Perikanan Budidaya Menuju Peningkatan Daya Saing

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Bandung - Produksi perikanan budidaya tahun 2013 ternyata mampu melampaui target produksi yang ditargetkan. Data sementara menyebutkan bahwa produksi perikanan budidaya tahun 2013 mencapai 13,7 juta ton atau 117,8% dari target revisi yang telah ditetapkan sebesar 11,63 juta ton.

“Pencapaian target dan peningkatan produksi ini, salah satunya karena pelaksanakan program industrialisasi perikanan budidaya. Industrialisasi perikanan budidaya telah mampu meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing produk sekaligus membangun suatu sistem produksi yang modern dan terintegrasi dari hulu sampai hilir. Sehingga para pembudidaya bersemangat untuk meningkatkan produksinya karena pasar mampu menyerap hasil produksi para pembudidaya," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, usai memberikan arahan dalam Temu Koordinasi Teknis Perikanan Budidaya, di Hotel Golden Flower Bandung, Jawa Barat, Selasa malam (4/3).

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa dari total produksi tahun 2013 tersebut, budidaya laut menyumbang 7,75 juta ton atau meningkat 34,32% dibandingkan produksi tahun 2012. Sedangkan untuk budidaya air tawar sebesar 3,63 juta ton, meningkat 69.63% dan budidaya air payau sebesar 2,32 juta ton atau meningkat 31,82% dibandingkan dengan produksi 2012.

“Capaian produksi udang, bandeng lele dan rumput laut telah melebihi target yang telah ditetapkan. Tetapi kita harus bekerja lebih keras lagi untuk mencapai target komoditas lain seperti patin dan kerapu. Tahun 2014, target produksi sebesar 13,93 juta ton memerlukan kerja keras, sinergi dan koordinasi semua stakeholder perikanan budidaya untuk mencapainya," tambah Slamet.

Slamet juga mengatakan bahwa tahun 2015 adalah awal tahun untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) periode 2015–2019. Untuk itu perlu ditetapkan isu strategis dalam pembangunan perikanan budidaya ke depan.

“Isu strategis yang ditetapkan adalah Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan yaitu aspek teknologi produksi, aspek sosial ekonomi dan aspek sumber daya alam dan lingkungan. Aspek teknologi lebih fokus kepada peningkatan produksi perikanan budidaya dengan menerapkan teknologi sehingga lebih efisien dan berkualitas. Aspek sosial economi mengangkat isu peningkatan perikanan budidaya dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraaan, penciptaan lapangan kerja dan pemenuhan kebutuhan pasar. Sedangkan aspek sumber daya alam dan lingkungan, titik beratnya adalah menciptakan perikanan budidaya yang ramah lingkungan, perikanan budidaya yang berkalanjutan dan sekaligus pencegahan dan pengendalian penyakit,” papar dia.

Dia juga menuturkan bahwa perikanan budidaya laut atau Mariculture memiliki peluang untuk dikembangkan khususnya perikanan budidaya laut lepas pantai atau off shore. “Kita akan mulai kembangkan budidaya ikan laut (Mariculture) dengan memanfaatkan kawasan-kawasan budidaya yang memiliki potensi. Komoditas yang akan dikembangkan adalah Kakap Putih, Kakap Merah, Bawal Bintang, Kerapu, Rumput Laut, Abalone, Teripang dan komoditas lainnya. Yang perlu ditekankan adalah bahwa ke depan laut merupakan sumber ekonomi dan peningkatan kesejahteraan nasional. Yang perlu disiapkan saat ini adalah regulasi terkait investasi dan kemudahan usaha, pengaturan tata ruang dan zonasi, penyiapan infrastruktur yang memadai, penyediaan benih dan induk unggul, modernisasi sistem produksi berbasis teknologi, penyiapan SDM yang handal, inovasi pengolahan dan pemasaran hasil serta inovasi dan teknologi pengolahan limbah,” ungkap Slamet.

Di samping itu, untuk mendukung ketahanan pangan, perikanan budidaya juga akan terus mendorong peningkatan produksi dan kualitas komoditas air tawar seperti lele, mas, nila dan gurame. “Perikanan budidaya siap menjadi andalan ketahanan pangan karena dapat dikelola produktivitasnya sesuai kebutuhan dan dapat diperhitungkan secara finansial,” ujar Slamet.

Untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, perikanan budidaya akan meningkatkan kualitas produknya.“Untuk mewujudkan hal tersebut dilakukan sertifikasi produk yaitu melalui sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Saat ini sertifikasi CBIB telah diakui oleh lembaga pangan dunia seperti Food Agricultural Organization (FAO) dan juga lembaga sertifikasi Uni Eropa," kata Slamet.

Selain CBIB, perlu dilakukan peningkatan kualitas benih dan induk melalui Gerakan Penggunaan Induk Unggul (GAUL), sehingga produk yang dihasilkan juga berkualitas unggul. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan suatu program Industrialisasi Perbenihan Perikanan Budidaya sebagai bagian dari industrialisasi perikanan budidaya.“Perlu dilakukan pemetaan sentra produsen benih untuk komoditas – komoditas unggulan seperti udang vaname, patin, nila atau bahkan lele, untuk mengatasi permasalahan distribusi benih dari sentra produsen benih ke sentra produksi perikanan budidaya. Selain itu, peningkatan kemampuan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) maupun Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) perlu dilakukan agar mereka mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi benih,” jelas Slamet.