Saham Alat Berat Masih Berat Melaju

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Jakarta- Kinerja emiten alat berat sepanjang tahun lalu tercatat kurang menggembirakan. Hal ini lantaran terimbas industri pertambangan yang juga tengah mengalami tekanan. Catat saja, laba bersih PT United Tractors Tbk (UNTR) sepanjang tahun 2013 anjlok 16% menjadi Rp 4,83 triliun. Padahal laba emiten alat berat tersebut sempat menyentuh angka Rp 5,78 triliun pada 2012.

Penurunan laba bersih tersebut disebabkan penurunan pendapatan perseroan pada 2013 yang hanya mencapai Rp 51,01 triliun, atau turun 9% dibandingkan pada 2012 sebesar Rp 55,95 triliun. "Penurunan ini karena adanya penurunan aktivitas pertambangan yang membuat kinerja unit usaha mesin konstruksi dan pertambangan mengalami penurunan," kata Vice President Director United Tractors, Gidion Hasan.

Berkurangnya permintaan alat berat, kata Gidion, khususnya di sektor pertambangan dan perkebunan akibat penurunan aktivitas di sektor terkait. Alhasil, penurunan ini berdampak kepada total penjualan alat berat Komatsu pada 2013 yang turun sebesar 32%, dari 6.202 unit pada 2012 menjadi 4.203 unit pada 2013.

Selain UNTR, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) juga mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Hingga akhir kuartal ketiga tahun fiskal 2013, yang berakhir 31 Desember 2013 mencatat penurunan laba tahun berjalan sebesar 65,21% menjadi US$ 16,91 juta dibanding periode yang sama 2012 senilai US$ 48,61 juta.

Disebutkan, penurunan laba diakibatkan menurunnya penghasilan bersih sekitar 28,12% menjadi US$ 342,8 juta dibanding tahun sebelumnya US$ 476,90 juta. Sementara perseroan berhasil menekan beban pokok penghasilan menjadi US$ 286,13 juta dari US$ 375,85 juta, sehingga laba kotor perseroan pada akhir tahun lalu menjadi US$ 56,68 juta. Angka ini 43,91% lebih rendah dibanding 2012 sebesar US$ 101,05 juta.

Hal yang sama juga dialami PT Intraco Penta Tbk (INTA). Per 30 September 2013 perseroan mencatat rugi komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 164,98 miliar, anjlok dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatat laba sebesar Rp 42,346 miliar. Merujuk laporan rugi laba konsolidasi, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 1,60 triliun sepanjang 2013 hingga September, turun dibanding periode yang sama 2012 sebesar Rp 1,75 triliun. Perseroan mencatat laba kotor sebesar Rp 473,55 miliar per September 2013, naik dibanding periode yang sama 2012 sebesar Rp 420,90 miliar.

Analis Mandiri Sekuritas Hariyanto Widjaya mengatakan, target penjualan alat berat akan berdampak pada pendapatan emiten. Sebab harga alat berat sektor pertambangan bisa empat hingga lima kali lipat dari harga alat berat lainnya. Proyeksinya, penjualan alat berat di 2014 diprediksi berkisar 6.000 unit-6.500 unit, relatif stagnan jika dibanding proyeksi penjualan tahun lalu 6.300 unit.

Stagnansi penjualan alat berat tahun ini, menurut asosiasi, antara lain dipengaruhi harga komoditas, termasuk komoditas pertambangan.“Harga komoditas pertambangan yang belum stabil tahun ini akan mempengaruhi permintaan alat berat di sektor tambang,” kata Pratjojo Dewo, Ketua Umum Himpunan Alat Besar Indonesia (Hinabi). Selain dipengaruhi harga komoditas, dia memprediksi penjualan alat berat tahun ini juga terdampak perlambatan sektor properti.

Ditambahkan Analis Trust Securities Reza Priyambada, diversifikasi yang dilakukan emiten bisa menyeimbangkan pemasukan bagi para perusahaan alat berat. Misalnya, dengan menjadi konsultan pertambangan, masuk di bisnis penyewaan alat berat, kontraktor pertambangan, dan beberapa yang lain."Nilainya mungkin tidak sebanding tapi bisa menjadi alternatif pemasukan," ujarnya. (lia)