Indonesia Masih Jadi Tujuan Investasi Otomotif

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Jakarta - Mitsubishi Fuso Truck & Bus Corp, unit Daimler AG yang memproduksi kendaraan niaga Fuso akan melakukan ekspansi pabrik di Indonesia. “Daimler yang merupakan pemegang saham mayoritas Mitsubishi Fuso tengah melakukan kajian untuk perluasan investasi dan sudah bermitra dengan Krama Yudha Tiga Berlian (KTB). Perseroan menanyakan startegi untuk mempertahankan pasar di Indonesia dan kami menyarankan agar investasi untuk model-model baru di pabriknya,” kata Direktur Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi di Jakarta, Rabu (5/3).

Indonesia, menurut Budi, masih prospektif sebagai negara tujuan investasi otomotif. Dalam beberapa tahun ke depan Indonesia fokus mengembangkan infrastruktur berupa jalan, pelabuhan, pembangkit listrik, dan bandara.

“Jika Daimler mau investasi atau perluasan memang masih prospektif. Namun, Daimler AG, belum menentukan nilai investasi serta waktu realisasi, tetapi memastikan truk yang akan diproduksi adalah jenis truk baru yang belum pernah diproduksi di Indonesia,” paparnya.

Dalam pertemuan tersebut, lanjut Budi, Daimler selaku pemegang saham Mitsubishi Fuso memastikan akan tetap bermitra dengan PT KramaYudha Tiga Berlian. Jaminan ini disebabkan Krama Yudha selaku distributor Fuso terus memimpin pasar kendaraan niaga dan trend penjualan selama 43 tahun selalu menunjukkan trend positif. “Daimler tetap mempertahankan partner lama karena networknya sudah terbangun,” ujarnya.

Sedangkan Direktur Pemasaran KTB, Rizwan Alamsjah mengakui rencana ekspansi tersebut. Daimler tidak akan membangun pabrik baru tapi melakukan ekspansi pabrik lama. “Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia akan kendaraan niaga. KTB sudah menjadi market leader selama 43 tahun dan sudah melakukan lokalisasi komponen,” tandasnya.

Tahun lalu, Pemerintah menargetkan investasi komponen otomotif dapat menyentuh angka US$1,5 miliar seiring meningkatnya ekspansi 100 pabrikan asal Asia Timur. Tahun depan, investasi komponen otomotif untuk tier I dan tier II dari Asia Timur seperti Jepang, Taiwan serta China diproyeksikan mencapai 100 industri dengan penanaman modal USS 1,5 miliar. "Investasi baru menambah jumlah. industri komponen otomotif dari 1.400 unit pada tahun ini menjadi .1.500 unit di 2013," kata Budi.

Investasi komponen otomotif di Indonesia, menurut Budi, mengalami pertumbuhan yang bagus seiring meningkatnya permintaan kendaraan roda empat dipasar domestik. "Empat tahun yang lalu, industri komponen otomotif Indonesia baru 900 unit, hal ini menunjukkan bahwa pasar otomotif nasional semakin besar. Nantinya, produksi dari 100 industri komponen yang baru akan memasok komponen untuk industri-industri otomotif seperti mesin," paparnya.

Investasi disektor komponen, lanjut Budi, diharapkan didukung dengan peningkatan investasi penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). "Pembangunan R&D sangat dibutuhkan karena produksi untuk 1 buah mobil mampu bertahan dalam kurun waktu 7 tahun hingga 8 tahun. Sementara itu, dibutuhkan riset 3 tahun sampai 4 tahun untuk menghasilkan 1 model mobil baru sampai dipasarkan ke konsumen," ujarnya.

Budi menambahkan, pihaknya terus mendorong pertumbuhan volume penjualan dan pasar mobil nasional. "Kami berharap kondisi tersebut akan menopang skala ekonomis untuk memacu investasi manufaktur mobil maupun komponennya," tandasnya.

Sebelumnya Budi mengungkapkan.kebutuhan .komponen otomotif meningkat, menyusul tingginya pertumbuhan penjualan motor dan mobil di Indonesia. Hal ini memacu investasi industri komponen, yang, diperkirakan mencapai US$ 5 miliar hingga 2014.

Penjualan mobil di Indonesia diproyeksikan mencapai 1 juta unit pada 2013. Penjualan diperkirakan menembus 1,5 juta tahun 2015 atau 2016 dan melejit menjadi 2 juta pa-da 2017.Sementara itu, tahun 2012, penjualan mobil ditargetkan 875 ribu unit. Sedangkan target penjualan sepeda motor nasional sekitar 8,4 juta unit.

Investasi Meningkat

Lebih jauh lagi Budi mengatakan, investasi terus masuk ke industri komponen otomotif di TanahAir. "Saatini, beberapa investor mulai merealisasikan investasinya. Setidaknya ada total US$ 5 miliar (Rp 47,3 triliun, kurs Rp 9.451/dolar AS) yang mengalir hingga 2014, dengan realisasi bertahap. Impor komponen otomotif nantinya ditekan seminimal mungkin," ujar Budi.

Investasi otomotif oleh Toyota, lanjut dia, telah disusul dengan industri komponennya. Demikian pula investasi yang dilakukan Honda Prospect Motor (HPM), disusul dengan investasi oleh 10-15 perusahaan komponen otomotif tier I (inti) dan tier 2 (pelengkap).