Menakar Prospek IPO Bali Tower

Tetapkan Harga Saham Rp400 Per Lembar

Kamis, 06/03/2014

Menakar Prospek IPO Bali Tower

NERACA

Jakarta- Seiring rencana perusahaan yang akan melaksanakan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO), PT Bali Tower Sentral menetapkan harga perdana sahamnya di level Rp400 per saham. Rencananya, perseroan akan melepas sebanyak 88 juta saham ke publik, sehingga dana yang akan diperoleh dari penawaran umum perdana saham tersebut ditaksir sebesar Rp35,2 miliar.

Memang, jika ditilik, angka tersebut terbilang murah dari harga sebelumnya yang diperkirakan mencapai Rp420 per saham. Selain itu, bisnis perseroan dalam persewaan tower, seperti menara Base Transceiver Station (BTS) yang biasa digunakan oleh operator seluler disebut-sebut akan mendukung penawaran sahamnya ke publik pada Maret 2014.

Selain itu, perseroan juga akan menerbitkan 176 juta waran seri I yang mewakili 34,52% dari jumlah saham, di mana akan diberikan kepada pemegang saham baru dengan perbandingan setiap pemilik I saham baru akan memperoleh 2 waran seri I. “Kalau Bali Tower masih perusahaan kecil. Tetapi IPO Bali Tower lebih menarik dibandingkan IPO IMC. Apalagi Bali Towerindo menawarkan waran,” kata Analis Minna Padi Investama, Andre Setiawan.

Namun, berbicara masalah menarik untung dari pasar modal, pelaku pasar tentunya juga akan mencermati track record perseroan, penggunaan dana IPO, dan kondisi pasar itu sendiri. Diketahui, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakang ini bergerak fluktuatif dengan proyeksi bullish jangka pendek. Kembalinya pemodal asing sekitar setengah triliunan dinilai telah membuat IHSG mengakhiri bulan Februari di atas level psikologis 4.600, di mana secara kumulatif dalam dua bulan pertama awal tahun 2014, foreign net buy tercatat sudah mencapai Rp10 triliun.

Tentunya, jika aksi beli ini berlanjut bukan tidak mungkin akan kembali mendongkrak kinerja IHSG ke depan, dan berpotensi mengangkat harga-harga saham di bursa efek. Namun nyatanya, meski berhasil menguat di akhir pekan, namun sepanjang pekan kemarin IHSG masih tercatat mengalami pelemahan sebesar -0,56% akibat aksi profit taking.

Seperti diketahui, selain Bali Tower, ada beberapa perusahaan yang juga akan melepas sahamnya ke publik. Di antaranya, PT Graha Layar Prima (Blitzmegaplex) dan Induk usaha ANTV, PT Inter Media Capital (IMC) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tahun ini. Rencananya, IMC akan melepas 10% kepemilikan sahamnya di triwulan I-2014 melalui skema Initial Public Offering (IPO).

Jumlah saham yang ditawarkan sebanyak-banyaknya 294.116.000 saham baru dan sebanyak-banyaknya 294.116.000 saham divestasi milik PT Visi Media Asia Tbk, atau total sebanyak 15% saham dengan harga di kisaran Rp 1.380 hingga Rp 1.930 per saham. Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya melihat prospek saham ANTV terhalangi oleh harga yang terlalu mahal. "Mengingat dia tidak ada utang bank seharusnya bagus, namun laba bersih menurun di 2013 dan PE cukup tinggi, kategori agak mahal," kata William.

William melihat potensi peminat saham media milik Bakrie tersebut relatif sedikit lantaran harga yang terlalu mahal. "Bisa jadi agak kurang peminat karena cukup mahal, namun jika di market nanti kenyataannya sedikit, yah bisa jadi naik," tutur William.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Visi Sebelumnya, Direktur Utama PT Visi Media Asia Tbk, Erick Thohir mengatakan, perseroan menetapkan masa penawaran umum saham IMC direncanakan 28 Februari 2014 hingga 7 Maret 2014. Bertindak sebagai penjamin emisi adalah PT Ciptadana Securities dan PT Sinarmas Sekuritas. Dana IPO ini rencananya akan digunakan untuk belanja infrastuktur, pembayaran utang VIVA dan modal kerja. (lia)