REI Mendesak BI Rate Diturunkan

Rupiah Menguat

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Jakarta - Real Estate Indonesia (REI) mendesak Bank Indonesia agar suku bunga acuan atau BI Rate diturunkan untuk mendorong perbankan mematok bunga kredit pemilikan rumah (KPR) lebih rendah. Wakil Ketua Pembiayaan Perbankan REI, Preadi Ekarto, menjelaskan bahwa dalam kurun setahun belakangan ini perekonomian Indonesia memang terpukul karena pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kondisi ini segera diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan menaikkan BI Rate hingga level 7,5% demi menjaga devisa dan likuiditas di dalam negeri. Langkah itu memaksa bank untuk menaikkan suku bunga kredit, termasuk KPR. Namun kini, nilai tukar rupiah sudah mulai menguat terhadap dolar AS. Oleh karena itu, diharapkan tingkat suku bunga acuan diturunkan.

"Saat ini kondisi perekonomian sudah lebih baik. Kita berharap Pemerintah mulai bisa menurunkan suku bunga acuan," ujar Ekarto seraya berharap, di Jakarta, Rabu (5/3). Kenaikan suku bunga KPR, ia melanjutkan, telah membuat nasabah harus rela membayar lebih mahal cicilan rumah mereka setiap bulannya.

Bahkan, menurut Ekarto, kenaikan suku bunga KPR dari 9%-12% telah berimbas pada penurunan konsumen KPR hingga 20%. "Untuk itu, ada baiknya pemerintah menurunkan suku bunga acuan, sehingga suku bunga KPR akan turun," kata Ekarto.

Nasib konsumen

Sebelumnya, Kepala Penelitian dan Pengembangan Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus mengungkapkan, pertumbuhan penjualan perumahan masih dianggap berat oleh para pelaku pasar. Pasalnya, Pemerintah masih memberlakukan rezim suku bunga tinggi. Sehingga masyarakat masih enggan membeli properti.

“Sepanjang awal tahun 2014 ini pertumbuhan properti masih terlihat sulit. Mengingat BI Rate masih tinggi di level 7,5%. Hal ini membuat masyarakat menjadi pikir-pikir dahulu untuk mencukupi kebutuhannya akan properti,” kata Anton, kemarin.

Dia juga menilai dengan berlakunya rezim suku bunga yang tinggi masyarakat jadi kesulitan membeli produk properti. Terutama untuk segmen kelas menengah ke bawah di perkotaan. Pasalnya, tingginya tingkat suku bunga acuan membuat mahal harga kredit perumahan.

“Karena suku bunga acuan itu juga dikenakan untuk produk KPR BTN. Sedangkan produk tersebut konsumennya sudah tentu masyarakat menengah ke bawah atau end user. Jadi suku bunga tinggi itu bukan hanya menghentikan konsumsi kalangan atas yang umumnya investor. Tapi juga kalangan bawah yang sebetulnya memang punya kebutuhan,” terang Anton.

Lebih dari itu Anton mengatakan pertumbuhan harga properti di Indonesia sepertinya telah melewati masa emas setelah berlakunya rezim suku bunga tinggi. [ardi]