REI Mendesak BI Rate Diturunkan - Rupiah Menguat

NERACA

Jakarta - Real Estate Indonesia (REI) mendesak Bank Indonesia agar suku bunga acuan atau BI Rate diturunkan untuk mendorong perbankan mematok bunga kredit pemilikan rumah (KPR) lebih rendah. Wakil Ketua Pembiayaan Perbankan REI, Preadi Ekarto, menjelaskan bahwa dalam kurun setahun belakangan ini perekonomian Indonesia memang terpukul karena pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kondisi ini segera diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan menaikkan BI Rate hingga level 7,5% demi menjaga devisa dan likuiditas di dalam negeri. Langkah itu memaksa bank untuk menaikkan suku bunga kredit, termasuk KPR. Namun kini, nilai tukar rupiah sudah mulai menguat terhadap dolar AS. Oleh karena itu, diharapkan tingkat suku bunga acuan diturunkan.

"Saat ini kondisi perekonomian sudah lebih baik. Kita berharap Pemerintah mulai bisa menurunkan suku bunga acuan," ujar Ekarto seraya berharap, di Jakarta, Rabu (5/3). Kenaikan suku bunga KPR, ia melanjutkan, telah membuat nasabah harus rela membayar lebih mahal cicilan rumah mereka setiap bulannya.

Bahkan, menurut Ekarto, kenaikan suku bunga KPR dari 9%-12% telah berimbas pada penurunan konsumen KPR hingga 20%. "Untuk itu, ada baiknya pemerintah menurunkan suku bunga acuan, sehingga suku bunga KPR akan turun," kata Ekarto.

Nasib konsumen

Sebelumnya, Kepala Penelitian dan Pengembangan Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus mengungkapkan, pertumbuhan penjualan perumahan masih dianggap berat oleh para pelaku pasar. Pasalnya, Pemerintah masih memberlakukan rezim suku bunga tinggi. Sehingga masyarakat masih enggan membeli properti.

“Sepanjang awal tahun 2014 ini pertumbuhan properti masih terlihat sulit. Mengingat BI Rate masih tinggi di level 7,5%. Hal ini membuat masyarakat menjadi pikir-pikir dahulu untuk mencukupi kebutuhannya akan properti,” kata Anton, kemarin.

Dia juga menilai dengan berlakunya rezim suku bunga yang tinggi masyarakat jadi kesulitan membeli produk properti. Terutama untuk segmen kelas menengah ke bawah di perkotaan. Pasalnya, tingginya tingkat suku bunga acuan membuat mahal harga kredit perumahan.

“Karena suku bunga acuan itu juga dikenakan untuk produk KPR BTN. Sedangkan produk tersebut konsumennya sudah tentu masyarakat menengah ke bawah atau end user. Jadi suku bunga tinggi itu bukan hanya menghentikan konsumsi kalangan atas yang umumnya investor. Tapi juga kalangan bawah yang sebetulnya memang punya kebutuhan,” terang Anton.

Lebih dari itu Anton mengatakan pertumbuhan harga properti di Indonesia sepertinya telah melewati masa emas setelah berlakunya rezim suku bunga tinggi. [ardi]

BERITA TERKAIT

Laju IHSG Sepekan Kemarin Menguat 1,32%

NERACA Jakarta – Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin mengalami kenaikan 1,32% ke posisi 6.591,58 poin dari 6.505,52…

Optimisme Investor Bawa IHSG Menguat 0,24%

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/2) ditutup menguat 16,22 poin seiring…

Nilai Tukar Rupiah Rp13.600, BI : Dinamika Normal

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan depresiasi nilai tukar rupiah Kamis, yang menembus level Rp13.600…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Jika UU Akses Informasi Dibatalkan, Negara Merugi

  NERACA   Jakarta - Mantan Menteri Keuangan RI Muhammad Chatib Basri menyatakan bahwa negara akan mengalami kerugian bila Undang-Undang…

BRI Syariah Kucurkan KPR Sejahtera Rp1,5 triliun

      NERACA   Jakarta - BRISyariah memberikan kemudahan kepada kaum milenial untuk segera memiliki huniah perdananya. Komitmen ini…

Penyaluran Kredit BCA Tumbuh Hingga 12,3%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menumbuhkan penyaluran kredit sebesar 12,3 persen (tahun ke…