilakukan investor asing, mereka pun ikut melakukan aksi jual.” jelasnya.

Bahkan, rilis kinerja keuangan emiten pun tidak mampu menjadi sentimen positif yang dapat bertahan lama karena tergantikan dengan sentimen lainnya. “Potensi kenaikan IHSG sampai dengan akhir bulan ini berada di level 4.680-4.725 sebagai target level atas atau batas resistennya.” ujarnya.

Itu pun, sambung dia, dengan beberapa asumsi. Di antaranya, nilai tukar rupiah berada dalam kondisi satbil, inflasi, dan defisit neraca perdagangan yang membaik. Oleh karena itu, jika kondisinya tidak mendukung dan masih adanya gap IHSG yang dilunasi, Reza memperkirakan, IHSG berpotensi mengalami koreksi hingga di level 4.495-4.586.

Beberapa sektor yang rawan koreksi menurut dia, sektor konsumer, industri dasar, infrastruktur, dan properti. “ Dilihat dari mereka punya chart, kenaikan beberapa harga sahamnya sudah menyentuh batas resistennya.” ucap Reza.

Hal senada juga disampaikan analis pasar modal Budi Frensidy, investor perlu mewaspadai potensi koreksi tajam seiring penguatan IHSG yang sudah memasuki titik jenuh. Kendatipun demikian, dirinya menyakini, hingga akhir tahun ini posisi IHSG bakal tembus ke level 5.000.

Tahun Politik

Namun sebaliknya, IHSG bisa berada di bawah itu yaitu di level 4.500 dengan asumsi tidak ada wajah baru calon presiden untuk Pilpres 2014. ”Namun, apabila ada muka baru dan masyarakat antusias mendukungnya, akan ada efek membuat IHSG melesat ke area 5.000 di paruh kedua 2014,”ungkapnya.

Diakui, faktor politik sangat memengaruhi kondisi pasar keuangan, khususnya pasar saham. Bagaimanapun, nilai transaksi di pasar saham Indonesia masih dimotori oleh nilai transaksi investor asing, meskipun tren transaksi investor lokal juga mulai terlihat dalam tren positif.

Oleh sebab itu, asing akan sangat mencermati arah politik untuk tahun depan. Jika perhelatan pesta demokrasi tahun depan berjalan baik dan menghasilkan pemimpin yang sesuai dengan ekspektasi pasar, ini tentu bisa menjadi faktor positif yang mendorong IHSG ke arah yang positif, demikian sebaliknya.

Secara umum, Budi menilai tahun depan industri properti masih mengalami pelambatan terutama di paruh pertama tahun 2014. Sementara sektor perbankan, khususnya bank kecil akan mengalami kenaikan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan kesulitan likuiditas, sedangkan bank besar hanya mengalami perlambatan pertumbuhan kredit. ”Adapun sektor yang menonjol kemungkinan besar adalah konstruksi, utilitas, dan perkebunan, terutama minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO),” ucapnya.

Harga pasar CPO diprediksi naik sekitar 10% dan faktor menguatnya mata uang dolar AS membuat penerimaan emiten perkebunan yang mengekspor produknya ini meraih keuntungan berganda. Untuk tingkat perusahaan, korporasi yang banyak utang apalagi dalam valuta asing akan menghadapi bunga pinjaman yang relatif tinggi tahun depan.

Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani mengatakan, tahun politik kondisi IHSG akan fluktuatif seiring dengan kondisi dalam negeri maupun luar negeri. Di kondisi dalam negeri, menurut Agus, pemilu ikut memberikan sentimen bagi IHSG. “Jika pemilu berjalan aman maka ikut memberikan sentimen positif bagi IHSG, akan tetapi jika pemilu berjalan tidak lancar maka itu membuat IHSG bisa terkoreksi semakin dalam,”kata Agus.

Namun begitu, dia mengatakan menjelang pemilu, banyak investor yang wait and see. “Pada saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 1998, IHSG sempat turun akan tetapi pada petupan justru mengalami kenaikan. Saat bom di Kedutaan Australia, Kuningan justru mengalami kenaikan indeks. Maka dari itu, perilaku pasar belum efisien. Maka dari itu, menjelang pemilu harus lebih hati-hati lagi,” katanya.

Tak hanya itu, indikasi lainnya yang membuat IHSG akan lebih dari 5.000 diantaranya kepercayaan asing untuk menanamkan uangnya di dalam negeri yang secara historis lebih berorientasi jangka panjang. Hal tersebut menyusul ekspektasi mereka pada makroekonomi Indonesia yang membaik. Menurut dia, pemerintah telah berkomitmen untuk memerhatikan angka inflasi setelah bencana alam yang menyebabkan kenaikan biaya distribusi. “Nilai tukar juga membaik yang menyebabkan suku bunga berpotensi turun,” tuturnya.

Mengenai sektor saham yang berprospek baik pada 2014, Agus memperkirakan saham seperti sektor infrastruktur seperti saham jalan tol yang layak untuk dicermati. Pasalnya tarif tol akan mengalami kenaikan 6-7% sebagai respon kenaikan inflasi. “Sektor pertambangan juga akan berjalan positif meskipun ada aturan pelarangan ekspor mineral mentah akan tetapi kelihatannya pemerintah akan memberikan relaksasi,” tuturnya.

Sementara sektor saham yang patut untuk diwaspadai adalah sektor properti yang sudah mengalami kejenuhan. Di sektor perbankan, sambung Agus, dampak kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) akan terasa dampaknya bagi emiten perbankan mulai tahun ini. Kucuran kredit mereka pasti melambat seiring dengan kenaikannya BI Rate. Tapi, paling tidak masih ada dua saham yang layak dilirik, yaitu Bank BRI dan Bank BTN. “Itu pun karena kinerja mereka ditopang oleh kredit mikro,” tambahnya. lia/bari/iwan/bani